ARETTA

ARETTA
TELEPON MISTERIUS #1


__ADS_3

Malam telah datang.


Aretta membaringkan tubuhnya di kasur yang ia beli dengan uangnya sendiri selama tinggal dikosan. Ia memainkan game yang ada diponselnya untuk menghilangkan sedikit kejenuhan setelah seharian bekerja. Namun tiba-tiba ia harus terpaksa menghentikan permainannya, tatkala melihat ada nomor tak dikenal meneleponnya.


"Ya, halo !" Meski ragu, Aretta menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo juga calon istriku !" Suara pria dari seberang telepon dengan penuh percaya diri.


"Siapa ini ?" Aretta bertanya heran karena ia sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya orang yang meneleponnya tersebut.


"Sombong banget sih lo ? Baru juga ditinggal beberapa hari, udah lupa aja !"


"Kalau lo masih nggak mau sebutin nama, gue matiin teleponnya !" Ucap Aretta dengan nada mengancam.


"Gue yang nyulik lo ke cafe beberapa hari yang lalu !" Ucap pria dari seberang telepon akhirnya mengaku.


Deg !


Jantung Aretta berdegup kencang mendengar pengakuan pria tersebut.


"Leo ? Apa mungkin dia Leo ? Darimana dia tau nomor gue ? Apa mungkin Della ? Ah, siapa lagi !" Pikir Aretta.


"Woy, hallooooo ! Ada orang disana ?" Ucap pria tersebut menyadari dirinya diacuhkan.


"Leo ?" Akhirnya Aretta kembali bicara.


"Bukan, gue calon pacar lo !"


"Mulai lagi nih orang !" Aretta bergumam dalam hati.


"Gue nggak berminat !" Jawab Aretta singkat.


"Kalau gue maksa gimana ?"


"Gue nggak peduli !"


"Berarti lo juga mau kan, jadi cewek gue ?" Ucap Leo yang masih merayu Aretta.


"Kepedean lo !" Aretta masih menanggapi ucapan Leo dengan nada ketusnya.


"Hahahaha !" Leo mendadak tertawa.


"Kenapa lo ? Ada yang lucu ?"


"Gue suka aja kalo lo judes gitu. Apalagi kalo liat mukanya ? Pasti gemesin !"


"Nggak usah basa-basi ! Mau apa lo nelepon gue malem-malem ?" Aretta akhirnya bertanya.


"Nggak pa-pa, gue cuma kangen aja sama lo !" Ucap Leo dengan nada lembutnya.


Deg !


"Ya Tuhan, kenapa gue jadi deg-degan gini dengar ucapan nih orang !" Aretta bergumam dalam hatinya .

__ADS_1


"Lo masih disana kan ?" Leo kembali bicara saat ucapannya kembali tidak digubris.


"Hmm" Areta hanya menjawabnya singkat.


"Rasanya, gue pengen selalu ada disamping lo ! Jauh dari lo beberapa hari aja, bikin gue mau mati !"


"Gue nggak akan kemakan rayuan lo !" Aretta kembali dengan nada ketusnya.


"Ini serius ! Nggak tau kenapa, kalau dekat lo itu rasanya nyamaaaan banget. Masalah sebesar apapun pasti akan hilang kalau deket lo !"


Sebenarnya Aretta sangat tersentuh mendengar ucapan Leo. Namun, hati kecilnya masih belum mau terbuka untuk menjalin kedekatan dengan seorang pria.


"Gue nggak peduli lo mau ngomong apa ! Gue ngantuk, mau tidur !" Ucap Aretta yang hampir menekan tombol merah pada ponselnya. Tapi seketika gerakannya terhenti saat Leo kembali bicara.


"Tunggu dulu !" Leo bergegas bicara, karena menyadari Aretta akan menutup teleponnya.


"Apalagi ?"


"Gue cuma mau bilang, kalau gue kangen banget sama lo. Rasanya, gue pengen nemuin lo sekarang. Gue ke kosan lo aja kali ya, sekarang ?" Ucap Leo antusias.


"Nggak usah ! Lo kan lagi di kota C ? Kalo lo kesini sekarang, bakal nyampe jam dua belas malem kali ! Mau lo digerebek sama warga, karena bertamu malem-malem ?" Ucap Aretta menjelaskan.


"Bagus dong, kalo gue digerebek ?"


"Kok bagus ?" Tanya Aretta penasaran.


"Iya lah, kan gue bisa langsung nikahin lo !" Dengan entengnya Leo bicara.


Karena memang saat itu Leo sedang berada di kota C. Dan jarak antara kota C dan kota B tempat Aretta saat itu, memang tidak dekat. Sekitar menempuh waktu tiga jam jika mengendarai sepeda motor.


"Berarti lo juga ngarepin gue kesana ya ?" Leo kembali menggoda Aretta.


"Apaan sih lo ?" Aretta masih dengan suara khasnya.


"Ya udah, lo tidur gih ! Selamat malam calon istriku, jangan lupa mimpiin aku ya ? Emmuach !" Leo menutup sambungan teleponnya secara sepihak setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Sejak kapan dia manggil aku kamu ? Sok manis pula, pake muach-muach lagi ! Hiii, dasar orang aneh !" Aretta berkata sendiri.


Beberapa saat sebelumnya


Leo yang saat itu tengah melepas lelah dikamar kos nya di kota C, tiba-tiba teringat wajah cantik Aretta. Wajah yang selalu tampak garang itu tak henti mengganggu pikiranya. Meski hampir tak pernah terhiasi oleh senyuman, namun wajah cantik Aretta tak bisa disembunyikan.


Akhirnya Leo memberanikan diri menelpon Della dan menanyakan perihal nomor telepon Aretta.


"Ya Leo, ada apa lo nelpon gue malem-malem ?" Ucap Della dari seberang telpon.


"Aretta lagi ngapain ya, Del ?" Tanya Leo pada Della tanpa basa-basi.


"Emang lo pikir, gue emaknya ? Tanya aja sendiri !" Della yang kala itu sedang bertengkar dengan Bony, menjawab telpon dari Leo dengan nada kesalnya.


"Lo kenapa sih ? Gue nanya baik-baik, malah jawabnya judes gitu ?"


"Gara-gara temen lo tuh, Bony."

__ADS_1


"Ya kalo lagi ada masalah sama Bony, jangan marahnya ke gue dong !" Ucap Leo ikut merasa kesal.


"Ya sorry ! Mau apa lo nanyain Aretta ?" Tanya Della suaranya kembali lembut.


"Gue kangen sama Aretta, Del !" Ucap Leo mengaku.


"Lo tanya sendiri, kenapa ?"


"Kan, gue nggak punya nomornya ! Kalo gue punya juga, nggak akan nelpon lo !"


"Ya udah, nanti gue kirimin nomor Aretta."


"Tapi, dia belum tidur kan ?"


"Tadi sih, gue liat belum tidur. Jam segini mah, dia masih maen game !" Tegas Della.


"Ya udah, buruan kirimin nomornya !" Ucap Leo menutup teleponnya secara sepihak.


Tak berapa lama, Della mengirimkan pesan pada Leo yang berisikan nomor telepon Aretta. Tak menunggu lama, Leo langsung menelpon Aretta.


Dikamar Aretta


"Kayanya, gue harus samperin Della ! Berani-beraninya dia ngasih nomor gue tanpa ijin dulu !" Gumam Aretta yang merasa kesal dengan tingkah teman sekaligus manajernya itu.


"Della !" Ucap Aretta melalui ponselnya.


"Apa ?" Ucap Della mengangkat teleponnya.


"Lo ngasih nomor gue ke Leo ?" Ucap Aretta yang merasa kesal dengan Della.


"Ya ampun, Are. Gue kira mau ngapain lo telpon malem-malem. Ternyata cuma nanya gitu doang. Bukan kesini aja langsung ke kamar gue ? Tinggal lima langkah doang juga !"


"Males gue ! Lo jawab aja, jangan mengalihkan pembicaraan !"


"Iya, iya gue ngaku. Gue yang ngasih nomor lo ke Leo. Puas lo ?"


"Biar apa coba ?"


"Biar lo jadian ama Leo lah !" Ucap Della dengan entengnya.


"Dasar si Della ! Lo mau ngejerumusin gue ?" Aretta masih kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.


"Gue cuma pengen lo ngebuka hati lo, Re. Leo tulus kok sama lo ! Gue bisa liat caranya deketin lo ! Dia juga sampe rela buat maksa atasannya buat ikut jadi tamu pas ada kunjungan ke kantor kita !" Della menjelaskan.


"Maksudnya ?"


"Lo tau pas kemaren ada tamu dari pusat yang datang ke kantor kita ?" Tanya Della lagi.


"Ya, kenapa ?"


"Leo bilang ke gue, katanya dia sampe mohon-mohon ke atasan di kantor pusat buat ngajakin dia ikutan jadi tamu. Biar dia bisa ketemu lo !"


Aretta yang mengetahui hal itu, merasa dirinya sangat bersalah kepada Leo. Apalagi mendengar penjelasan dari Della. Bagaimana tidak, baru kali ini ada pria yang sampai rela berkorban banyak untuknya.

__ADS_1


__ADS_2