ARETTA

ARETTA
SURAT BALASAN


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat, secepat itu juga harusnya ibu dan Aretta mencoba bangkit dari keterpurukan.


"Masih banyak yang harus diperjuangkan. Semangat !!!" Aretta menyemangati dirinya sendiri.


Hari itu Aretta bangun lebih awal. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu bagian dalam rumah, luar rumah, mencuci piring, mencuci baju, hingga menjemurnya, serta merapikan warung yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Ibu yang baru datang dari pasar terkejut dengan keadaan rumah yang tak biasa. Ia terheran-heran melihat posisi benda yang sudah berada pada tempatnya.


"Are, ini siapa yang rapiin semuanya ?" Tanya ibu heran.


Sementara itu, Aretta hanya tersenyum tanpa kata.


"Are yang ngerjain ini semua ?" Tanya ibu lagi.


"Iya lah, buu. Anak cantik ibu yang ngerjain ini semua. Siapa lagi emangnya ?" Ucap Aretta dengan suara manjanya.


"Terimakasih ya, cantik. Ibu jadi terharu." Ucap ibu menitikan air mata.


"Sudahlah, bu. Bukan waktunya lagi untuk kita selalu bersedih. Biarlah ayah memilih kebahagiannya sendiri. Dan kita juga harus bahagia dengan cara kita sendiri. Are nggak pa-pa kok bu, kalau harus berjauhan dari ayah. Yang penting, Are bisa sama ibu terus." Ucap Aretta polos.


Mendengar hal itu, ibu langsung meraih bahu Aretta dan mendekapnya erat.


"Udah ya, bu. Mulai sekarang, kita harus semangat !" Ucap Aretta mengepalkan tangannya bersemangat.


"Semangat !" Ibu mengikuti gerakan Aretta.


DISEKOLAH


Aretta duduk masih dibangku kelasnya ketika bel istirahat berbunyi. Dirinya sudah tidak bergairah lagi dengan apapun yang ada dihadapannya. Sampai akhirnya suara anak perempuan membuyarkan lamunannya.


"Aretta !" Ucap anak gadis itu yang tak lain adalah Lala mencoba mengagetkan.


"Eh, kamu Lala." Ucap Aretta bersikap santai.


"Kamu ngelamun ? Lagi mikirin Nino yaaa. . ?" Lala menggoda Aretta.


"Ya ampun Nino ! Aku sampai lupa dengan Nino." Batin Aretta.


"Ah, kamu La. Oh iya, aku bisa minta tolong nggak ?" Tanya Aretta.


"Tentu aja boleh, kamu mau minta tolong apa ?" Ucap Lala yang seolah sudah tau dengan yang akan diucapkan Aretta.


"Aku mau nitip surat buat Nino, kamu bisa bantu kan ?" Ucap Aretta berbisik pada Lala.


"Tentu saja, sini aku anterin." Ucap Lala yang juga berbisik.


Aretta segera mengeluarkan secarik kertas dengan amplop putih polos dan memberikannya pada Lala.


Lala segera meraihnya dan berlari menuju kelas Nino.


Aretta kembali melamun, pikirannya kembali kabur entah kemana, matanya melihat jauh menerawang menembus jendela kelasnya.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba matanya berhenti tertuju pada seorang anak laki-laki yang berdiri didepannya.


"Makasih, Aretta !" Ucap anak laki-laki itu dari luar jendela. Dan segera berlalu.


Beberapa saat sebelumnya


"Nino, Nino, ini ada surat buat kamu !" Ucap Lala yang datang dengan tergopoh-gopoh.


"Mana, Lala ? Sini !" Ucap Nino yang segera mengambil sepucuk surat dari tangan Lala.


Nino kemudian membuka amplop putih polos tersebut, dan membuka sedikit demi sedikit lipatan kertas yang ada didalamnya, dan segera membaca kata demi kata pada secarik kertas tersebut.


**Teruntuk Nino


Aku bingung harus mulai darimana


Yang jelas, aku sangat berterimakasih karena masih ada seseorang yang memperhatikanku.


Bahkan saat aku sama sekali tidak menyadarinya.


Saat ini aku sangat tidak mengerti, apa itu arti cinta yang sebenarnya.


Aku juga belum tau banyak tentangmu.


Tapi, aku ingin mencoba memulai semuanya.


Meski nyatanya, aku sangat sadar.


Tapi aku mau, menjadi teman dekatmu.


Dan berharap, ini bisa menjadikan motivasi bagi kita.


Agar kita bisa semangat belajar.


-Aretta*-


Begitu mengetahui isi surat dari Aretta, Nino begitu kegirangan. Hingga ia berlari memutari kelas, dan akhirnya memutuskan untuk menemui Aretta.


Di kelas Aretta


Aretta hanya tersenyum saat mengetahui, anak laki-laki yang mengiriminya surat itu, memberanikan diri untuk menghampirinya.


Jantungnya berdegup keras saat itu.


Dua orang anak yang masih dibawa umur, yang mencoba untuk melakukan cinta monyet.


Bagi Aretta, meski hanya dengan sekedar bertemu dan tersenyum saja bisa membuat bahagia, maka itulah yang disebut cinta.


Sederhana memang, namun apapun itu yang bisa membuat dirinya lebih semangat, ia akan mencoba lakukan.


Terlebih lagi, saat ini luka hati yang ditorehkan ayah, belum mengering. Saat semua kenangan pahit itu terlintas sedikit saja, maka tidak ada alasan bagi Aretta untuk tidak meneteskan air mata.

__ADS_1


Mungkin dengan mengiyakan permintaan Nino lah, semangat pada diri Aretta akan bangkit kembali.


Bel tanda pulangpun berbunyi. Semua siswa tak terkecuali Aretta berhamburan keluar kelas untuk selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.


Seperti biasa, Aretta pulang bersama Tati. Kali ini ia pulang dengan berjalan kaki, karena mendadak tadi pagi begitu ibu pulang dari pasar, ban sepedanya bocor.


Aretta bercerita dan tertawa sepanjang jalan bersama Tati. Banyak hal yang menjadi perbincangannya sepanjang jalan menuju pulang. Hingga seketika tawa lepasnya terhenti, saat wajahnya menengok ke belakang.


Sosok anak laki-laki yang saat ini telah mengikatkan hati padanya, telah berada tepat dibelakang Aretta.


Aretta hanya tersipu malu mengetahui hal itu, ia tertunduk sepanjang jalan.


Tati yang tidak mengetahui tentang keadaan yang sebenarnya terjadi pada Aretta, merasa bingung dengan sikap Aretta yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam.


"Are, kamu kenapa ? Kok diam aja sih ? Aku salah ngomong ya ?" Tanya Tati dengan perasaan bersalah.


"Nggak pa-pa kok." Ucap Aretta yang masih menunduk.


"Jangan diem aja, dong ! Ngobrol kenapa, biar nggak cape jalannya." Ucap Tati merasa kesal dengan Aretta.


"Nggak pa-pa, Tati. Udah, jalan aja. Aku cuma lagi capek aja." Ucap Aretta sesekali menengok kebelakang.


Sementara itu, Nino yang masih berjalan dibelakang Aretta hanya tersenyum melihat keadaan itu.


Dengan mengumpulkan segenap keberanian diri, ia mencoba menyapa Aretta.


"Hai !" Sapa Nino yang sudah berada disamping Aretta.


"Astaga, dia berada disampingku !" Aretta membatin.


"Hai juga !" Jawab Aretta tersipu malu.


Entah kenapa, setelah berada didekat Nino, jantungnya berdegup cukup keras. Padahal, saat menulis surat semalam, ia hanya asal mengiyakan saja permintaan Nino itu.


"Rumah kamu masih jauh ?" Tanya Nino.


" Iya, lumayan." Jawab Aretta singkat.


"Kalau, rumahku di gang depan nanti belok kanan." Ucap Nino memberi tahu.


"Ooh."


"Makasih ya, Aretta. Kamu mau membalas suratku." Ucap Nino tersenyum.


"Iya, sama-sama." Ucap Aretta yang masih tidak berani memandang wajah Nino.


Sementara itu, Tati yang tak tau apa-apa, hanya diam saja melihat tingkah temannya itu.


"Aku duluan ya, Aretta. Daah !" Ucap Nino berbelok ke arah rumahnya.


Aretta hanya tersenyum mendengar ucapan Nino tersebut. Ia tidak mengerti, kenapa hatinya bisa merasakan hal macam ini. Hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Antara bahagia, takut, serba salah, semuanya bercampur menjadi satu. "Mungkin ini yang dinamakan cinta monyet" pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2