
Diperjalan pulang dari pasar malam, ibu tidak banyak bicara. Selain memendam banyak pertanyaan didalam hatinya, matanyapun mulai berkaca-kaca. Meski sekuat tenaga, ibu mencoba berprasangka baik pada ayah, namun tak bisa dipungkiri, kalau perasaannya merasakan hal yang berbeda.
Sesekali ibu menyeka pipinya.
Tangan kanannya mendekap erat Aretta yang terlelap dipelukannya, sedangkan tangan kirinya memegangi kepala Aretta. Tidak mudah memang, membawa anak yang sedang tidur dengan menggunakan sepeda motor. Meski hanya sebagai pembonceng.
Tak banyak percakapan yang dilakukan ayah dan ibu dalam perjalan pulang. Ayah lebih fokus berkendara, sedangkan ibu masih sibuk dengan pikirannya.
Motor yang dikendarai ayah pun telah berhenti didepan rumah, yang menandakan bahwa mereka telah sampai.
"Biar ayah yang gendong Are, bu." Ucap ayah segera setelah men-standarkan motornya.
Ibu hanya diam dan membiarkan ayah menggendong Aretta. Sementara ibu segera mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku bajunya.
Ceklaaaak
Tak berapa lama pintupun terbuka.
Ayah segera membawa Aretta masuk dan meletakannya di tempat tidur.
Sementara itu ayah bergegas mengganti pakaiannya dan dilanjutkan dengan berbaring ditempat tidur.
"Sungguh hari yang melelahkan." Ucap ayah.
Bagaimana tidak, karena ayah bekerja seharian. Ditambah lagi, harus menepati janji pada anak gadisnya. Tapi meskipun lelah, ayah tidak akan bisa menolak keinginan anak kesayangannya itu.
Sedangkan ibu tidak berkata sedikitpun, bahkan untuk melirik ayah juga tidak.
Pagi harinya
Seperti biasa ibu selalu sibuk dengan rutinitasnya, sedangkan Aretta dan ayah masih lelap tidur. Karena ini adalah hari libur, maka ibu sengaja tidak membangunkan suami dan anaknya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ibu hampir selesai dengan kesibukannya. Hanya sedikit pembeli yang datang jika hari mulai siang.
Karena yang ibu jual adalah sayur dan lauk pauk, maka tidak heran jika warungnya ramai dipagi hari. Sedangkan untuk siang hari, terkadang ibu mengolah sayuran yang tersisa untuk dibikin masakan. Yang selanjutnya untuk dijual lagi atau bisa juga untuk makan keluarga kecilnya. "Sambil menyelam, minum air." Katanya tiap kali ada yang bertanya.
Ibu memang wanita pekerja keras, makanya tidak heran, kalau ibu terkadang sampai kelelahan. Meski begitu, ibu tidak mau sampai ada yang tau tentang lelahnya. Termasuk Aretta dan ayah.
"Masak apa hari ini bu ?" Ucap Aretta ketika melihat ibunya yang sedang sibuk memasak.
__ADS_1
"Eh, anak ibu sudah bangun. Ini, ibu masak sayur asem, tumis kangkung, oreg tempe, sama acar ikan bandeng. Kebetulan ini yang masih sisa, jadi ibu masak aja." Ucap ibu menerangkan.
"Ooh, nggak ada ikan asinnya bu ?" Tanya Aretta lagi.
"Are mau ikan asin emang?" Tanya ibu yang masih sibuk memasak.
"Kan ada sayur asemnya, lebih enak kalau pake ikan asin. Lebih mantul gitu." Ucap Aretta memainkan air liurnya.
"Ya udah, nanti ibu gorengin. Sekarang mandi dulu sana, terus bangunin ayah. Biar nanti kita makan sama-sama." Ucap ibu.
"Baik buu." Aretta berlalu meninggalkan ibu yang sibuk memasak. Ia bergegas mandi dan membangunkan ayahnya.
"Are mau disuapin ayah makannya." Ucap Aretta ketika sudah bersama-sama di menghadapi makanan buatan ibunya.
"Makan sendiri dong, Areee. . . Kan udah gede." Ucap ibu mengambilkan nasi untuk ayah.
Begitulah ibu yang selalu setia melayani ayah, dari dulu sampai sekarang. Bahkan semenjak menikah dengan ibu, hampir tidak pernah ayah makan tanpa dilayani ibu.
"Ya udah nggak papa bu." Ucap ayah membela anaknya.
"Nih, buka mulutnya, a. . ." Ucap ayah lagi, seraya memasukkan satu sendok yang berisikan nasi ke dalam mulut Aretta.
"Oh ya bu, nanti ayah berangkat kerjanya lebih awal ya ?" Ucap ayah sambil mengunyah makanan.
"Kenapa yah ? Kok tumben ?" Tanya ibu.
"Iya, soalnya ada meeting dulu sama komandan. Mengenai rencana perketatan penjagaan. Maklumlah, gudang yang ayah jaga, sudah mulai banyak yang ngincar. Kemaren juga, kunci gemboknya sudah ada yang lepas. Untung barangnya belum ada yang hilang." Ucap ayah menjelaskan sedikit tentang pekerjaannya.
"Emangnya ayah mau berangkat jam berapa ?" Tanya ibu lagi.
"Paling jam empat." Jawab ayah singkat sembari bergantian menyuapi Aretta.
"Oh ya udah, nanti ibu setrikain dulu pakaian ayah." Ucap ibu lagi.
"Ibu kebelakang dulu." Ucap ibu segera berlalu.
Sementara Aretta dan ayah masih makan dengan lahapnya.
" Bu, ayah berangkat dulu ya ? Assalamu'alaikum." Ucap ayah segera berlalu dengan mengendarai sepeda motor yang sudah beberapa hari ini menemani setiap langkahnya.
__ADS_1
Ibu yang kala itu sudah bersiap, segera mengikuti ayah dengan dibantu tetangganya yang kebetulan tukang ojek. Ibu sengaja mengikuti ayah, demi melampiaskan rasa penasarannya. Aretta sengaja ia titipkan kepada neneknya yang rumahnya tidak jauh dari rumah ibu.
Motor ayah melaju melewati jalan raya, bahkan melewati gang tempat kerja ayah sendiri.
"Mungkin meetingnya diluar tempat kerja." Benak ibu mencoba berbaik sangka.
Sampai akhirnya motor ayahpun berhenti disebuah warung makan yang tempatnya lumayan jauh dari tempat kerja ayah.
Tak berapa lama keluarlah seorang wanita paruh baya yang tidak asing bagi ibu. Ya, itu perempuan yang dilihatnya dipasar malam.
Perempuan itu kemudian berjalan mendekati ayah dan segera naik motor yang dikendarai ayah. Tangan perempuan itu melingkar mesra dipinggang ayah.
Hancur rasanya hati ibu melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Bagaimana tidak, pria yang selama ini ditemaninya pada saat susah sekalipun, kini mulai menunjukkan sifat tidak setianya. Namun tidak ada yang bisa ibu perbuat, ibu masih mencoba sabar. Mengikuti motor ayah yang kembali melaju entah kemana. Desa demi desa dilewatinya, hingga motor ayah berhenti disebuah rumah besar tanpa pagar, yang letaknya di sebuah gang sempit.
Ibu pun meminta ojeknya berhenti agak jauh dari motor ayah, itu semua agar dirinya tidak diketahui ayah.
Ayah dan wanita itupun masuk kedalam rumah. Sementara ibu masih menunggu disebuah warung kecil sambil menggali informasi.
"Permisi bu, saya mau tanya. Kalau rumah besar itu yang punyanya siapa ya ?" Tanya ibu pada pemilik warung setelah memesan dua es teh manis.
"Oh itu. . . Yang punyanya ibu Rani, dia seorang janda kaya dengan lima anak. Tapi, saya dengar baru-baru ini dia udah nikah sirih sama seorang security." Jawab ibu penjual es tersebut.
DEG
Jantung ibu berdegup keras, namun ibu masih mencoba bertahan demi menggali informasi lebih banyak dari ibu penjual es tersebut.
"Ibu tau nggak nama suaminya Ibu Rani itu ?" Tanya ibu ramah.
"Nggak tau ya, bu. Belum sempat kenalan saya, lagian suaminya jarang disini." Ucap ibu tersebut.
"Apa yang tadi naik motor sama ibu Rani itu suaminya ?" Tanya ibu semakin penasaran.
"Iya bu bener, yang tadi sama ibu Rani itu suaminya. Bahkan motor yang dipake suaminya juga itu motor bu Rani." Jawab penjual tersebut.
"Sudah cukup !" Ibu membatin. Rasanya, tidak kuat lagi ibu mendengar penjelasan apapun tentang suaminya itu.
Ibupun berlalu pergi meninggalkan area rumah yang didatangi suaminya. Ia bergegas pulang ke rumah. Hatinya benar-benar hancur mendengar semua penjelasan tukan warung tersebut. Orang yang selama ini dicintainya, diperjuangkannya saat susah, telah melempar bangkai ke mukanya.
Aretta, satu-satunya yang dipikirkannya saat ini. Ibu mencoba mengesampingkan semua ego dan rasa sakitnya. Meski terkadang air mata tak bisa pernah berbohong.
__ADS_1