ARETTA

ARETTA
COBAAN PENGANTIN BARU


__ADS_3

Aretta masih terduduk di teras rumah dengan air mata yang tidak bisa dibendungnya lagi. Ia terus meratapi nasib suaminya yang entah akan bagaimana.


"Sabar, mbak. Bibi ngerti perasaan mbak Aretta!" Ucap Bi Surti yang mencoba menenangkan.


Aretta pun memeluk Bi Surti dengan tangis yang masih pecah. Ia tidak tau lagi harus mengadu pada siapa. Hingga pikirannya kembali mengingat ucapan Leo sesaat sebelum kepergiannya.


"Bony! Aku harus telfon Bony, Bi!" Ucap Aretta yang segera berlari menuju kamarnya untuk mencari ponsel Leo.


Ditemukannya ponsel Leo yang tergeletak diatas tempat tidur. Dicarinya nama Bony di daftar kontak Leo. Ia pun segera menelfon Bony setelah menemukan kontaknya.


"Ya, hallo!" Ucap Bony dari seberang.


"Bon, ini gue, Aretta!" Ucap Aretta tergesa-gesa.


"Kok, lo? Ada apa? Leo mana?" Tanya Bony keheranan.


"Itu dia yang mau gue ceritain sama lo, Bon! Leo ditangkap polisi!" Jawab Aretta yang mencoba meredam tangisnya.


"Apa??!!" Bony lebih tidak percaya.


"Iya, Bon. Lo tolongin Leo ya? Sekarang dia ada di kantor polisi XX." Ucap Aretta.


"Oke, sekarang lo tenangin diri dulu! Gue ke kantor polisi XX sekarang! Nanti gue kabarin lagi!" Ucap Bony yang segera menutup sambungan telefonnya.


Aretta pun kembali merenungi nasib suaminya. Pernikahan yang baru seumur jagung, harus mendapat cobaan sebegitu dahsyat.


***


Bony pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia begitu khawatir dengan nasib sahabatnya itu. Tidak lupa ia menelfon pengacara andalannya dan mengajaknya bertemu di kantor polisi yang disebutkan Aretta.


Mobilpun sudah diparkirkan Bony. Ia juga melihat sang pengacara yang sudah menunggu didepan pintu masuk kantor polisi.


"Mari ikut saya, pak!" Ucap Bony kepada pengacara tersebut.


Ia pun bertanya dan meminta ijin kepada petugas yang berjaga untuk bertemu dengan Leo. Petugas itupun setuju dan meminta Bony menunggu sesaat.


Bony pun menunggu Leo di tempat yang sudah disediakan. Didapatinya Leo yang baru keluar dari sel tahanan.


"Ada apa ini sebenernya, Bro?" Tanya Bony yang khawatir dengan keadaan Leo. Karena Leo sudah dimasukkan kedalam sel tahanan.


"Gue juga nggak tau! Yang gue tau, ada polisi yang datang ke rumah gue dan langsung nangkap gue!" Jawab Leo.


"Alasannya?"


"Mereka bilang, gue menggelapkan dana perusahaan. Tapi gue sama sekali nggak ngelakuin itu, Bon! Gue harap lo percaya sama gue!"


"Gue percaya sama lo! Makanya gue bawa pengacara buat bantuin lo! Dan untuk masalah dikantor, biar gue yang selidikin!" Ucap Bony meyakinkan Leo.

__ADS_1


"Thanks, Bon! Lo tau dari siapa gue disini?" Tanya Leo.


"Istri lo yang nelfon gue! Dia keliatan sedih banget!" Jawab Bony.


"Gue nitip Aretta sama lo, Bon! Dia pasti sangat terpukul!" Ucap Leo, ia sangat yakin terhadap Bony, karena sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.


"Oke, Bro! Mungkin besok, gue mau ke rumah lo buat nemuin Aretta!"


"Gue percaya sama lo, Bon!" Ucap Leo menepuk bahu Bony.


Merekapun akhirnya mengobrol dengan sang pengacara membicarakan kasusu Leo dengan serius. Mereka sama-sama tidak ingin, Leo lebih lama didalam sel tahanan. Terlebih lagi bukan karena kesalahannya sendiri.


Bony dengan sang pengacara pun akhirnya pulang, setelah mereka selesai membicarakan kasus Leo.


"Lo yang sabar, Bro! Gue pastiin, lo nggak akan lama disini! Gue balik dulu!" Ucap Bony mencoba menguatkan Leo.


"Thank's, Bon!" Jawab Leo yang mencoba tegar, meski pikirannya sangat kacau.


Bony pun akhirnya meninggalkan kantor polisi, dan kembali ke rumahnya. Ia berpikir keras, siapa sebenarnya orang yang dengan tega memfitnah Leo, sahabatnya. Dipikirkannya satu persatu rekan kerja yang dirasa ada kemungkinan berniat jahat terhadap Leo. Tapi tidak berhasil, tidak ada orang yang dicurigainya menaruh dendam terhadap Leo.


"Mungkin gue harus liat CCTV tersembunyi yang ada diruangan Leo! Itu satu-satunya petunjuk gue sekarang!" Ucap Bony yang sudah membaringkan dirinya di tempat tidur.


Pikiran dan tenaganya cukup lelah karena membantu kasus sahabatnya itu. Hingga matanya sudah tak kuat lagi menahan kantuk. Dan akhirnya Bony pun terlelap.


***


Sementara itu di tempat tinggal Aretta.


"Mbak, Mbak Aretta!" Ucap Bi Surti dari luar pintu kamar.


Tidak ada jawaban dari yang punya kamar.


Bi Surti pun mengetuk pintu sekali lagi, namun tidak juga ada jawaban.


Akhirnya Bi Surti memberanikan diri membuka pintu kamar Aretta yang memang tidak dikunci.


Didapatinya Aretta yang tengah duduk termenung menatap luar jendela dengan pakaian yang sama dari semalam.


"Mbak, sarapan dulu yuk! Bibi udah masakin!"


"Nggak, Bi. Makasih!" Jawab Aretta.


"Mau bibi bawain kesini sarapannya?" Tanya Bi Surti.


"Nggak, Bi! Aku nggak pengen makan!"


"Mbak harus sarapan dulu! Nanti Mbak sakit!" Ucap Bi Surti yang masih membujuk Aretta.

__ADS_1


"Kalo aku bilang nggak mau, ya nggak mau. Kalo bibi mau makan, sana makan sendiri!" Aretta bahkan sampai membentak Bi Surti.


Ini kali pertamanya ia membentak Bi Surti. Bahkan sebelumnya, untuk meninggikan kalimatnyapun ia tidak pernah.


"Maafin saya, Mbak!" Ucap Bi Surti yang hendak meninggalkan Aretta.


"Bi!" Ucap Aretta menghentikan langkah Bi Surti.


"Iya, Mbak!" Bi Surti kembali mendekat pada Aretta.


"Maafin aku, Bi!" Ucap Aretta yang kemudian memeluk Bi Surti.


Tangisnya kembali pecah setelah beberapa waktu ini dia tahan.


"Ia, Mbak. Bibi ngerti, kok. Mbak Aretta pasti syok dengan keadaan ini. Sabar ya, Mbak!" Ucap Bi Surti yang mencoba menghapus air mata Aretta.


Dilihatnya mata Aretta yang menghitam dan wajahnya yang memucat.


"Mbak, kenapa mata mbak hitam gini? Apa mbak tidak tidur semalaman?" Tanya Bi Surti khawatir.


Aretta hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Bi Surti.


"Ya Tuhan, Mbak!" Ucap Bi Surti semakin khawatir, ia pun berniat untuk menelfon dokter langganan Leo yang nomor telefonnya sudah disimpannya.


"Mbak Aretta istirahat dulu di tempat tidur ya?" Ucap Bi Surti.


Aretta pun mengangguk menurut pada Bi Surti dan berbaring ditempat tidur.


Sementara itu, Bi Surti segera memanggil dokter agar memeriksa Aretta. Ia begitu khawatir dengan majikan perempuannya yang terlihat sangat terpukul dengan penangkapan terhadap suaminya.


Bahkan Aretta sampai tidak tidur semalaman. Ia hanya menatap ke arah luar jendela menunggu seakan suaminya pulang malam itu. Tapi apalah daya, sang suami justru harus bermalam di dalam sel yang dingin.


Dokter pun datang dan segera memeriksa Aretta dengan ditemani Bi Surti. Dokter juga memberikan resep kepada Bi Surti untuk segera ia tebus di apotek terdekat.


Bi Surti pun menuruti semua perkataan dokter yang mengharuskan majikannya beristirahat total, serta menjaga pola makannya.


Bi Surti segera mengantar Dokter keluar rumah, setelah dirasa cukup pemeriksaan terhadap Aretta.


Sementara dari dalam kamar, Aretta masih menebak-nebak.


"Siapa sebenarnya yang sampai tega memfitnah Leo? Ada masalah apa? Kenapa harus Leo?"


Hai, hai, haai😍


Maaf kalau ARETTA jadi jarang up ya🤗


Authornya masih ada kesibukan lain didunia nyata, jadi harus menomor duakan ARETTA ini. Jadi, maaf ya🤗🤗🤗

__ADS_1


Sekarang udah up, jangan lupa like, komen dan vote yang banyak😍


Terimakasih😙😙😙


__ADS_2