
Aretta bangun pagi-pagi sekali, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dilihatnya pantulan tubuh polosnya di cermin sesaat sebelum mandi.
"Banyak sekali bekas merah ini? Tapi untungnya tidak dibagian terbuka. Sepertinya Leo mengerti harus melakukannya dimana?" Ucap Aretta saat berdiri didepan cermin.
Ia pun segera membersihkan diri, dan keluar setelahnya dengan kondisi tubuh yang hanya dililit handuk dan rambut yang masih basah.
Diliriknya sesaat kearah Leo.
"Syukurlah dia masih terlelap!" Ucap Aretta merasa lega dan bergegas mengenakan pakaian.
Karena mulai sekarang, ia adalah ibu rumah tangga seutuhnya, jadi ia memilih pakaian rumahan yang dianggapnya nyaman.
Aretta pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Tentunya setelah berpakaian dan memakai riasan tipis-tipis.
Dilihatnya Bi Surti yang tengah sibuk merapikan rumah.
"Beres-beres, bi?" Tanya Aretta menghampiri Bi Surti.
"Iya, mbak. Ada yang bisa saya bantu, mbak?" Tanya Bi Surti.
"Nggak Bi, lanjutin aja! Saya mau bikin sarapan dulu buat Leo!" Jawab Aretta.
"Biar saya saja, mbak. Sebentar lagi juga selesai. Mbak Aretta istirahat lagi aja!" Ucap Bi Surti sopan.
"Nggak pa-pa, bi. Aku udah biasa kok! Lagian, sudah tugas seorang istri untuk melayani suaminya. Iya kan?" Ucap Aretta.
Aretta pun akhirnya membuatkan nasi goreng spesial untuk suaminya. Tidak lupa dengan telor ceplok yang matang disemua bagiannya. Karena Aretta tau betul, Leo tidak suka telor yang dimasak setengah matang. Dibuatkannya juga segelas jus alpukat, agar menambah stamina Leo.
Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, namun belum ada tanda-tanda Leo akan keluar dari kamar. Aretta pun akhirnya berinisiatif untuk menyusul Leo ke kamarnya.
Dilihatnya Leo yang tengah memasangkan dasi sendirian. Aretta pun dengan sigap mengambil alih dasi yang sedang di pegang Leo.
"Aku pasangin ya, sayang?" Ucap Aretta sudah berada dihadapan Leo.
Leo pun hanya menuruti kemauan istrinya, dan menatapinya tanpa henti.
"Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah?" Tanya Aretta tanpa menatap mata Leo sedikitpun.
"Ada!" Jawab Leo singkat.
"Apa?" Tanya Aretta menghentikan gerakan tangannya yang tengah memakaikan dasi.
"Salahnya, karena ini hari senin. Kenapa bukan hari libur lagi? Aku masih sangat rindu, sayang!" Ucap Leo yang sudah menarik pinggang Aretta, hingga menempel pada tubuhnya.
"Aku selesaikan pasang dasinya dulu ya?" Ucap Aretta yang mencoba mengalihkan perhatian.
"Cepatlah!" Jawab Leo.
Aretta pun menyelesaikan tugasnya memasangkan dasi untuk suaminya.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita sarapan dulu!" Ajak Aretta yang hendak menjauh dari Leo.
Namun gerakannya kalah cepat dari Leo yang sudah menariknya kembali hingga ia masuk dalam pelukan Leo.
"Apa kau tidak mau memberikan ciuman selamat pagi?" Tanya Leo yang sudah memegangi dagu Aretta.
Cup
Aretta mencium singkat bibir Leo.
"Sudah ya, ayo segera keluar. Nanti takut telat!"
Namun Leo tidak mempedulikan ucapan Aretta. Ia justru menarik Aretta semakin erat dalam dekapannya dan mencium lembut bibir Aretta. Cukup lama hal itu dilakukannya, hingga aktivitasnya terhenti saat menyadari kalau waktu semakin berjalan, dan ia harus bergegas pergi ke kantor.
"Aku mau sarapan!" Ucap Leo setelah puas menciumi istrinya dan menggandengnya menuju lantai bawah untuk sarapan.
"Pagi mas Leo!" Ucap Bi Surti yang melihat majikannya baru turun dari lantai atas.
"Pagi, Bi. Sarapan apa hari ini, Bi?" Tanya Leo sesaat sebelum menduduki kursinya.
"Tadi mbak Aretta sudah bikin nasi goreng spesial, mas!" Ucap Bi Surti.
"Benarkah itu, sayang?" Tanya Leo mengusap lembut jemari Aretta.
"Iya. Cobain ya!" Ucap Aretta mengambilkan makanan untuk suaminya.
Setelah selesai sarapan, Leo berpamitan pada Aretta.
"Aku berangkat kerja dulu ya? Jaga diri baik-baik! Kalau ada apa-apa, telfon aja!" Ucap Leo.
"Aku antar sampai depan ya?" Aretta menawarkan diri.
"Nggak usah! Lanjutin aja sarapannya! Nanti biar Bi Surti yang nutup gerbang depan." Ucap Leo.
Rupanya ia sangat pengertian dengan istrinya yang belum sempet menyelesaikan menyantap sarapannya.
"Ya udah, ati-ati ya?" Ucap Aretta mencium punggung tangan Leo.
Leo pun cukup terkejut dibuatnya, ia kemudian mencium singkat kening Aretta.
"Oh ya, kalau butuh buat belanja, ambil di lemari ya? Di laci." Ucap Leo bergegas pergi meninggalkan Aretta.
Aretta pun kembali melanjutkan menyantap sarapannya dengan lahap.
***
Dikantor
"Hai, bro! Tambah seger aja muka lo? Ngapain aja weekend kemaren sama istri?" Tanya Bony yang telah melihat temannya memasuki ruangan.
__ADS_1
"Kepo!" Jawab Leo singkat.
"BTW, lo jadi bawa istri lo buat tinggal dirumah lo, kan?" Tanya Bony lagi.
"Iya, jadi." Leo masih terlihat sibuk dengan laptopnya.
"Waaah, enak dong ada istri!" Bony masih mencoba menggoda Leo.
"Makanya nikah! Biar tau rasanya, gimana bahagianya ada istri disamping kita!" Ucap Leo.
Bony yang notabene belum mau untuk membahas pernikahan, merasa sedikit tersinggung dengan ucapan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
"Sial!" Ucap Bony sedikit kesal.
"Lagian, lo kenapa nggak nikahin Della aja sih, Bon? Kalian kan, udah berhubungan cukup lama? Nggak mau gitu, diresmiin?!" Tanya Leo.
"Lo kan tau, kalau gue belum siap nikah! Target gue masih banyak, Le!"
"Terserah lo aja lah! Alasan lama masih lo pake juga! Balik sana ke tempat lo!" Leo malah mengusir Bony.
Namun kali ini Bony tidak tersinggung sedikitpun dengan ucapan Leo. Ia tahu betul, kalau tingkah Leo memang sedikit keras dan cuek. Namun dibalik semua itu, Leo adalah kawan yang baik.
"Oke, gue balik ya. Nanti ceritain ke gue, gimana malam pertama lo! Hahahahah!" Ucap Bony terbahak melihat raut wajah Leo yang memerah akibat ucapannya.
Traaaaaaannngggg
Terdengar suara pecahan gelas dari luar ruangan.
Leo dam Bony pun bergegas keluar mencari asal suara tersebut. Namun mereka tidak menemukan apapun, kecuali gelas dan nampan yang berserakan di luar ruangan Leo.
"Nggak ada siapa-siapa." Ucap Leo yang menatap Bony.
"Iya. Heran gue! Siapa yang mecahin gelas disini?"
"Ada yang nggak beres nih!" Ucap Leo.
"Jangan berpikiran yang macem-macem dulu! Kali aja ada yang nggak sengaja pecahin gelas disini, terus sekarang lagi ngambil sapu buat bersihin." Ucap Bony yang masih berpikiran positif.
"Tapi, kenapa firasat gue nggak enak ya?"
"Udah, jangan terlalu dipikirin! Nanti gue panggilin bagian kebersihan, biar bisa beresin ini semua!"
"Thanks, Bon. Gue masuk dulu!" Ucap Leo yang kembali memasuki ruangannya dengan pikiran yang tidak tenang.
Sementara Bony menuju ruangannya dan menelpon bagian kebersihan untuk membersihkan bekas pecahan gelas didepan ruangan Leo.
Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya๐๐๐
Terimakasih๐๐๐
__ADS_1