ARETTA

ARETTA
PEMBUKTIAN


__ADS_3

Jejaknya dulu dongπŸ€—


Biar author makin semangat up nya.


Like, komen, rate5 dan vote😍😍😍


Happy reading


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aretta sudah sibuk didapur dengan mempersiapkan makanan. Guna menyambut keluarga Leo yang akan datang menemuinya. Aretta memasak sebisanya, menu makanan sederhana yang ia buat dengan tangannya sendiri.


"Kamu serius mau masak sebanyak ini?" Ucap Karin yang baru keluar dari kamarnya. Ia melihat beberapa bahan masakan berserakan di meja makan.


Kebetulan letak meja makan memang menyatu dengan dapur, jadi wajar saja kalau Aretta meletakkan bahan yang akan dimasaknya diatas meja makan.


"Iya, kenapa?" Aretta balik bertanya.


"Memangnya mau sebanyak apa yang akan datang?" Karin masih bersikap sinis.


"Mungkin satu mobil." Aretta menjawab enteng.


"Paling juga mobil sewaan!" Karin berlalu menuju kamar mandi.


"Mau mobil sewaan atau mobil siapa juga emang apa masalahnya?" Gumam Aretta sambil terus mengiris beberapa bahan masakan.


"Hai!" Ucap Leo yang sudah berada dibelakang Aretta. Ia bahkan berani mencium pipi Aretta.


"Jangan macem-macem disini! Lo belum tau kalau ayah marah?" Aretta berucap dengan menekan suaranya serendah mungkin, agar tidak didengar oleh siapapun.


"Terus, gue boleh macem-macemnya dimana dong?" Leo mengambil kursi disamping Aretta dan membuat posisi saling berhadapan.


"Lo udah gila apa?"


"Lo yang udah bikin gue gila!" Leo menyanggah kepalanya dengan tangannya dan tidak berhenti menatap Aretta.


"Daripada lo ngigau nggak jelas, mending lo bantuin gue. Nih iris sayuran!" Aretta meletakkan beberapa sayuran dan pisau serta talenan dihadapan Leo. Memaksa pria itu melakukan pekerjaannya.


Leo hanya mengikuti keinginan Aretta dengan segera melakukan yang diperintahkan Aretta.

__ADS_1


Ia memotong sayuran dengan terus tersenyum.


Sementara Aretta sedikit menjauhkan posisinya dari tempat duduk Leo. Ia memalingkan wajahnya yang memerah karena dicium Leo tadi.


"Lo bener-bener cowok yang nggak waras, Leo! Bahkan lo berani cium gue disini!" Gumam Aretta sambil tersenyum sendiri.


"Masak apa, Aretta?" Ayah datang menghampiri.


"Ini yah, bikin gulai ayam, sambel goreng kentang, sama capcay!" Aretta menjawab sambil mengaduk masakan.


"Bukannya lebih baik pesen ketring aja biar nggak harus repot?" Ayah memberi saran.


"Rasanya, kurang istimewa yah. Masa mau nyuguhin calon mertua pake masakan orang?" Aretta berkata dengan menatap Leo penuh arti.


"Iya, om. Orang tua saya juga pasti akan lebih senang makan masakan calon menantunya!" Leo juga membalas tatapan Aretta dengan senyumnya.


"Ya sudah terserah kalian saja." Ayah berlalu meninggalkan Aretta dan Leo yang masih saling tatap.


Leo masih menghiasi wajahnya dengan senyum kebahagiaan. Ia sepertinya puas mendengar jawaban Aretta yang mulai berani mengatakan bahwa orang tuanya adalah calon mertua.


"Awas tuh masakannya gosong!" Karin keluar dari kamar mandi dan langsung berucap sinis pada Aretta karena mendapati anak tirinya itu masih saling bertatapan dengan prianya.


"Tenang aja kali!" Aretta menjawab santai.


"Nggak sopan lo sama ibu tiri!" Leo berucap dengan masih menatap tajam mata Aretta.


"Ibu tiri yang tidak diharapkan itu mah!" Aretta masih sibuk pada masakannya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Aretta sudah menyelesaikan masakannya dan sudah berdandan serapih mungkin. Ia masih berdiri didepan cermin, menatapi dirinya yang sudah terbalut gaun selutut berwarna merah muda. Dengan rambut yang diikatnya sebagian kebelakang, membuatnya semakin terlihat cantik natural.


Tok, tok, tok


Pintu kamar Aretta diketuk.


"Iya!" Aretta membuka pintu.


Leo tertegun saat melihat Aretta telah membuka pintu kamarnya. Ia bahkan sampai tidak bisa berkata apapun melihat gadisnya yang sudah berdiri dengan anggunnya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Aretta yang menyadarkan lamunan Leo.


"Gu...gue cuma mau ngasih tau, kalau ortu gue udah ada didepan." Leo berucap sampai terbata.


"Oh ya? Kenapa lo masih disini? Ayo kita keluar!" Aretta bergegas keluar, bahkan ia sampai reflek menggandeng tangan Leo.


Leo yang masih terpaku dengan kecantikan Aretta hanya mengikuti arah langkah gadisnya itu. Sementara diruang tamu sudah berkumpul kedua keluarga. Mereka bahkan sampai terkejut melihat Aretta yang sudah menggandeng tangan leo dengan mesra.


"Wah, sepertinya kita harus segera menentukan tanggal pernikahan. Liat saja, mereka berdua sudah lengket terus gitu!" Ucap ibu Leo.


Sementara itu, Aretta segera melepaskan tangannya yang masih menempel pada tangan Leo. Mereka berdua sama-sama terlihat malu dengan tingkahnya sendiri.


Aretta segera menyalami keluarga Leo satu persatu, dan mengambil posisi duduk disebelah ayah setelahnya. Begitu juga Leo, ia melakukan hal yang sama dengan Aretta dan mengambil posisi duduk diapit kedua orang tuanya.


"Ijinkan kami menyampaikan maksud kedatangan kami kemari!" Ucap ayah Leo.


"Silahkan!" Ayah Aretta mempersilahkan.


"Jadi, kami bermaksud ingin melamar anak bapak dan ibu, Aretta. Untuk menjadi istri dari anak kami, Leo!" Ayah berbicara sangat tegas.


"Maaf Pak, untuk menjalin suatu pernikahan, bukan hanya bermodalkan cinta." Karin dengan sangat berani mengucapkannya.


"Ibu tenang saja! Leo ini seorang manajer di suatu perusahaan yang ada di kota C. Ia juga sudah memiliki rumah pribadi yang dibangun dengan uangnya sendiri. Mobil yang kita pakai sekarang juga milik Leo. Jadi bapak ibu tidak usah khawatir dengan masalah ekonomi." Ibu Leo ikut menjelaskan.


Seketika wajah Karin memerah menahan malu. Ia bahkan tidak berani berkata lagi.


"Lo serius udah sematang itu mempersiapkan semuanya? Gue bener-bener nggak nyangka!" Aretta bergumam dengan mata yang menatap kearah Leo.


"Kalau saya, terserah anak saya saja. Toh, nanti yang menjalaninya anak saya sendiri. Bagaimana Aretta?" Tanya ayah memegang tangan Aretta yang membuatnya tersadar.


"Eh, ehm... saya....saya terima lamaran ini!" Aretta menunduk malu mengatakannya.


Sementara dua keluarga itu bertepuk tangan saat mendengar ucapan Aretta. Mereka merasa lega karena telah mendapatkan jawaban yang diharapkan.


"Kalau gitu, kita tentukan saja tanggal pernikahannya dari sekarang. Jangan menunggu waktu lama untuk memutuskan hal baik!" Ucap ayah Leo.


Kedua keluargapun akhirnya mencari hari yang dianggap baik. Agar masing-masing dari kedua keluarga hadir diacara pernikahan kelak. Tidak lupa Leo menyematkan cincin kepada jari manis Aretta, sebagai tanda kalau gadis itu sudah ada yang mengikat.


Acarapun dilanjutkan dengan makan-makan. Kali ini Aretta banyak mendapat pujian karena hasil masakannya yang sangat memanjakan lidah.

__ADS_1


"Leo memang tidak salah telah memilih kamu, nak! Selain wajahmu yang cantik, ternyata kamu juga pandai memasak. Pasti nanti Leo makin gendut aja, karena tiap hari kamu masakin!" Ibu Leo memuji Aretta dengan memeluk lembut calon menantunya itu.


Sementara Aretta hanya tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan calon mertuanya itu. Kali ini, ia benar-benar hanya bisa tersenyum malu, mendapat perlakuan dari keluarga Leo yang tak henti memujinya.


__ADS_2