
Hari itu seperti biasa Aretta pulang sekolah bersama Tati. Akhir-akhir ini, Aretta lebih suka berjalan kaki daripada mengendarai sepeda. Mungkin karena beberapa alasan yang hanya ia saja yang tau.
Tapi seketika langkahnya terhenti saat mengetahui orang yang sangat dikenalnya telah berdiri tepat di depan pintu gerbang sekolah.
"Ayo pulangnya pake motor ayah, biar nggak cape. Tati ikut ya !" Ucap orang yang tak lain adalah ayah ketika mengetahui anaknya melangkah melewati gerbang.
Aretta tidak punya pilihan lain selain mengikuti ayahnya. Karena sebetapapun ia membenci, tapi tidak akan ada yang bisa merubah takdir, kalau orang yang ada dihadapannya saat itu adalah ayahnya.
"Are duduknya mau didepan atau dibelakang bareng Tati ?" Tanya ayah.
"Dibelakang aja !" Ucap Aretta yang masih menekuk mukanya.
Saat ini Aretta sudah berusaha kuat untuk hidup tanpa sosok ayah, tapi usahanya sia-sia. Karena orang yang ingin dilupakannya, kini selalu hadir menghampirinya.
"Nanti kita beli es krim dulu, yaa." Ucap ayah sambil memutar gas motornya melaju pulang.
Sedangkan tanpa disadari, disudut gerbang ada sepasang mata yang mengawasi kepergian Aretta dengan beribu kekecewaan.
Beberapa saat sebelumnya di jam istirahat
"Are, nanti kita pulang bareng ya ? Aku tunggu di gerbang" Ucap seorang anak laki-laki dari luar jendela kelas Aretta yang tak lain adalah Nino.
"Mau apa emangnya ?" Tanya Are dari dalam kelas dengan tersipu malu.
Aretta dan Nino memang mempunyai cara mengobrol yang berbeda. Mereka lebih memilih membatasi diri dengan jendela kaca yang ada dikelas Aretta. Nino memilih diam di luar kelas, sedangkan Aretta lebih memilih duduk didalam kelas. Tempat duduk Aretta yang posisinya dipinggir jendela, memang tidak sulit untuk melakukan hal itu.
"Nggak pa-pa, cuman pengen pulang bareng aja." Ucap Nino saat itu.
Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh anak sekolah dasar yang mengalami 'cinta monyet'. Bagi mereka, hanya dengan melihat orang yang dicintai saja, sudah membuat bahagia. Dan tidak pernah berharap lebih dari itu.
"Ooh." Aretta memonyongkan bibirnya.
"Kenapa ? Kamu nggak mau pulang denganku ?" Tanya Nino yang belum puas dengan jawaban Aretta.
"Rumah kita kan searah, jadi tanpa dipintapun, kita bisa pulang bareng terus." Ucap Aretta yang masih tidak berani memandang wajah Nino.
"Tapi kan, ada banyak jalan dari sini ?" Tanya Nino lagi.
"Iya juga sih." Aretta tersenyum.
__ADS_1
Melihat gadis yang disukainya tersenyum, Nino merasa bahagia, dan membuat jantungnya dag dig dug.
"Ya sudah, kita ketemu di gerbang ya. Kalau aku belum keluar, kamu jangan pulang dulu !" Ucap Nino.
"Iya Nino." Ucap Aretta yang selalu merunduk jika berbicara dengan Nino.
Dengan ayah
Ayah menghentikan laju motornya dan segera memarkirkan disebuah toko yang menjual es krim.
"Ayo kita beli es krim dulu !" Ucap ayah mengajak Aretta dan Tati.
Dengan segera, merekapun turun dari motor dan menuju toko es krim, kemudian mengambilnya masing-masing satu.
Merekapun segera berlalu setelah mendapatkan es krim yang diinginkan.
"Are mau beli ayam bakar dulu nggak ?" Tanya ayah masih sambil mengendarai motor.
"Terserah !" Jawab Aretta ketus.
Sebenarnya Aretta sangat ingin memakan makanan kesukaannya itu. Tapi karena egonya yang masih belum mau memaafkan ayah, membuatnya bersikap tidak semanis dulu ketika semuanya belum berubah.
"Ya udah, kita anterin Tati pulang dulu. Nanti abis itu, kita cari ayam bakar." Ucap ayah yang masih mengendarai motor.
"Ya sudah, kita pulang dulu aja yaa ?" Ucap ayah yang kemudian fokus mengendarai motor tanpa bertanya lagi.
Sesampainya di rumah
Ibu setengah kaget mengetahui Aretta yang pulang dengan ayahnya.
"Bu, Are mau dibawa ke pasar dulu yaa ?" Ucap ayah sesampainya mereka di rumah ibu.
"Mau apa memangnya ?" Tanya ibu penasaran.
"Mau jalan-jalan aja, sambil nyari ayam bakar." Jawab ayah santai.
Sementara itu, Aretta yang baru pulang sekolah segera bergegas berganti pakaian. Meski sebenarnya ia males mengikuti kemauan ayahnya, namun apa boleh buat. Dirinya tidak memiliki kuasa lebih banyak untuk menolak.
Motor yang dikendarai ayah dan Aretta melaju membelah panasnya aspal jalan raya siang hari. Hingga akhirnya berhenti disebuah kedai yang menjajakan ayam bakar yang telah dijanjikan ayah.
__ADS_1
"Are mau berapa ayamnya ?" Tanya ayah pada Aretta sesampainya di kedai.
" Terserah aja." Ucap Aretta datar.
"Ya udah, ayah pesenin dua yah ? Biar masing-masing satu sama ibu."
Aretta memilih untuk diam dan duduk di bangku yang ada dikedai tersebut, ketimbang menjawab pertanyaan ayah.
"Are kenapa ? Kok ayah perhatiin, Are ngomongnya ketus terus sama ayah ?" Tanya ayah saat duduk disebelah Aretta setelah memesan dua potong ayam ke pengelola kedai tersebut.
"Nggak pa-pa." Jawab Aretta singkat.
"Ayah tau, ayah salah. Ayah minta maaf untuk itu. Tapi ayah sangat ingin kita bisa sama-sama kaya dulu lagi." Ucap ayah membujuk Aretta.
Ternyata ucapan ayah tersebut tidak sia-sia. Karena saat mendengar ucapan tersebut, Aretta langsung menatap ayah lekat-lekat.
"Ayah serius ?" Tanya Aretta penasaran.
"Dua rius, bahkan seribu rius !" Ucap ayah sembari mengacungkan dua jarinya.
"Serius ayaaaaahh !"
"Ayah lebih serius justru. Ayah ingin kita bisa sama-sama kaya dulu lagi. Ayah merasa ada yang kurang saat jauh dari Are. Nggak tau kenapa ?" Ucap ayah lagi.
"Ayah udah ngomong sama ibu ?" Tanya Aretta.
"Udah, tapi ibu belum ngasih jawaban. Makanya, Are bantuin ayah, yaa ? Bujuk ibu agar bisa menerima ayah kembali !" Ucap ayah membujuk Aretta.
"Pasti Are bantuin yah ! Nanti Are yang akan ngomong sama ibu. Tapi, kita harus melakukan beberapa hal. Dalam hal ini, kita harus bekerjasama." Ucap Aretta bersemangat.
" Maksudnya ? Ayah nggak ngerti !" Tanya ayah yang merasa kebingungan dengan ucapan anaknya tersebut.
"Sini Are bisikin !" Ucap ayah memajukan wajahnya mendekati telinga ayah.
Aretta kemudian membisikkan suatu kalimat ke telinga ayahnya. Sang ayah hanya mengangguk sambil sesekali tersenyum mendengar rencana yang ada dipikiran anaknya tersebut.
"Ayah mengerti ?" Tanya Aretta setelah selesai membisikkan beberapa kalimat kepada ayah.
Ayah hanya menjawab dengan acungan jempol diiringi senyum sumringah yang menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Tak berapa lama, ayam bakar yang dipesan mereka telah selesai dibuat. Ayah segera membayar dan bergegas meninggalkan kedai tersebut.
Disepanjang jalan menuju rumah, tak henti-hentinya ayah menghiasi senyum di wajahnya. Memikirkan rencana yang telah disusun anaknya demi mempersatukan kembali kedua orangtuanya. Ayah tidak menyangka, kalau anaknya bisa mempunyai pikiran seperti itu. Hatinya cukup senang, telah mendapatkan support dari anak kesayangannya.