ARETTA

ARETTA
KABAR DARI AYAH


__ADS_3

**Bantu author biar makin semangat up yaa. . .


Meski harus begadang untuk bikin tiap episode nya


Jangan lupa jejak like, komen, rate dan vote sebelum membaca.


Happy reading😍😍😍**


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Ditengah pikirannya yang masih bingung memilih antara Leo dan Nino, tiba-tiba ponsel Aretta kembali berbunyi. Menandakan ada panggilan masuk.


Ayah


Nama si penelpon yang tertera pada layar.


Segera ia menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Assalamu'alaikum!" Ucap Aretta lembut.


"Wa'alaikumsalam. Aretta apa kabar?" Sapa ayah dari seberang telepon.


"Baik, yah. Ayah apa kabar?"


"Ayah juga baik. Gimana kerjanya, lancar?"


"Lancar, yah. Ayah sendiri gimana kerjanya? Masih banyak maling nggak di gudangnya?" Aretta balik bertanya.


"Maling mah ada aja, tapi sebisa mungkin kita harus berjaga dan selalu waspada."


"Oh ya, ayah tumben telpon malem-malem?"


"Sebenarnya ada yang pengen ayah omongin!" Ucap ayah serius.


"Mau ngomong apa, yah?" Aretta penasaran.


"Nenek sakit, sekarang dirawat. Tadi nanyain Are terus. Are bisa pulang nggak besok? Ayah takut terjadi apa-apa sama nenek." Ayah menjelaskan dengan sangat pelan.


"Ya ampuuun, besok Are pasti pulang yah! Ayah tungguin Are yah di rumah? Nanti kita ke rumah sakitnya bareng!"


"Ya udah, ayah tunggu di rumah, ya?"


"Iya, yah!"


"Ya udah, Are sekarang istirahat. Assalamu'alaikum." Ayah menutup teleponnya.


Pikiran Aretta semakin tidak karuan. Saat itu ia hanya memikirkan neneknya. Nenek yang dulu selalu ada saat ia berada dititik terendah dalam hidupnya.

__ADS_1


Del, gue besok ijin nggak masuk. Nenek gue sakit keras. Gue harus pulang besok.


Isi pesan yang diketik Aretta untuk Della. Meski Della adalah sahabatnya, tapi Aretta tetap menghargainya sebagai manajer. Jadi, ia memutuskan untuk mengirim pesan ke Della malam itu. Karena besok Aretta takut tidak sempet mengabari Della.


Di kota A


"Nenek gimana, yah?" Tanya Aretta begitu melihat ayahnya sedang gelisah di depan ruang ICU.


"Ayah juga nggak tau. Lebih baik kita sekarang berdoa, minta yang terbaik sama Sang Kuasa." Ayah mencoba tetap tenang, meski ia juga merasa sangat khawatir.


"Disini ada yang namanya Aretta?" Ucap dokter yang baru keluar dari ruang ICU.


"Saya, dok!" Aretta langsung berdiri dari duduknya.


"Dari tadi nenek menyebut nama Aretta terus. Lebih baik anda ikut saya masuk." Ucap dokter dengan tergesa-gesa.


Aretta pun mengikuti dokter masuk ke ruang ICU tanpa berpikir panjang.


"Nek, ini Aretta!" Aretta langsung memegang tangan nenek.


"Aretta, Aretta!" Nenek masih saja menyebut nama cucu kesayangannya itu.


"Iya, nek. Aretta disini!"


"Aretta cucu nenek?" Suara nenek dengan napas yang sudah tidak beraturan.


"Iya, nek."


"Iya, nek. Apapun itu, akan Are lakuin. Yang penting nenek sembuh ya?" Air mata Aretta sudah tidak bisa terbendung lagi.


"Ne. .nek. .i. .ngin. .li. .hat. .kamu. .senyum" Pinta nenek.


Meski berat, Aretta berusaha tersenyum.


Nenek ikut tersenyum melihat cucu kesayangannya tersenyum.


"Ber. .jan. .jilah. .untuk. .se. .lalu. .ter. .senyum." Pinta nenek lagi.


"Aretta janji, nek. Aretta akan selalu senyum dan nggak akan pernah nangis lagi." Aretta meyakinkan nenek. Meski sekarang senyumnya menyatu dengan tangis.


Tak berapa lama setelah mendengar ucapan Aretta tersebut, nenek menarik napas panjang, dan menghembuskannya pelan.


Nenek meninggal.


Suasana di ruang ICU mendadak pecah. Suara tangis saling mengiringi kepergian nenek. Begitu juga dengan Aretta, ayah, dan Karin.


Flashback on

__ADS_1


Malam itu setelah ibu memutuskan untuk benar-benar mengakhiri hubungannya dengan ayah, ayah langsung bergegas pergi. Tapi kali ini tidak langsung pulang ke rumah nenek. Melainkan menemui Karin yang terbaring lemah di rumah sakit karena percobaan bunuh diri.


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada Karin? Sampai ia hampir kehilangan nyawanya?" Ucap ibu tua yang tak lain adalah orang tua Karin saat mengetahui ayah datang ke rumah sakit.


"Saya tidak pernah melakukan apapun pada Karin. Saya berani bersumpah!" Ucap ayah yang tidak merasa akan tuduhan yang diarahkan padanya itu.


"Saya nggak mau tau, pokoknya kamu harus tanggung jawab!!!" Ibu tua itu mencengkeram kerah baju ayah.


"Apa yang mesti saya lakukan? Saya benar-benar tidak bersalah!" Ayah membela diri.


"Kamu harus menikah dengan Karin sekarang juga!!!" Ibu tua itu masih mencengkeram kerah baju ayah.


"Apa?! Bahkan saya tidak mencintai Karin sama sekali!"


"Aku nggak peduli!! Detik ini juga, kamu harus menikah dengan Karin. Coba lihatlah, karena ulahmu, anakku harus menanggung akibatnya!" Ibu menyeret ayah agar menyaksikan keadaan Karin yang berada di ruang rawat.


Saat itu kondisi Karin benar-benar memprihatinkan. Berbagai alat medis terpasang ditubuhnya. Demi mempertahankan nyawanya yang hampir ia relakan untuk ayah.


Batin ayah sangat terpukul melihat hal itu. Bagaimana tidak, seseorang yang tidak ia cintai sama sekali, rela mengorbankan nyawanya. Meski masih bisa tertolong.


"Baiklah, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi Karin." Ucap ayah akhirnya setelah beberapa saat berpikir.


"Baiklah, aku akan mengurus pernikahan kalian besok pagi. Awas saja kalau kamu berani kabur!!!" Ibu tua itu mengancam.


Akhirnya, dengan sangat terpaksa, ayah harus menikah dengan Karin. Perempuan yang tidak ia cintai.


Flashback off


Hari itu setelah dokter menyatakan, kalau nenek sudah tidak bernyawa, ayah langsung mengurus pemakaman nenek. Nenek berpesan kepada ayah, agar memakamkannya disamping kakek.


Beberapa kerabat yang mengetahui meninggalnya nenek, telah hadir dipemakaman. Begitu juga dengan Aretta tentunya.


Kali ini ia mengenakan pakaian serba hitam dengan kacamata hitam pula. Meski demikian, itu tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.


"Saya turut berduka cita Pak Kasim." Ucap seorang pria yang bertubuh tinggi namun tidak terlalu tampan. Usianya sudah cukup berumur dibanding Aretta yang masih dua puluh tahun.


"Terimakasih, Ken!" Ayah menyebut nama pria tersebut.


Ken kemudian berdiri disamping Aretta yang berada dalam pelukan ayah, sambil sesekali melirik wajah cantik Aretta yang tertutup air mata.


Aretta begitu terpukul dengan meninggalnya nenek. Sosok yang menurutnya selalu ada saat ia kesulitan. Entah bagaimana caranya, tapi setiap Aretta bersedih, nenek selalu menemuinya. Saat Aretta masih tinggal di kota A.


"Ikhlaskan kepergian nenek, jangan terlalu bersedih! Nanti nenek ikut sedih disana!" Ucap ayah mencoba menenangkan Aretta yang masih dalam pelukannya.


Aretta tidak menjawab. Hanya terdengar isak tangis yang keluar dari bibirnya.


"Kenapa nenek pergi secepat ini? Bahkan, Are belum sempet untuk membahagiakan nenek? Maafin Are, nek! Are memang cucu yang tak berguna! Are sayang nenek!" Aretta membatin dalam hatinya. Pikirannya semakin tidak karuan, pandangannya mulai kabur, tubuhnya lemas, bahkan kakinya terasa tak bertulang, dan. . .

__ADS_1


Bruukkk!!!


Aretta pingsan, dan langsung digendong ayah menuju tempat teraman yang ada disana.


__ADS_2