
Aretta akhirnya memutuskan untuk tinggal dengan ayah. Setelah melalui perdebatan dan pemikiran yang cukup panjang, akhirnya itulah keputusan yang menurutnya terbaik.
Aretta kini bukan lagi sisiwi SMP, tapi ia sekarang adalah siswi kelas X(sepuluh) disebuah SMA Negeri favorit yang ada di kotanya. Tentu saja itu semua berkat prestasinya. Jadi, ia bisa dengan mudah masuk ke sekolah pilihannya.
"Are, nanti kamu mau istirahat dimana?" Ucap Lala saat mereka masih berada didalam kelas.
Kebetulan, saat itu guru pengajar matematika tidak masuk, jadi kelas cukup santai. Meski ada beberapa tugas.
"Dikantin biasa aja!" Jawab Aretta yang masih mengerjakan tugas.
"Eh, Are liat deh! Itu ada yang merhatiin kamu dari lapangan!" Ucap Tati saat melihat seorang laki-laki sedang menatap ke arah Aretta dari luar kelas.
Kebetulan kelas Aretta terletak di deretan depan, jadi sangat jelas terlihat dari lapangan. Apalagi, tempat duduk favorit Aretta yang berada dipinggir jendela, membuat ia lebih banyak mendapat perhatian. Bagaimana tidak, wajah cantik khas ABG, memang banyak digemari lawan jenis.
"Apaan sih! Mungkin lagi perhatiin kamu, kali!" Aretta malah balik menggoda Tati.
"Orang jelas-jelas liatinnya kamu kok!" Tati membela diri.
"Eh, liat deh! Itu kan Alvin, ketua osis kita!" Lala memberi tau.
Siapa yang tak kenal Alvin, cowok tampan anak kepala sekolah yang sekarang menjabat sebagai ketua osis. Hampir semua cewek di sekolah, mengidolakannya. Kemahirannya bermain basket, semakin menambah daftar segudang prestasinya.
"Ya udah, liatin lagi aja sama kamu! Kali aja naksir! Ya nggak, La?" Aretta mengajak Lala untuk saling menggoda Tati.
Lala dan Tati adalah teman Aretta dari kecil. Bahkan saking deketnya, mereka selalu memutuskan untuk bersekolah ditempat yang sama. Bahkan sekarang, mereka bertiga satu kelas.
Kriiiiiiiinnnggg
Bel tanda istirahatpun sudah berbunyi. Semua penghuni sekolah tak terkecuali Aretta dan dua sahabatnya, bergegas menuju kantin untuk mencari makanan.
"Lo mau makan apa, Are?" Tati bertanya pada Aretta yang sudah menempati sebuah bangku panjang di kantin.
"Mi ayam aja!" Jawab Aretta singkat.
"Minumnya?" Tanya Lala.
"Es jeruk aja!"
Mereka bertiga sudah terbiasa dengan tugas masing-masing setiap waktu istirahat. Tati memesan makanan, Lala memesan minuman, dan Aretta mencari tempat duduk. Hal itu mereka lakukan agar saling mendapatkan hal yang diinginkan dalam waktu bersamaan.
"Hai!" Seorang anak laki-laki baru saja bergabung dengan Aretta, ia adalah Alvin.
__ADS_1
"Sorry, kak! Ini sudah ada yang nempatin, orangnya lagi beli makanan!" Aretta berucap sopan pada Alvin.
Aretta yang masih baru duduk di kelas 1 SMA itu, memang harus bersikap sopan pada siapapun. Apalagi pada Alvin, kakak kelas yang punya pengaruh besar disekolahnya.
"Nanti aku pindah kalau temenmu udah pada dateng!" Alvin meminum segelas es jeruk yang dari tadi dibawanya.
"Kenalin, gue Alvin, anak XI IPS 1. Ketua osis!" Alvin menyodorkan tangannya hendak mengajak bersalaman dengan Aretta.
"Semua orang juga tau, kamu ketua osis!" Aretta bergumam dalam hatinya.
"Aku Aretta, anak X(sepuluh) satu!" Aretta akhirnya menerima uluran tangan Alvin, keduanya bersalaman.
Alvin sengaja bersalaman agak lama dengan Aretta, seolah tidak mau melepaskan tangannya dari tangan Aretta.
"Ehem!!!" Tati datang dengan membawa tiga mangkok mi ayam di nampannya. Sontak saja Alvin merasa kaget dan jadi salah tingkah.
"Oh, maaf!" Alvin melepaskan tangannya dari tangan Aretta.
"Sorry kak, kita mau duduk!" Tati mengusir Alvin secara halus.
"Gue pergi dulu, ya. Bye!" Alvin mengedipkan sebelah matanya pada Aretta dan berlalu pergi.
"Cieeeee, yang dideketin ketua osis!" Lala yang sedari tadi mengamati Aretta dari jauh, mulai menggoda.
"Apaan sih? Udah ah makan, aku laper!" Aretta segera menyantap makanan yang sudah ada dihadapannya tanpa memikirkan reaksi dari kedua sahabatnya itu.
"Eh, Are. Tapi si Alvin boleh juga ya?" Tati berbicara diselah makannya.
"Boleh apanya? Playboy gitu!!!" Ucap Lala yang sedikit jutek.
"Playboy gimana maksud kamu, La?" Tanya Tati.
"Menurut rumor yang beredar, Alvin itu playboy. Bahkan, ia gonta-ganti cewek tiap minggunya!!" Lala mencoba menjelaskan.
Pantas saja kalau dikelas, Lala dijuluki sebagai ratu gosip. Ternyata, itu bukan sekedar julukan. Bagaimana tidak, ia bahkan bisa tau suatu hal, tanpa teman-temannya tau terlebih dulu!
"Mau dia playboy kek, playgroup kek, aku nggak peduli! Toh, aku nggak akan tergoda sama dia!" Aretta bicara sambil mengunyah mi ayam kesukaannya.
"Percaya deh....!" Ucap Tati.
"Udah ah, makan! Nanti keburu bel lagi!"
__ADS_1
Begitulah obrolan tiga sahabat tersebut. Mereka bisa lupa waktu kalau sudah membicarakan tentang cowok.
Bel tanda masuk pun berbunyi, semua siswa-siswi bergegas menempati posisinya. Mereka mulai mendengarkan yang diterangkan oleh guru. Hingga tak lama pun, tiba waktunya untuk mengakhiri proses belajar, dan kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Aretta dan kedua sahabatnya yang memilih pulang dengan menggunakan angkot. Merekapun berjalan keluar dari kelas.
"Hai!" Alvin sudah berdiri disebelah Aretta, kali ini mereka berjalan berdampingan. Diikuti oleh Lala dan Tati yang mengekor dibelakang.
"Kita berasa lagi mengiringi jalan pengantin ya, La?" Ucap Tati berbisik pada Lala.
"Iya! Hihi. . ." Keduanya tertawa kecil.
"Hai!" Aretta menjawab singkat tanpa menghentikan langkahnya.
"Gue anterin lo pulang ya?" Ucap Alvin.
"Nggak usah, kak! Aku naik angkot aja bareng temen-temen." Ucap Aretta menengok ke arah dua sahabatnya yang sengaja membuang muka dari Aretta.
"Nggak pa-pa kok, kamu sama kak Alvin aja. Lagian, kita mau ke pasar dulu!" Ucap Lala berbohong. Hal itu dilakukannya untuk mendukung rencana Alvin.
"Ya udah, kamu tunggu ya! Aku ambil motor dulu diparkiran!" Alvin berlari menuju parkiran tanpa menunggu jawaban dari Aretta.
"Kamu kok malah ngedukung kak Alvin sih, La?" Tanya Aretta pada Lala saat Alvin tidak ada diantara mereka.
"Nggak pa-pa dong, punya pacar ketua osis bukan ide yang buruk kok!" Lala mencoba memberi alasan.
"Ya udah kalau gitu, kamu aja yang pulang bareng kak Alvin!" Aretta mulai kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Tapi belum puas Aretta berucap, sebuah motor gede berwarna merah sudah berada disamping mereka.
"Ayo naik!" Ucap Alvin yang sudah siap dengan motornya.
"Tapi, kak..." Aretta ragu dengan ajakan Alvin.
"Udah, ayo naik!" Alvin mengulang ucapannya.
"Kalau saja bukan karena mereka, aku nggak akan pulang sama Alvin. Awas saja kalian!!!" Aretta berkata kesal dalam hatinya.
Setelah memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, akhirnya Aretta mengikuti ajakan Alvin yang akan mengantarkannya pulang.
Hai dear, author akhir-akhir ini mulai kehilangan semangat.
Nggak tau kalau udah ditinggal jejak like, komen, rate dan vote. Mungkin, akan bertambah semangatnya๐๐
๐๐๐
__ADS_1