
Sebulan telah berlalu semenjak ayah memberi tahu ibu tentang pekerjaan barunya. Semua masih berjalan seperti biasa.
Aretta yang harus bersekolah dengan berjalan kaki, ibu yang harus pergi ke pasar dengan ojek becak, dan ayah yang masih setia pulang-pergi bekerja dengan berjalan kaki juga.
Jarak antara tempat kerja ayah dan rumah memanglah tidak terlalu jauh, hanya berkisar satu kilometer saja. Tapi tetap saja, itu membuat ayah merasa lelah bila harus dilakukannya setiap hari.
Sampai suatu ketika, . .
"Bu, besok siang ayah mau pergi dulu sebentar." Ucap ayah ketika sedang duduk di teras rumah bersama Aretta dan ibu.
Hal itu memang sudah biasa dilakukan mereka setiap malamnya apabila ayah tidak sedang mendapatkan kerja bagian malam.
"Mau kemana emangnya, yah ? Kan ayah besok libur kerjanya ?" Tanya ibu penasaran.
"Ayah mau bikin kejutan." Ucap ayah
"Kejutan apa, yah ?" Tanya Aretta antusias.
"Masa kejutan dikasih tau, nanti bukan kejutan lagi dong." Ucap ayah sambil tersenyum ringan.
"Ih, ayah kaya gitu sekarang mah. Ga seru ah." Ucap Aretta sembari memonyongkan bibirnya.
"Anak ayah kalo udah manyun kaya gitu ga cantik lagi ah." Ucap ayah sambil mencubit hidung anaknya.
"Abis ayahnya kaya gitu, bikin penasaran aja." Ucap Aretta manja.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang tidur sana. Udah malem tuh. Jangan lupa cuci kaki dulu sebelum tidur." Lanjut ayah.
"Gendoong." Ucap Aretta masih dengan nada manjanya.
Aretta memang sangat menyukai digendong ayahnya, meski sudah duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Maklumlah, anak semata wayang. Terlebih lagi, kalau Aretta adalah anak yang sangat didambakan oleh ayahnya.
"Ya sudah, ayah gendong. Tapi nanti langsung tidur yah ?" Ucap Ayah sambil membungkukan badannya di depan Aretta.
Tanpa berpikir lama, Aretta langsung melingkarkan tangannya ke leher dan segera menaiki punggung ayah.
Pagi harinya
"Ayah kemana bu ? Masih pagi kok udah ga ada ?" Tanya Aretta kepada ibunya yang masih sibuk melayani pembeli.
"Are udah lupa ya, kan semalem ayah bilang mau pergi dulu." Ucap ibu.
"Ya udah sana mandi dulu, terus sarapan. Abis itu bantuin ibu tunggu warung. Ibu mau masak." Ucap ibu.
"Mau masak apa emangnya bu ?" Jawab Aretta yang masih rebahan.
"Masak makanan kesukaan kamu, apalagi kalo bukan sayur asem dan ikan asin." Jawab ibu.
"Yeay, . ." Aretta tiba-tiba semangat dan langsung menuju kamar mandi.
Sementara itu Aretta bergegas membantu sang ibu untuk menunggu warung, sedangkan ibu memasak menu kesukaan anak kesayangannya itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saat Aretta sedang asik duduk didepan kios ibunya. . .
Kring kriiiiingg. . .
"Ayaaaahh." Ucap Aretta mengangetkan ibunya yang sedang asik memasak.
"Ada apa Are?" Ibu sampai berlari mendengar teriakan anaknya.
"Lihat ayah, bu . . .!" Menunjuk ayahnya.
Sementara ayah hanya tersenyum sambil memarkirkan kendaraanya.
"Ini sepeda siapa yah ?" Tanya ibu penasaran.
"Taraaaaa. . ." Ucap Ayah bersemangat.
"Ini sepeda kita bu, kan ayah udah bilang semalem, kalo ayah mau kasih kejutan buat ibu sama Aretta." Lanjut ayah.
"Yeaaayy." Ucap Aretta sambil berjingkat kegirangan.
"Tapi ayah dapat uang darimana ?" Tanya ibu lagi.
"Ibu lupa ya, kalau ayah udah kerja ? Ini gaji pertama ayah bu. Sepeda ini nantinya bisa dipake buat ibu ke pasar pagi-pagi, setelah itu bisa dipake Aretta buat antar jemput ayah kerja, dan bisa juga buat dipake Aretta sekolah. Biar anak ayah ga kecapean." Ucap ayah sambil mengelus kepala anak kesayangannya itu.
"Alhamdulillah, akhirnya sedikit demi sedikit kita bisa beli apa yang kita butuhkan ya, yah." Ucap ibu lega.
__ADS_1
Begitulah ibu, yang selalu bersyukur dengan rizki yang telah diterimanya.