ARETTA

ARETTA
PENDERITAAN ARETTA


__ADS_3

Bantu Like, komen, dan vote yang banyak buat semangatin author😍😍😍😍


I love you all


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Aretta baru saja merebahkan dirinya ditempat tidur Leo yang ada dirumah orang tuanya, setelah terlebih dahulu membereskan kamar Leo.


"Parfum ini, rasanya gue kenal?" Ucap Aretta menajamkan indra penciumannya.


Kriiiingg. . .


Ponsel Aretta berdering.


"Hai!" Sapa Aretta setelah mengangkat telfonnya


"Hai, sayang! Lagi dimana?" Sapa penelpon dari seberang yang ternyata adalah Leo.


"Coba tebak?" Aretta balik bertanya.


"Pasti lagi dikosan!"


"Bukan."


"Terus dimana?"


"Lagi dikamar seseorang."


"Oh, kamar Della?"


"Bukan juga!"


"Lalu?"


"Lagi dikamar cowok!" Jawab Aretta yang membuat Leo diseberang sana mulai meradang.


"Lo macem-macem dibelakang gue?!" Leo semakin meradang.


"Hahahahaha!" Aretta terbahak mendengar Leo yang sudah mulai terpancing emosinya.


"Nggak lucu!!!"


"Gue lagi dikamar lo, Leo. . .!"


"Lo serius?!" Tanya Leo antusias.


"Iya, Leooo!"


"Makasih ya, sayang. Gue seneng dengernya! Gue nitip ibu sama ayah ya?"


"Padahal sejujurnya, gue nggak betah banget disini! Tapi kalau demi ibu, gue paksain walau itu cuma semalem doang!" Gumam Aretta.

__ADS_1


"Hallloooooo! Ada orang nggak disana?" Leo merasa sedikit kesal saat orang yang ditelponnya tidak bersuara.


"Oh, iya. Maaf, Leo! Gue agak ngantuk." Aretta mencoba mencari alasan.


"Oh, gitu. Gue tutup dulu ya telfonnya. Lo tidur aja disitu, bayangin gue ada disitu! Selamat tidur, sayang!" Leo menutup sambungan telefonnya.


"Andai lo tau, Leo. Kalau bukan ibu yang maksa gue buat nginep, gue nggak mau ada disini!" Aretta masih berbicara sendiri setelah sambungan telfon diputus.


Tok, tok, tok!


Pintu kamar diketuk. Aretta segera membukakannya.


"Ada apa kak Lea?" Tanya Aretta setelah membuka pintu dan mendapati kak Lea sudah melipat kedua tangan didepan dadanya.


"Besok lo harus bangun sebelum yang lain bangun!" Ucap kak Lea masih bernada ketus.


"Emangnya mau apa, kak?" Tanya Aretta yang tidak mengerti.


"Cih, dasar pemalas! Bahkan lo nggak tau apa-apa!"


"Aku bener-bener nggak ngerti maksud kak Lea apa?"


"Besok lo harus kerjain semua pekerjaan disini. Mulai dari nyapu, ngepel, nyuci baju, nyuci piring, sampai buatin sarapan. Harus lo yang ngerjain!"


"Tapi kak, aku kan besok pagi harus kerja!" Aretta mencoba mencari alasan. Bagaimana tidak, kalau semuanya dilakukan Aretta sendiri, ia tidak akan bisa datang tepat waktu dikantornya.


"Nggak usah ngebantah!!! Makanya gue bilang sama lo dari sekarang, harus bangun sebelum yang lain bangun!" Kak Lea semakin menekankan kalimatnya.


"Malah ngelamun!" Kak Lea semakin meninggikan suaranya.


"Maaf kak, aku akan lakuin yang kakak perintahkan!" Ucap Aretta akhirnya. Ia tidak mau sampai terlalu lama terjadi perdebatan.


"Bagus!" Kak Lea berlalu meninggalkan Aretta yang masih berdiri diambang pintu.


***


Waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi. Semua penghuni rumah masih terlelap di alam bawah sadarnya. Namun tidak dengan Aretta, yang sudah mulai mengerjakan tugas yang diberikan kak Lea. Mulai dengan menyapu, mengepel, dilanjutkan dengan pekerjaan yang ada di dapur. Mencuci piring, mencuci pakaian dan mulai memasak untuk menu sarapan.


Keringatnya mulai bercucuran membasahi semua bagian tubuhnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Ia bergegas menuju kamarnya, bersiap untuk mandi dan selanjutnya pergi bekerja. Untungnya, Leo sudah mempersiapkan beberapa pakaian yang bisa dipakai Aretta untuk bekerja.


Waktu semakin berjalan, kini sudah pukul enam pagi. Aretta sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Ia menuju meja makan. Disana sudah ada orang tua Leo, kak Lea dan suaminya.


"Selamat pagi, Aretta!" Sapa ibu yang sedang mengambilkan nasi untuk ayah.


"Pagi, bu." Jawab Aretta yang sudah mengambil posisi duduk disamping ibu Leo.


"Sarapan dulu ya, Lea udah masakin buat kita! Dia juga udah beresin kerjaan rumah, tuh liat aja sampai kinclong semua!" Ucap ayah Leo.


Aretta mengernyitkan dahinya, ia merasa kak Lea sudah memanfaatkan kesempatan.


"Makanya, perempuan itu bangunnya pagi-pagi. Biar bisa siapin semua keperluan keluarga!" Ucap kak Lea yang menatap sinis kearah Aretta.

__ADS_1


"Iya, ayah bangga sama Lea. Dia bisa ngerjain pekerjaan rumah, meski harus bekerja juga." Ucap ayah kembali membanggakan Lea.


"Ayo, Aretta makan dulu! Nanti abis sarapan, ibu pesenin ojek ya?" Ibu menawarkan pada Aretta.


"Jangan terlalu dimanja, bu! Dia juga bisa sendiri kali, bu!" Ucap Lea.


"Iya, bu. Aku udah pesen ojek, kok!" Jawab Aretta.


"Orang macam apa sebenarnya kak Lea ini? Bahkan dia bisa dengan mudah memutar balikkan fakta. Harus lebih hati-hati!!!" Batin Aretta.


"Oh, gitu! Ya udah, makan yang banyak ya?" Ibu masih bersikap lembut.


Aretta hanya membalas dengan senyum tipis yang mengembang diwajahnya.


Sementara itu, kak Lea sudah tersenyum penuh kemenangan.


" Ada gunanya juga gadis itu disini! Awas saja lo! Gue pastiin lo menyesal sudah memasuki keluarga ini!!!" Gumam kak Lea.


"Aretta, nanti pulangnya kesini lagi ya?" Ucap ibu ditengah mengunyah makanannya.


"Kayanya nggak bisa deh, bu! Aku masih punya beberapa pekerjaan di kosan." Jawab Aretta.


"Kalo kamu mau, nanti kakak jemput deh ke tempat kerja kamu!" Kak Lea menawarkan diri.


"Gawat! Pasti nanti dia mau manfaatin gue lagi! Gue nggak bisa kayak gini terus! Terperangkap bagai tikus yang tidak bisa melakukan apapun!" Gumam Aretta.


"Maaf, kak. Kayanya nggak bisa!" Aretta masih berucap sopan pada kak Lea yang sudah berubah sikap 180 derajat.


"Kenapa? Kamu nggak betah tinggal sama keluarga suami kamu?" Kak Lea kembali menyudutkan Aretta.


"Sudahlah, Lea. Mungkin Aretta sedang banyak pekerjaan. Jadi dia nggak bisa kesini. Padahal, ibu sangat menginginkan kamu tinggal disini, lho!" Ucap Ibu.


"Ogah amat harus tinggal disini! Yang ada, nanti gue bakal jadi upik abu yang selalu menderita kaya di dongeng-dongeng!" Benak Aretta.


Aretta lagi-lagi tersenyum mendengar ibu yang selalu membelanya. Setidaknya, masih ada alasan agar dirinya bisa berkunjung ke rumah keluarga Leo.


"Paling juga dia cuma suka sama Leo nya doang! Tapi benci sama keluarga kita!!!" Kak Lea kembali membuat Aretta terpojok.


"Bukan begitu, kak. Tapi aku. . ."


Belum sempat Aretta menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara klakson motor dari luar rumah.


"Itu pasti ojek aku, sebentar ya bu. Aku liat dulu!" Aretta setengah berlari menuju luar rumah.


Ternyata feelingnya benar, ia mendapati seorang ojek perempuan yang kemaren malam telah mengantarnya sampai rumah keluarga Leo.


"Sebentar ya, mau ambil tas dulu!" Ucap Aretta yang kemudian bergegas kembali kedalam rumah untuk mengambil tas kecil yang selalu dibawanya bekerja.


"Bu, pak, aku pamit dulu ya? Maaf sudah merepotkan." Aretta berpamitan sambil menciumi tangan kedua mertuanya itu.


Sementara keluarga mertuanya hanya bisa melepas kepergian menantunya dengan pasrah.

__ADS_1


__ADS_2