ARETTA

ARETTA
HARI BAHAGIA


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu kini telah datang. Persiapan yang sudah disusun sedemikian, sudah mencapai 99%. Pagi itu semua sudah sibuk dengan bagiannya masing-masing.


Rumah Ayah Aretta sudah disulap sedemikian rupa. Tenda dan kursi pelaminan sudah terpasang rapi. Tak lupa kursi untuk para tamu yang juga sudah dipersiapkan. Semuanya akan menjadi saksi bisu penyatuan cinta dua sejoli.


Aretta masih duduk menghadap cermin. Dengan dibantu penata rias profesional yang akan menjadikannya bagaikan seorang ratu yang sempurna. Dengan menggunakan kebaya berwarna putih dan tatanan rambut yang dibuat serapi mungkin, membuat keanggunannya kian terpancar.


Tok, tok, tok


Pintu kamar Aretta diketuk.


"Boleh saya masuk?" Ucap seorang perempuan paruh baya dari luar pintu.


"Silahkan!" Jawab penata rias dari dalam kamar.


"Waah, cantiknya anak ibu!" Ucap ibu yang sudah berada disamping Aretta.


"Makasih bu!" Aretta masih menatap cermin namun tangannya mengarah kepada ibu untuk mendekat kearahnya.


"Anak gadis ibu udah mau menikah aja. Nggak kerasa ya? Rasanya, baru kemaren ibu gendong kamu." Ibu mulai berkaca-kaca.


Aretta mencium tangan ibu, dengan posisi kepala yang masih tegak menghadap cermin. Karena saat itu, penata rias tengah memperbaiki bagian rambutnya.


"Ibu akan selamanya menjadi ibu yang terbaik buat Are."


"Nah, sudah selesai. Jangan sampai nangis ya? Nanti make up nya bisa rusak." Ucap penata rias.


"Makasih kak!" Ucap Aretta membiarkan penata rias tersebut keluar dari kamarnya.


Rupanya penata rias tersebut mengerti, kalau ibu dan Aretta perlu waktu untuk bicara.


"Ibu sama siapa kesini? Apa ayah udah tau?" Tanya Aretta khawatir.


Bagaimana tidak, ibunya datang seorang diri ke rumah ayah. Ia berpikir, pasti bukan perkara yang mudah untuk ibu bisa sampai disini.


"Ibu dianterin sama ojek tadi. Untungnya, ojeknya tau alamat rumah ayahmu." Ibu mencoba tersenyum, walau itu sangat terlihat dipaksakan.


"Makasih banyak ya, bu. Ibu udah bela-belain datang kesini." Aretta memeluk ibunya yang masih berdiri.


"Udah jangan terlalu dipikirin! Leo udah nyampe mana katanya?" Tanya ibu mengalihkan pembicaraan.


"Oh, iya. Nanti Are telfon dulu ya, bu!" Aretta mengambil ponselnya dan mulai menelfon Leo.


***

__ADS_1


Leo dan keluarganya sudah bersiap sejak pagi-pagi sekali. Ia tidak ingin momen yang selama ini ditunggunya, tidak sesuai rencananya.


Dengan menggunakan setelan jas berwarna hitam dan tatanan rambut yang disisir rapi, semakin membuat ketampanan Leo terpancar.


"Ayo bu, kita nggak boleh telat! Jangan sampai penghulu datang lebih dulu dari rombongan kita!" Ucap Leo setengah berteriak.


"Yang mau nikah pagi-pagi udah berisik! Kaya ayam mau bertelor aja!" Ucap kak Lea yang baru keluar dari kamarnya.


"Kita kan harus menempuh perjalanan selama tiga jam. Jadi kita nggak boleh telat sedikitpun!" Ucap Leo melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Iya udah, nih. Ayo berangkat sekarang!" Ucap Ayah Leo bergegas menuju mobil. Disana juga sudah ada beberapa mobil lain yang ikut serta dalam rombongan mempelai pria.


Iring-iringan mobilpun melaju dengan kecepatan sedang. Dengan posisi mobil mempelai pria yang berada paling depan. Disana terlihat mempelai pria yang tidak henti bergumam menghafalkan naskah ijab kabul yang sudah didapatkannya dari penghulu di kota Aretta.


Kriìiiing


Ponsel Leo pun berbunyi, segera ia melihatnya.


Aretta sayang


Nama yang tertera pada layar depan ponsel.


Segera ia menggeser tombol hijau pada ponselnya.


"Huh, kebiasaan!"


"Ada apa, yank?"


"Lo nyampe mana? Udah jalan, kan? Semuanya baik-baik aja, kan?" Aretta menghujani Leo dengan berbagai pertanyaan.


"Perhatian banget sih!" Leo tidak menjawab pertanyaan Aretta.


"Jawab leo!" Aretta mulai kesal.


"Hahaha! Gue udah jalan kok, paling sepuluh menit lagi nyampe." Jawab Leo setelah puas menertawakan tingkah Aretta.


"Ya udah, lo ati-ati!" Aretta menutup telefonnya secara sepihak.


***


"Leo bentar lagi nyampe, bu!" Ucap Aretta menatap ibunya lekat. Jantungnya bahkan semakin berdegup kencang. Momen yang selama ini dibayangkannya, sebentar lagi akan menjadi kenyataan.


"Ya udah, ibu kasih tau ayah sama Karin dulu ya!" Ucap ibu berlalu meninggalkan Aretta.

__ADS_1


Bahkan meski luka hatinya belum juga mengering, ibu masih memikirkan kepentingan anaknya. Ia bahkan tidak mempedulikan perasaannya yang selalu sakit jika mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


Mobil dari rombongan mempelai pria pun sudah terparkir dengan rapi. Mereka sudah berjalan memasuki halaman rumah keluarga mempelai wanita. Dengan posisi mempelai pria yang jalan diapit oleh kedua orang tuanya.


Aretta dan Leo memang sengaja memilih tempat pernikahan dikediaman ayah Aretta. Dengan berbagai alasan yang sudah dipertimbangkan pastinya. Salah satunya ialah, karena mereka ingin melakukan pernikahan yang sesederhana mungkin.


Sebenarnya, Leo bisa saja membuat pesta pernikahan yang super mewah. Tapi itu ditolak mentah-mentah oleh Aretta. Alasannya, "karena yang terpenting adalah kehidupan setelah pernikahan. Bukan pada pesta pernikahan", begitu ucap Aretta.


Dua keluarga sudah duduk diposisinya masing-masing. Begitu juga kedua mempelai yang sudah duduk berhadapan dengan penghulu. Tidak lupa juga dengan wali dan saksi dari kedua mempelai.


"Apakah anda sudah siap?" Tanya penghulu pada Leo.


"Saya siap!" Jawab Leo mantap.


Penghulu tersebut langsung menarik tangan Leo untuk kemudian dijabatnya erat.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aretta binti Kasim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Leo setelah penghulu memberi aba-aba lewat gerakan tangannya.


"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu pada para saksi.


"SAH. . . . !" Ucap para saksi serentak.


Para undangan yang menyaksikanpun bertepuk tangan. Menjadi saksi penyatuan cinta Aretta dan Leo yang suda terbalut dalam label halal. Baik secara agama maupun negara.


Aretta dan Leo sama-sama tersenyum bahagia. Perjuangan yang selama ini sudah dilakukan, terbayar sudah.


Kedua mempelaipun berjalan bergandengan menuju kursi pelaminan yang letaknya tidak jauh dari tempat ijab kabul. Disana beberapa tamu undangan sudah berbaris mengantri ingin memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.


Mulai dari pihak keluarga, rekan kerja, sampai sahabat terdekatpun ikut andil menjadi tamu undangan.


Para tamu yang sudah mengucapkan selamat pada kedua mempelai, diarahkan untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Beberapa makanan tradisional, dan jajanan pasar, juga diikut sertakan untuk memanjakan lidah para tamu.


Raut wajah kedua mempelai yang merona bahagia tidak bisa disembunyikan. Senyum yang lebar disepanjang acara, sudah membuktikan semuanya. Bahwa cinta yang halal memang selalu indah untuk didapatkan. Meski butuh berjuang sedikit dalam mencapainya.


Namun seketika, wajah Aretta berubah suram. Senyum yang sedari tadi mengembang diwajahnya, hilang tak berbekas. Melihat seseorang yang tidak asing baginya, tengah berada di antara deretan orang yang akan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Siapa coba? Coba siapa?πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Like, komen dan vote yang banyak dulu.πŸ€—


Kalau perode nanti, masuk rangking 100 besar, author mau kasih crazy up😍😍😍


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2