
Belum sembuh rasanya luka yang ditorehkan ayah dihati Aretta. Meski demikian, Aretta adalah seorang anak yang sangat pandai menyembunyikan luka, meski hatinya sudah hancur tak berkeping.
Pagi itu seperti biasanya, Ibu sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi kalau bukan berjualan. Aretta mencoba membantu sebisanya, setidaknya dia tidak terlalu menjadi beban untuk ibu.
"Are bawain ya, bu ?" Ucap Aretta ketika mendapati ibunya baru datang dari pasar.
"Ia sayang, Are tumben udah siap jam segini ?" Tanya ibu heran melihat anaknya yang sudah berseragam lengkap khas anak sekolah di pagi buta.
"Are kan nggak mau ngrepotin ibu." Ucap Aretta polos.
Mendengar itu, ibu hanya tersenyum. Meski batinnya menangis membayangkan, bagaimana jika anaknya mengetahui perihal ayahnya.
"Ibu, tadi beli nasi uduk. Tukang bubur ayam yang biasanya nggak jualan lagi, jadi ibu beli aja yang ada. Nggak pa-pa ya ?" Ucap ibu.
"Nggak pa-pa kok, bu. Apa aja yang dibeliin ibu, Are makan kok !" Ucap Aretta menegaskan.
"Ya udah, ibu siapin dulu sarapannya. Biar kita bisa makan sama-sama." Ucap ibu segera mengambil piring di dapur.
Aretta menyeka pipinya. Meski bagaimanapun, luka tetaplah luka. Seberapapun ia bisa menyembunyikannya, akhirnya akan memecah juga. Ia hanya nggak mau sampai ibunya tau tentang luka hatinya itu.
Aretta membantu menata barang dagangan ibu di warung kecilnya itu. Karena disanalah, nasibnya ditentukan.
"Are, makan dulu yuk, ibu laper nih !" Ucap ibu setelah membawa dua buah piring ke ruang serbaguna.
"Iya, bu." Ucap Aretta yang bergegas menuju ibu.
"Ibu tumben laper jam segini ? Biasanya juga, kalau Are tawarin makan jam segini, nggak pernah mau."
"Iya, ibu juga nggak tau. Mungkin kalau tadi sewaktu dipasar, ibu angkutin belanjaan sendiri sih. Mamang kuli angkutnya pada nggak ada." Ucap ibu menjelaskan.
"Oh, gitu !" Ucap Aretta mencoba percaya pada yang diucapkan ibunya.
"Yuk makan !" Ucap ibu yang segera menyantap makanan yang ada dihadapannya.
"Oh ya,bu. Nanti sepulang sekolah, Are ada tugas kelompok dirumah Lala. Boleh nggak, bu?" Ucap Aretta mencoba meminta izin.
"Boleh aja, tapi pulang dulu ke rumah. Ganti baju dulu !" Jawab ibu tegas.
"Tapi kan, rumah Lala lebih deket dari sekolah, bu. Kalau Are pulang dulu, nanti jauh lagi. Tugasnya sedikit kok, bu. Are janji deh, nggak akan lama. Pokoknya, begitu tugasnya selesai, Are langsung pulang. Boleh ya, bu ?" Ucap Aretta memelas.
__ADS_1
Wajahnya yang polos dan dengan luka hati yang tak terlihat, membuat ibu merasa iba pada anak gadisnya itu.
"Huh, ya sudah. Tapi janji ya, kalau udah selesai buru-buru pulang !" Ucap ibu tegas.
"Siap, bos !" Ucap Aretta dengan posisi berlagak hormat.
"Ya sudah, sarapannya abisin. Nanti Tati keburu datang."
Mendengar ucapan ibunya itu, Aretta bergegas menghabiskan makanan yang ada dihadapannya. Ia sangat tau, kalau ibunya tidak suka membuat Tati menunggu lama.
"Are berangkat dulu ya, bu." Ucap Aretta ketika mengetahui kalau sahabat karibnya itu sudah berada didepan rumahnya
"Iya, hati-hati yaa." Ucap ibu yang masih melihat anaknya berlalu. Matanya selalu berkaca-kaca setiap kali mengingat tentang kejadian kemaren.
"Maafkan aku, Wati. Aku lebih nyaman dengannya."
Kalimat yang menyakitkan itu masih terngiang jelas ditelinga ibu.
Disekolah
"Aretta, nanti siang kita jadi ngerjain tugas kelompoknya, kan ?" Tanya seorang anak gadis berambut panjang yang tak lain adalah Lala.
"Iya jadi." Jawab Aretta singkat.
Dikala teman-teman seusianya sibuk berlari dan bermain menikmati waktu istirahat, Aretta lebih memilih diam. Pikirannya jauh menerawang masa depannya yang entah akan seperti apa. Tanpa ayah yang bisa mengayomi dan melindungi.
"Aretta !" Ucap seorang anak laki-laki yang menyadarkan Aretta dari lamunannya.
"Siapa?" Pikir Aretta yang tidak mengetahui asal keberadaan suara yang memanggilnya.
"Ini !" Ucap seorang anak laki-laki tersebut seraya menyodorkan selembar kertas putih yang dilipat rapi kehadapan Aretta.
"Ini apa ?" Tanya Aretta tak mengerti.
"Ambil aja, saya hanya disuruh menyampaikan ini buat kamu. Katanya, dibacanya di rumah ya !" Ucap anak laki-laki itu sembari meletakkan selembar kertas itu dipangkuan Aretta dan segera berlalu pergi.
"Aneh ! Siapa dia ? Rasa-rasanya aku pernah liat, tapi nggak tau siapa namanya !" Ucap Are pada dirinya sendiri.
"Dia itu Adi, sepupuku." Ucap Lala yang tiba-tiba muncul disamping Aretta dan bergabung duduk disebelah Aretta.
__ADS_1
"Adi ? Kenapa dia ngasih ini ke aku ?" Ucap Aretta menunjukkan sepucuk 'surat' tak ber-amplop ditangannya.
"Adi cuma disuruh nganterin aja. Tuh, yang nyuruhnya !" Ucap Lala menunjuk pada anak laki-laki yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Aku pernah lihat, tapi nggak tau namanya siapa." Ucap Aretta yang masih kebingungan.
"Dia Nino, temennya Adi. Mereka anak kelas enam." Ucap Lala masih mencoba menjelaskan.
Nino adalah anak laki-laki berkulit sawo matang dengan wajah yang cukup manis. Keberadaannya menjadi rebutan anak perempuan disekolah tersebut. Namun Nino tidak pernah melirik anak perempuan lain, hanya Aretta sajalah yang mampu menarik perhatiannya.
Malam harinya
Aretta mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, membaringkan tubuh mungilnya diatas kasur kesayangannya. Ia membuka sedikit demi sedikit lipatan kertas yang ada ditangannya.
Dibacanyalah dari dalam hati
*Hai
Nama kamu Aretta kan ?
Beberapa hari ini, kamu menarik perhatianku.
Senyummu yang ceria, dan gayamu yang tak berlebihan, membuatku semakin ingin tau tentangmu.
Aku mencari tau tentangmu pada Adi, untungnya dia bersaudara dengan Lala. Jadi aku dapat dengan mudah menggali informasi tentangmu.
Aku menulis surat ini dengan tidak mudah, aku harus mengumpulkan keberanianku yang tidak banyak.
Aretta, maukah kamu mengizinkanku menjadi teman terdekatmu ?
Tolong balas suratku secepatnya ya, besok Adi akan mengambilnya.
Aku sangat berharap.
-Nino*-
Deg, Deg, Deg !
Jantung Aretta berdegup keras. Ia sangat tidak menyangka jika selama ini ada yang sangat memperhatikannya. Namun ia juga bingung, antara harus merasa senang ataukah marah terhadap Nino, anak laki-laki yang sangat berani mengutarakan isi hatinya melalui surat.
__ADS_1
"Kalau ada ayah, pasti sudah didatangi tuh rumahnya Nino. Pasti nanti ayah bakal caci maki Nino. Ah, ayah." Ucapnya mengingat kembali ayahnya.
Namun semakin kuat Aretta mencoba mengingat, semakin kuat juga rasa sakit yang ada didalam hatinya. Ia kembali menangis, menenggelamkan wajahnya pada bantal kesayangannya. Ia tidak ingin sampai ibu mengetahui kepedihannya. Karena selama inipun, ibu belum berterus terang kepada anaknya tentang keadaan yang sesungguhnya. Maka dari itu, Aretta masih berpura-pura tidak mengetahui apapun jika berada dihadapan ibunya.