
"Lo suka tempatnya ?" Ucap Leo yang masih melihat Aretta melamun.
"Suka banget, indah. Tempat yang paling indah yang pernah gue datengin !" Ucap Aretta tanpa disadarinya.
"Bagus deh kalau lo suka ! Nggak percuma gue ajakin lo jauh-jauh kesini." Ucapan Leo tersebut sontak saja menyadarkan Aretta dari lamunannya.
"Bagus, bagus apanya ?" Ucap Aretta kembali ketus.
"Bagus tempatnya kan ? Tadi lo bilang gitu !"
"Masa sih ? Emang gue tadi ngomong apa aja ? Dasar gue, jangan sampe gue kepancing sama nih orang !" Aretta membatin.
"Bagus apanya ? Orang ini biasa aja ! Cuma cafe kaya gini mah, di tempat lain juga banyak."
"Udah jangan kebanyakan ngelamun, makan dulu ! Gue bawa lo kesini buat makan, bukan buat ngomel apalagi ngelamun !" Ucap Leo ketika makanan pesanannya sudah berada dihadapannya.
"Lo kasih obat tidur ya ke makanan ini ?" Aretta berasumsi.
"Kurang kerjaan banget gue ngasih obat tidur ke lo ?"
"Manusia macam lo tuh tipe orang yang sering ngambil kesempatan dalam kesempitan ! Jangan lo pikir gue ga ngerti !" Aretta mulai meninggi.
"Terserah apa kata lo. Gue mau makan, laper !" Ucap Leo yang segera melahap makanannya.
Aretta hanya memandangi makanan yang ada dihadapannya. Sesekali ia menelan salivanya, perutnya juga tidak bisa diajak bekerja sama.
kruyuuuukk
Suara cacing di perut Aretta yang mulai berdisko.
"Lo mau makan sekarang, atau gue paksa suapin ? Kasian tuh cacing diperut lo udah keroncongan." Leo berucap sambil masih mengunyah makanannya.
Akhirnya meski ragu, Aretta mulai mencicipi makanannya.
"Enak juga, gue makan aja lah ! Daripada gue nahan laper ! Lagian, kayanya nih orang bukan orang jahat !" Aretta bicara dalam hatinya.
Aretta pun akhirnya memakan makanan yang ada dihadapannya dengan lahap. Ia tidak mempedulikan Leo yang sedari tadi memperhatikannya.
"Cantik !" Ucap Leo yang sudah selesai dengan makanannya. Ia duduk bersandar di kursinya, sembari melipatkan tangan didadanya. Memperhatikan Aretta yang sedang lahap makan.
"Apa lo bilang ?" Ucap Aretta yang seketika menghentikan aktivitasnya.
"Oh, nggak. Pemandangannya cantik !" Leo mengalihkan pandangannya pada lampu di luar cafe.
Aretta melanjutkan makannya dengan lahap, tanpa mempedulikan Leo.
__ADS_1
"Ayo pulang !" Ucap Aretta setelah menghabiskan makanan yang ada dihadapannya.
"Pulang aja sendiri !" Leo yang menjadi ketus.
"Kok gitu ?" Tanya Aretta.
"Gue belum mau pulang." Ucap Leo yang masih memasang wajah ketusnya.
"Oke, kalau itu mau lo. Gue pulang sendiri !" Ucap Aretta beranjak dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan Leo.
Namun seketika langkahnya terhenti, saat menyadari lengannya ada yang menarik.
"Gue cuma bercanda. Pemarah amat sih, lo ? Duduk dulu ! Gue mau ngomong." Ucap Leo masih memegangi tangan Aretta.
"Lepasin tangan gue atau gue teriak !" Aretta mengancam.
"Gue lepasin, asal lo duduk !" Leo tidak mau kalah.
Aretta akhirnya mengalah dan menuruti ucapan Leo untuk duduk di kursinya.
"Buruan ngomong !" Ucap Aretta dengan wajah juteknya.
"Lo cantik Aretta ! Meski lo lagi marah sekalipun." Leo tak henti memandangi wajah Aretta.
Sementara itu, Aretta tidak membalas perkataan Leo. Ia hanya menatap Leo dengan tatapan marahnya.
Mendengar hal itu, Aretta langsung mengalihkan tatapannya pada pemandangan di luar cafe. Udara yang semakin dingin, membuat Aretta tak bisa menutupinya. Ia pun mengusap kedua lengannya dengan telapak tangannya.
Menyadari hal itu, Leo langsung membuka jaket kulit yang sedari tadi dipakainya, dan melepaskannya. Ia kemudian memakaikannya pada Aretta.
"Apaan sih lo ? Mau nyari kesempatan ya ?" Aretta masih dengan nada tingginya.
"Terserah lo mau ngomong apa ! Gue cuma nggak mau, orang yang gue sayang sakit karena kedinginan !"
Deg !
Jantung Aretta berdegup keras mendengar perkataan Leo. Namun ia berusaha tidak mempedulikannya dan kembali memandangi pemandangan yang disuguhkan cafe tersebut.
"Gue sayang sama lo ! Gue tau ini terlalu cepet, tapi perasaan gue nggak bisa ditahan lagi. Besok gue mau berangkat ke kota C. Dan gue nggak peduli lo mau jawab gue atau nggak. Yang penting gue udah ngomong jujur tentang perasaan gue !" Ucap Leo tanpa basa-basi.
Aretta masih tidak menghiraukan ucapan Leo. Meski tidak bisa dipungkiri, kalau saat ini jantungnya berdegup sangat kencang.
"Gue mau, lo jaga diri dan hati lo ya ? Sampai saatnya tiba nanti !" Ucap Leo yang memegangi tangan Aretta.
"Ya Tuhaaan, kenapa gue gugup gini sih ?" Aretta berucap dalam hati.
__ADS_1
"Sorry, ini udah malem. Besok gue harus kerja !" Aretta menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Leo.
"Oke, kita pulang sekarang !" Ucap Leo bangun dari duduknya dan menarik lembut tangan Aretta untuk berjalan keluar dari cafe tersebut.
Leo memasangkan jaketnya pada tubuh Aretta. Ia juga memakaikan helm dikepala Aretta. Tapi anehnya, Aretta yang biasanya selalu bersifat kasar pada Leo, kini hanya diam saja diperlakukan seperti anak kecil oleh Leo.
Diperjalanan pulang, tidak banyak percakapan diantara mereka. Leo juga tidak melajukan motornya seperti saat berangkat. Ia bahkan melajukan motornya sangat pelan.
"Gue sangat mengharapkan momen ini. Gue nggak mau momen ini cepet berakhir. Lo yang selama ini gue cari, Aretta." Ucap leo dalam hati.
Namun tiba-tiba ia merasakan motornya berubah menjadi lebih berat. Keseimbangannyapun mulai tidak terjaga.
"Aretta !" Leo memanggil Aretta. Namun orang yang dipanggilnya tidak memberikan jawaban.
Leopun berusaha menengokkan kepalanya kebelakang. Alangkah terkejutnya ia mengetahui Aretta yang tertidur dipunggungnya.
Leopun memegangi tangan Aretta dan melingkarkan kedepan perutnya. Disepanjang jalan, Leo tidak melepaskan tangannya dari tangan Aretta. Ia pun semakin melambatkan laju motornya.
"Gue semakin nggak mau momen ini berakhir. Meski seharianpun kalo lo mau tidur dipunggung gue, gue sanggup." Leo masih membatin. Hatinya benar-benar bahagia bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Meski ia sangat sadar, butuh perjuangan yang sangat ekstra untuk mendapatkannya.
Motorpun berhenti didepan gerbang kosan Aretta sekitar pukul sembilan malam. Namun Aretta belum juga terjaga dari tidurnya.
"Aretta, kita udah sampai !" Ucap Leo berusaha memberi tau Aretta dengan mengusap tangannya yang masih melingkar pada perutnya.
Namun Aretta belum juga terjaga.
"Aretta bangun ! Kita udah sampai kosan lo !" Leo mengusap lembut pipi Aretta.
Aretta yang merasakan ada yang menyentuh pipinya, mulai membuka matanya.
Ia sangat terkejut menyadari kalau dirinya tengah memeluk Leo dan menyandarkan kepalanya pada punggung Leo.
"Ngapain lo ? Kok gue bisa meluk lo ?" Aretta kaget.
"Lo tadi tidur. Udah bagus gue pegangin, kalo nggak, udah jatoh kali dijalan." Leo membela diri.
"Bilang aja kalo lo lagi cari kesempatan !" Ucap Aretta turun dari motor Leo.
Tapi saat Aretta hendak membuka helm yang menempel dikepalanya, lagi-lagi ia tidak bisa melakukannya.
"Udah gue bilang, kalo lo merasa kesusahan, biasakan ngomong ! Nggak usah gengsi kenapa ?" Leo segera membantu melepaskan helm Aretta tanpa disuruh.
"Terserah !" Ucap Aretta hendak berlalu. Tapi kali ini langkahnya terhenti karena Leo menarik tangan Aretta hingga wajahnya berhadapan sangat dekat dengan Leo.
"Gue nitip jaket gue ya, jaga baik-baik. Seperti lo jaga hati gue. Sekalian gue pamit. Besok gue mau berangkat ke kota C. Jangan kangen gue ya ?"
__ADS_1
Cup !
Leo mengecup pipi Aretta dan bergegas meninggalkan Aretta yang masih mematung ditempatnya.