ARETTA

ARETTA
KEMBALI ROMANTIS, END.


__ADS_3

Hai, hai.


Ini episode terakhir Aretta yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Selamat membaca😍


Sehat selalu, ya😍😍😍


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Leo sudah menutup pintu depan, menguncinya dengan rapat. Tanpa melepaskan lengannya yang melingkar dibahu Aretta.


Aretta pun demikian, ia tidak melepaskan lengannya yang melingkar pada pinggang Leo.


Perpisahan mereka selama beberapa hari, membuat rasa rindu yang terpendam membucah sudah.


"Kita ke kamar yuk!" Ajak Leo.


"Kamu udah ngantuk, Yank?" Tanya Aretta.


"Aku pengen mandi, nanti siapin air hangat ya?"


"Siap Pak Bos!" Ucap Aretta dengan sikap hormat.


Leo pun tidak melepaskan sedikitpun lengannya yang melingkar di pundak Aretta. Layaknya pengantin baru yang telah lama berpisah. Menyimpan segudang rindu yang harus tertahan jauh dilubuk hati.


"Aku siapin air hangat dulu!" Ucap Aretta sesampainya di kamar, dan hendak bergegas menuju kamar mandi.


Sementara itu, Leo duduk di tepi ranjang sambil membuka ponselnya yang telah beberapa hari ini ia tinggalkan. Dilihatnya banyak pesan dan panggilan tak terjawab.


"Sudah siap air hangatnya, sayang!" Ucap Aretta duduk disamping Leo.


"Ayo mandi!" Ajak Leo.


"Aku sudah mandi tadi sore. Lagian mandi jam segini dingin."


"Kan, mandinya sama aku! Nggak akan dingin, percaya deh!" Ajak Leo masih berusaha membujuk.


"Nggak ah, aku tunggu disini aja!" Jawab Aretta menolak.


"Kalau gini, gimana?" Tanya Leo yang sudah menggendong Aretta.


"Kamu mau ngapain, sayang? Jangan macem-macem, deh!"


Leo tidak mempedulikan ucapan Aretta, ia justru membawa Aretta menuju kamar mandi dan terjadilah pertempuran hebat yang sudah lama terpendam.

__ADS_1


***


Beberapa hari berlalu setelah Leo bebas dari penjara. Situasi mulai membaik sedikit demi sedikit.


Kriiiing


Ponsel Leo berbunyi pertanda ada yang menelpon.


"Ya, Bon!" Ucap Leo langsung menyapa si penelpon yang ternyata adalah Bony.


"Hai, Bro! Apa kabar lo?" Tanya Bony dari seberang.


"Baik, Bon. Lo sendiri apa kabar?" Tanya Leo.


"Gue juga baik, Bro! Eh, Bro. Ada kabar baik nih, buat lo!"


"Kabar baik apa?" Tanya Leo yang kala itu tengah bersandar di ranjang.


"Kabar tentang Nino. Dia sekarang resmi dipenjara!"


"Lo serius?" Tanya Leo.


"Ya serius lah. Semua bukti mengarah ke Nino. Jadi semalem, dia langsung ditangkap."


"Syukur deh kalau gitu!"


"Oke deh, besok gue dateng!"


"Oke, bye!" Ucap Bony yang kemudian menutup sambungan teleponnya.


Leo pun menyimpan ponselnya dan meletakannya diatas meja disamping tempat tidur. Diliriknya Aretta yang masih lelap tidur dengan tubuh yang ditutupi selimut hingga lehernya.


Leo pun kembali mendekap erat sang istri dan menciuminya lembut.


Aretta tersadar mendapati dirinya ditatap oleh Leo. Ia pun kembali menutupi wajahnya dengan selimut, hingga tidak sedikitpun terlihat bagian tubuhnya. Hal itu justru semakin membuat naluri Leo kembali bergejolak, hingga ia tak kuasa untuk melanjutkan kembali aksinya.


***


Hari sudah siang, saat Leo dan Aretta menuruni tangga. Dilihatnya Bi Surti yang tengah menyiapkan makan siang didapur seorang diri.


"Pagi, Bi. Masak apa hari ini?" Tanya Aretta yang menghampiri Bi Surti di dapur, sedangkan Leo menunggu di meja makan sambil memainkan ponselnya.


"Masak cumi saos padang, Mbak!" Jawab Bi Surti.


"Kok baunya gini ya? Aku sampai mual, Hoek!" Aretta sampai hampir muntah ketika mencium bau masakan.

__ADS_1


"Mbak, kenapa? Masakan Bibi nggak enak ya? Nanti Bibi ganti deh masaknya!" Ucap Bi Surti.


"Nggak tau nih, Bi. Tiba-tiba saja mual, pusing juga!" Jawab Aretta lemas.


"Ada apa ini?" Tanya Leo yang mendengar Aretta muntah-muntah.


"Mbak Aretta muntah, Mas. Katanya pusing juga!" Bi Surti menjelaskan.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Leo pada Aretta.


"Nggak tau, sayang. Badanku lemes rasanya!"


"Kita ke dokter sekarang!" Ajak Leo yang langsung menggendong Aretta tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.


***


Akhirnya setelah beberapa saat menunggu giliran di panggil, tiba juga bagi Leo dan Aretta untuk masuk ke ruangan dokter.


"Istri saya kenapa, Dok?" Tanya Leo setelah dokter selesai memeriksa Aretta.


"Selamat ya, Pak. Istri Bapak sedang mengandung." Jawab Dokter dengan tersenyum lebar.


"Dokter serius?" Leo hampir tidak percaya mendengar pernyataan dokter tersebut.


"Iya, Pak. Selamat ya?" Dokter mengulangi ucapannya.


Leo pun langsung memeluk Aretta yang masih tertegun tidak percaya.


"Kita akan punya bayi, sayang!" Ucap Leo.


"Iya, sayang!"


Mereka berduapun memutuskan untuk kembali ke rumah. Karena kondisi Aretta yang terlihat sangat lemas.


Leo bahkan sampai menggendong istrinya saat memasuki rumahnya. Ia begitu cemas melihat kondisi sang istri yang tengah mengandung anaknya.


"Sayang, aku mau kamu disini terus ya?" Ucap Aretta menggenggam tangan Leo saat hendak beranjak dari tempat tidur.


"Iya, sayang. Aku akan selalu ada disini buat jagain anak kamu dan calon anak kita. Kamu jangan banyak mikir yang enggak-enggak, ya?" Ucap Leo, sambil terus mengusap tangan Aretta yang seolah tidak ingin berjauhan barang sedetikpun.


Begitulah mereka, yang akhirnya mendapati kebahagiaan. Meski harus melewati beberapa rintangan pahit terlebih dahulu, namun mereka selalu yakin satu hal. Bahwa kebahagiaan yang abadi, akan diraih suatu saat kelak. Saat kesabaran bisa mengalahkan ego.


Namun sebaliknya, Nino kini mendekam di penjara. Merelakan masa depannya harus hancur, karena keegoisan yang selalu ia kedepankan.


Penyesalan tidak pernah datang diawal, karena ia ingin memberitahu. Bahwa perjuangan harus dilakukan demi mendapat kebahagiaan. Meski kita tidak pernah tau, kapan kebahagiaan itu akan singgah.

__ADS_1


SELESAI


__ADS_2