ARETTA

ARETTA
39. TERPAKSA


__ADS_3

Flasback on


Aretta berumur lima belas tahun, kini hari-harinya disibukkan dengan membantu ibu. Mulai dari membereskan kios kecil ibu, menunggu kios, sampai melayani pembeli yang datang. Itu semua dilakukannya agar tidak terlalu membebani ibu yang harus mencari nafkah untuknya. Karena setelah kepergiannya dari rumah, ayah sudah lupa untuk menafkahi Aretta sesuai janjinya dulu.


Ayah kini menikah lagi dengan perempuan pilihannya, dia adalah Karin. Perempuan yang benar-benar nekat ingin mengakhiri hidupnya demi cintanya pada ayah.


Aretta kini bukan anak sekolah dasar lagi, ia sekarang adalah anak SMP. Berkat kepandaiannya, Aretta bisa masuk ke SMP favorit yang ada di kota A.


"Are, ibu boleh tanya sesuatu nggak?" Tanya ibu suatu ketika saat mereka sedang bersantai di ruang serbaguna rumahnya.


"Tanya apa, bu?" Aretta menanggapinya dengan santai.


"Are punya pikiran buat tinggal sama ayah ngga?"


Uhuk, uhuk


Aretta sampai terbatuk mendengar pertanyaan ibu. Karena saat itu, ia sedang meminum teh hangat buatannya.


"Kenapa ibu ngomong gitu?" Aretta balik bertanya.


"Ibu cuma asal nanya aja. Kalo Are nggak mau jawab, lupain aja pertanyaan ibu."


"Are pengennya sama ibu aja. Lagian, kalo Are pergi, siapa yang bantuin ibu nanti?"


Tok, tok, tok


Suara pintu rumah diketuk.


"Biar ibu saja yang buka!" Ibu beranjak dari duduknya. Matanya terbelalak ketika mengetahui tamu yang datang kala itu.


"Arettanya ada?" Ucap tamu tersebut yang tak lain adalah ayah. Ia datang bersama seorang wanita yang usianya lebih muda.


"Ada." Ibu menjawan masih mematung ditempatnya.


"Kalo gitu, boleh kita masuk?" Ucap ayah yang membuyarkan lamunan ibu.


"Oh ya, silahkan!" Ibu akhirnya mempersilahkan ayah dan wanita tersebut masuk ke dalam rumahnya.


Aretta yang semula duduk dengan keadaan menyandarkan tubuhnya pada kursi, kini berubah sigap.


"Maaf kedatangan kita membuat kalian terkejut. Sebelumnya, kenalkan. Ini Karin!" Ayah membuka pembicaraan.


"Apa maksudnya ini? Bahkan dia berani memperkenalkan istrinya pada Aretta!" Batin ibu.


Aretta yang mendengar ucapan ayah, hanya menanggapi dingin.

__ADS_1


"Halo, Aretta. Saya Karin!" Karin menyodorkan tangannya ingin bersalaman dengan Aretta.


Aretta masih terlihat berpikir untuk menerima uluran tangan Karin.


"Salaman dulu, Are!" Ayah angkat bicara.


"Kalau bukan karena perintah ayah, aku nggak sudi untuk bersalaman denganmu! Pasti kamu cuma ingin mendapatkan simpati ayah!" Aretta menggerutu kesal dalam hatinya.


"Silahkan duduk!" Ibu mencoba mencairkan suasana.


"Terimakasih!" Karin mencoba ramah.


"Saya buatkan minuman dulu untuk kalian!" Ibu hendak melangkah menuju dapur. Namun langkahnya itu lagi-lagi terhenti.


"Nggak usah, bu. Kita nggak lama kok!" Karin kembali bicara.


Akhirnya ibu menemani tamunya duduk.


"Aretta sudah kelas berapa sekarang?" Karin bersikap ramah.


"Pasti dia cuma berpura-pura saja ramah padaku!" Aretta masih membatin.


"Kelas tiga SMP!" Jawab Aretta singkat.


"Wah, udah gede! Bentar lagi mau SMA dong, ya?" Karin masih berusaha ramah.


"Apa sebenarnya maksud dan tujuan kalian datang kesini!" Akhirnya ibu menanyakan tanpa ragu.


"Begini, sebenarnya maksud kedatangan kami kesini adalah ingin mengajak Aretta untuk tinggal bersama kami. Aretta mau, kan?" Ucap Karin.


Suasana hening sejenak.


"Are cuma pengen tinggal sama ibu!" Aretta menjawab tanpa keraguan.


"Ayah kangen sama kamu. Ayah pengen kamu tinggal di rumah kita!!" Ayah ikut bicara.


"Kenapa Are harus tinggal di rumah ayah? Disini lebih nyaman!" Aretta bertanya.


"Are pengen sekolahnya lanjut ke SMA, nggak?" Tanya ayah.


"Anak mana yang tidak ingin melanjutkan sekolahnya?" Arettta balik bertanya.


"Kalau gitu, Are harus ikut tinggal sama ayah. Karena ayah ingin membiayai semua kebutuhan kamu, termasuk biaya buat kamu SMA nantinya! Kalau perlu, ayah akan membiayai kuliah Are juga!" Ayah mencoba membujuk.


"Kalau ayah pengen biayain Are, ya biayain aja! Nggak harus tinggal bareng segala!" Aretta kekeh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Ayah cuma pengen dekat terus sama Are! Are mau kan?"


Aretta memandang ibu dengan penuh arti. Untuk sementara waktu, Aretta dan ibu sama-sama terdiam saling bertatapan.


"Are mau pikir-pikir dulu!" Ucap Aretta pada akhirnya.


"Saya janji kok, akan memperlakukan kamu seperti anak saya sendiri. Kamu nggak usah takut, ya?" Karin ikut membujuk.


Aretta hanya diam mendengar ucapan Karin.


"Kalau gitu, ayah sama Karin ijin pamit pulang dulu! Ayah sangat berharap kalau Are bisa ikut tinggal sama ayah!"


Setelah berpamitan, ayah dan Karin pun pergi. Sementara Aretta dan ibu masih mematung di kursi. Keduanya sama-sama memikirkan berbagai pertimbangan atas tawaran ayah tadi.


"Are, sepertinya kamu harus ikut tinggal dengan ayah!" Ibu akhirnya membuka suara.


"Maksud ibu? Ibu udah nggak sayang lagi sama Are?" Aretta balik bertanya, raut mukanya berubah kecewa.


"Bukan itu maksud ibu! Ibu hanya ingin kamu melanjutkan sekolah seperti anak-anak yang lain. Ibu tau, penghasilan ibu ini tak seberapa. Ibu juga takut, kalau nanti kamu tetap tinggal disini, ibu ngga bisa biayain sekolah kamu. Ibu cuma pengen kalau cita-citamu itu terwujud. Itu saja! Lagian, kamu bisa tetap kesini tiap libur sekolah!" Ibu mencoba memberi penjelasan sebisa mungkin agar Aretta mau tinggal bersama ayahnya.


"Tapi Are ngga mau tinggal dengan ibu tiri, bu? Apalagi harus ditempat asing juga! Biarin deh Are nggak lanjut sekolah juga!" Ucap Aretta yang masih kekeh pada pendiriannya.


"Dengerin ibu! Kalau sampai kamu tidak melanjutkan sekolah, kamu nantinya mau kerja apa dengan ijazah SMP? Setidaknya, kalau punya ijazah SMA, pekerjaan yang kamu dapat nantinya tidak terlalu berat!" Ibu menatap serius wajah anaknya.


"Are nggak tau, bu! Are bingung!" Aretta beranjak menuju kamarnya.


Sementara ibu masih termenung memikirkan masa depan Aretta.


Anak gadisnya itu harus menanggung semua perbuatan orang tuanya.


"Andai saja, ayah tidak khilaf waktu itu! Tentu semuanya tidak akan seperti ini! Aretta tentu tidak akan bingung memikirkan masa depannya! Dan kita pasti akan bahagia terus. Maafkan ibumu ini, Are! Ibu nggak bisa menjaga rumah tangga dengan ayah!"


Ibu membatin sendiri mengenang rumah tangganya yang harus berakhir karena orang ketiga. Kenangan yang akan selalu sakit untuk diingat. Meski luka hatinya kini mulai mengering, tapi semakin diingatkan dengan kejadian menyakitkan itu, ibu selalu kembali menangis.


Sementara di kamar, Aretta berbaring di tempat tidurnya. Mencoba memikirkan keputusan yang akan diambilnya kelak. Antara menuruti keinginan ayah, atau mengikuti kata hatinya yang ingin selalu bersama ibu.


"Aaaaarrggh, kenapa semuanya jadi serumit ini sih?" Aretta merasa sangat kesal karena dirinya benar-benar dibuat tidak berdaya akan keputusannya.


***


Hai readers🤗🤗🤗


seperti biasa ya, selalu tinggalkan jejak like, komen, rate dan vote.


Karena, vote mu semangatku🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


💖💖💖💖💖


__ADS_2