
Aretta begitu tertekan atas beberapa kejadian yang telah menimpanya belakangan ini. Pikirannya kembali berkecamuk, hingga ia terbersit akan nama sahabatnya di kota A.
"Lala!" Ucap Aretta melepas pelukannya dari Bi Surti dam bergegas lari menuju kamarnya.
Aretta pun kembali mencari kontak Lala pada layar ponselnya, dan segera menekan tombol hijau setelahnya.
"Hallo, Aretta! Kemana aja lo? Gue kangen banget sama lo!" Ucap Lala dari seberang telefon.
"Kangennya nanti aja! Ada hal penting yang harus gue tanyain sama lo!" Tanya Aretta langsung pada inti.
"Ada apa? Kayaknya serius banget. Lo nggak pa-pa, kan?" Tanya Lala yang mulai cemas.
"Tolong, lo ceritain semua tentang Nino. Semenjak dia pindah, sampai sekarang kembali lagi!"
"Lo serius? Apa nanti suami lo nggak akan marah?"
"Gue serius, La! Lo ceritain ya semuanya! Gue mohon... Ini menyangkut masa depan suami gue, La."
"Emang suami lo kenapa? Lo baik-baik aja, kan?"
"Nanti gue ceritain! Sekarang, lo ceritain dulu tentang Nino, ya. Pliiìiiisss!"
"Huh, oke. Gue akan ceritain semuanya tentang Nino!" Ucap Lala setelah menghela nafas panjang.
Flasback Onn
Nino masih berumur 12 tahun, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah waktu itu juga.
Posisi ayahnya sebagai abdi negara, membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Meski ia harus rela meninggalkan kota kelahirannya, namun sebisa mungkin ia harus berjuang. Membuktikan kepada cintanya, kalau ia akan sukses dikemudian hari.
"Nino, udah dong. Jangan sedih terus! Nanti juga disana kamu akan punya banyak temen, sama seperti di kota A." Hibur Bu Tami yang melihat anaknya murung sepanjang perjalanan saat didalam kereta.
"Tapi nggak ada Aretta disana, Bu!" Jawab Nino.
__ADS_1
"Justru itu! Kamu harus bisa buktikan sama Aretta, kalau kamu akan menemui dia lagi, kalau kamu sudah sukses!"
"Gitu ya, Bu?"
"Iya. Makanya, nanti kamu harus belajar lebih giat lagi, biar nggak malu kalau ketemu Aretta nanti!" Ucap Bu Tami menyemangati.
"Iya deh, Bu. Nino akan rajin belajar, biar nggak malu-maluin kalau ketemu Aretta nanti!" Jawab Nino mulai bersemangat.
Nino pun akhirnya tumbuh menjadi remaja laki-laki yang pintar. Bahkan, ia bisa masuk ke SMP favorit yang ada di kota D dengan nilai tertinggi. Hanya satu yang membuatnya termotivasi, Aretta.
"Gue pastiin, bakal sukses disini. Dan nanti, saat gue kembali ke kota A, gue nggak akan malu lagi untuk ketemu sama orang tua lo, Aretta!" Ucap Nino yang selalu termotivasi jika mengingat Aretta.
Nino begitu fokus untuk sukses, demi masa depannya yang akan ia bangun bersama perempuan pujaannya, Aretta.
Meski kala itu, Aretta tidak mengetahuinya. Namun Nino begitu yakin akan satu hal. Cintanya yang ditanamkan kepada Aretta, akan menuai hasil pada waktunya kelak.
"Ha Nino. Nanti pulang sekolah, kita belajar kelompok di rumahku yuk? Ada hal yang masih belum aku mengerti dari penjelasan guru tadi." Ucap Putri, gadis cantik yang juga satu kelas dengan Nino.
Nino memang selalu cuek dengan setiap gadis yang mencoba mendekatinya. Karena tujuan hidupnya adalah benar-benar hanya satu, Aretta.
Nino juga terkenal dengan julukan 'si kutu buku dari kutub utara'. Bagaimana tidak, sikap dinginnya hampir pada semua siswa, dan tangannya yang tidak pernah lepas dari buku, membuatnya mendapat predikat demikian.
Berkat kegigihan Nino dalam belajar, ia bisa diterima di SMA favorit yang ada di tempatnya, beberapa tahun kemudian. Dengan nilai teratas juga pastinya. Fokusnya pada satu tujuan membuatnya segigih itu untuk mencapai puncak keberhasilan.
"Nino, tadi ada telfon dari Putri. Katanya, suruh kamu untuk telefon balik." Ucap ibu Nino saat mereka sedang makan malam di rumahnya.
"Biarin aja lah, Bu! Lain kali, kalau ada yang nanyain, bilang aku nggak ada!" Ucap Nino yang terus mengunyah makanannya.
"Jangan gitu dong, Nino! Mau sampai kapan kamu seperti ini terus? Sudah hampir 5 tahun kita disini, tapi kamu belum punya teman. Jangankan teman perempuan, teman laki-laki juga nggak ada." Ucap Ibu.
"Aku nggak butuh temen, Bu. Lagian, yang penting aku belajar dengan giat dan terus berprestasi kan? Apa itu kurang buat ibu?"
"Belajar dan berprestasi memang penting, tapi bersosialisasi juga penting, Nino!" Ibu Nino masih mencoba menasehati anaknya.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar dulu, besok ada ulangan." Ucap Nino yang sudah beranjak dari duduknya.
"Abisin dulu makannya!" Ucap Ibu.
Namun ucapan ibu tidak digubris sama sekali oleh Nino, ia bahkan langsung menuju kamarnya.
"Lihat anakmu itu, Pak! Setiap kali ibu nasehatin, selalu saja seperti itu!" Ucap ibu kepada Bapak begitu Nino sudah meninggalkan meja makan.
"Mau gimana lagi, Bu! Sudah watak anak kita seperti itu." Jawab Bapak.
"Ibu benar-benar tidak mengerti dengan sikap anak kita, Pak. Apa yang ada dipikirannya cuma Aretta? Bahkan, dia tidak pernah mengabari Aretta sama sekali."
"Biarkan saja lah, Bu. Setidaknya, Aretta bisa membuatnya termotivasi. Buktinya, Nino selalu mendapatkan nilai terbaik disekolahnya."
"Bapak ini, selalu saja membela Nino."
"Sudahlah, Bu. Nggak usah dibahas lagi."
Ibu pun akhirnya hanya bisa mengelus dada. Harapan satu-satunya untuk bisa menasehati Nino melalui Bapak, pupus sudah. Karena Bapak juga tidak terlalu mempedulikan Nino. Bagi Bapak, prestasi saja sudah cukup. Karena hal itu bisa mengangkat derajat keluarga.
Sementara itu dikamar Nino.
"Gue yakin, meski tanpa teman, gue pasti bisa sukses. Semuanya Gue lakukan, buat lo Aretta. Gue akan sukses dimasa depan. Dan gue harap, lo tungguin gue! Gue nggak mau, sampai kalau membuka diri disini, gue akan tidak fokus untuk tujuan gue. Jadi, biarlah hati ini gue tutup rapat saja. Sampai suatu saat nanti, hanya lo yang bisa membukanya, Aretta." Ucap Nino sambil memandangi foto Aretta kecil yang terpasang dikamarnya.
Bahkan hampir disemua dinding kamarnya, terpasang foto Aretta kala ia kecil dulu. Foto yang didapatnya secara diam-diam. Yang bahkan Aretta sendiri tidak mengetahuinya.
Nino pun kembali membuka buku pelajarannya. Ia begitu giat belajar demi cita-citanya. Tekadnya untuk sukses menjadi langkah pasti yang harus ia kejar. Ia tidak mau, sampai jika bertemu Aretta kelak, dirinya dalam keadaan yang tidak bisa dibanggakan. Maka dari itu, ia belajar begitu giat untuk memperolehnya. Hingga mengabaikan orang-orang yang ingin dekat dengannya, walau hanya sekedar bertegur sapa.
***
Selalu dukung ARETTA terus, dengan cara selalu tinggalkan jejaknya. Berupa Like, komen, dan vote🤗
Karena itu bisa sangat membahagiakan author😍😍😍
__ADS_1