ARETTA

ARETTA
BERPAMITAN


__ADS_3

Aretta berdiri didekat Leo, bersandar pada dinding dengan melipat kedua tangan didepan dadanya. Matanya tak henti menatap Leo yang masih mengerjakan tugas mencuci piring.


"Ganteng ya, gue?" Leo berucap tanpa melirik Aretta. Matanya lebih fokus pada piring yang sedang dicucinya.


"E. . enggak kok, biasa aja!" Aretta sampai gelagapan menjawab Leo.


"Terus, ngapain lo liatin gue kaya gitu? Terpesona sama ketampanan gue?" Leo menatap Aretta dengan berkacak pinggang, karena pekerjaannya telah selesai.


"Tiap hari aja lo cuci piring disini! Kan kerjaan gue jadi lebih ringan." Tersenyum tipis.


"Oh, jadi lo mau tiap hari gue disini? Bisa, bisa! Ayo sekarang juga kita ke KUA!" Leo menarik tangan Aretta berjalan kedepan.


"Eh, bukan itu maksud gue! Gue cuma becanda tadi!"


"Salah ngomong deh gue!" Batin Aretta.


Leo menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Aretta.


"Serius juga nggak pa-pa!" Leo melipat tangannya didepan dadanya.


"Emang lo nggak mau jadi istri gue?" Leo mencoba memancing Aretta.


"Ya, enggak gitu juga!" Aretta masih kaku dengan jawabannya.


"Brarti lo mau kan jadi istri gue?" Leo mencubit lembut hidung Aretta


"Apaan sih lo?!" Aretta mengusap hidungnya yang tadi disentuh Leo.


"Nanti sore gue balik ke kota C, ya?" Leo duduk di dekat tempat tidur Aretta.


"Eh, kenapa?"


"Kan gue kerja disana! Nanti juga kalau lo udah jadi istri gue, bakal ikut kesana!"


"Oh iya gue lupa! Leo kan kerja di kota C. Tapi kok sekarang bisa jemput gue ya? Apa dia secemas itu sama gue? Sampai rela bolak-balik antar kota!" Aretta bergumam dalam hati.


"Emm,..maksud gue...makasih banyak ya atas semuanya!" Aretta mengikuti Leo duduk. Kini mereka berhadapan.


"Makasih buat apa?"


"Ya,..makasih buat semuanya."


"Semuanya apa?" Leo sengaja memojokkan Aretta dengan pertanyaannya.


"Makasih buat semua perhatian lo selama ini!" Aretta tertunduk setelah mengucapkannya.


"Udah gitu doang? Cuma makasih aja?" Tatapan Leo kembali menyelidik.


"Maksud lo?" Aretta kembali mendongakkan wajahnya.


Cup!


Leo mencium pipi Aretta tanpa ijin terlebih dulu.

__ADS_1


"Tunggu gue minggu depan ya? Rasanya, gue udah nggak sabar buat nikahin lo! Pasti seminggu kedepan, gue bakal kangen banget sama lo!"


Sementara Aretta tertunduk kembali, menyembunyikan wajahnya yang merah padam akibat malu akan perlakuan Leo barusan.


"Kalau gue ngomong, liat gue! Apa mau gue cium lagi?" Leo kembali menggoda Aretta dengan mengangkat lembut dagunya.


Kali ini Aretta lebih sigap, ia memundurkan tubuhnya menjaga jarak dari Leo.


"Hahahaha!" Leo sampai terbahak melihat tingkah Aretta. Bagaimana tidak, disaat banyak wanita mengantri untuk mendapatkan sentuhan darinya, Aretta justru menjaga jarak dengannya.


"Kenapa lo ketawa?" Aretta kebingungan dengan tingkah Leo.


"Nggak, lo lucu aja! Gue jadi makin sayang sama lo!" Leo mengusap rambut Aretta sambil masih menahan ketawanya.


"Apaan sih lo! Nggak lucu!" Aretta memonyongkan bibirnya, bak anak kecil yang sedang merajuk.


"Ngambek nih....?" Leo masih menggoda Aretta.


"Siapa juga yang ngambek!"


"Gue pulang dulu ya? Mau siap-siap dulu! Lo mau ikut nggak?" Leo memakai jaket yang tadi dilepasnya.


"Kemana?"


"Ketemu calon mertua!" Jawab Leo enteng.


"Nggak!"


Jarak antara tempat kos Aretta dan rumah orang tua Leo memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit dengan mengendarai motor.


"Nggak pa-pa."


"Nunggu gue paksa?!" Leo sudah berkacak pinggang dihadapan Aretta.


"Gue capek, Leo. Kapan-kapan aja gue ketemu ortu lo nya!" Aretta mencoba mencari alasan yang pas agar Leo tidak lagi memaksa.


"Oke, oke. Gue maklumin! Tapi nanti, lo nggak boleh nolak lagi kalau gue ajak ketemu keluarga gue?!" Leo mengancam.


"Iya, terserah lo!" Jawab Aretta tidak bersemangat.


"Nah, gitu kan enak! Gue pergi dulu ya?" Leo menyodorkan tangannya pada Aretta.


"Eh, apa ini? Dia mau salaman sama gue gitu? Tumben-tumbenan!" Pikir Aretta.


Aretta hanya menyambut uluran tangan Leo dan bersalaman layaknya dengan teman seperti biasanya, namun Leo mendorong tangannya agar dicium Aretta, bagai seorang suami yang sedang berpamitan kepada istrinya.


Leo kembali mengusap rambut Aretta dan bergegas pergi dengan motornya. Sementara itu, Aretta langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat. Ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Dasar Leo! Selalu saja bertingkah konyol tiap sama gue! Pake mau cium tangan segala lagi? Eh, ini wangi apa ya?" Aretta bergumam sendiri dan mengendus pada tempat tidurnya yang juga tadi bekas Leo.


"Bahkan wanginya masih menempel disini! Ah, Leo!" Pikirannya masih memikirkan banyak hal tentang Leo. Hingga ia terlelap dan akhirnya tidur.


***

__ADS_1


Tok, tok, tok


Pintu kamar Aretta diketuk, membangunkan dari tidur lelap. Aretta pun bergegas membuka pintu.


"Leo?" Ucap Aretta ketika pintu sudah dibuka.


"Della, bukan Leo! Cieee pikirannya Leo terus." Della yang sudah berdiri didepan pintu, menggoda Aretta.


"Apaan sih lo, Del? Sini masuk!" Aretta mempersilahkan Della masuk.


"Nyampe jam berapa lo?" Della sudah mengambil posisi duduk.


"Tadi sekitar jam 10an." Aretta kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Leo jemput lo kan?"


"Kok lo tau? Oh, jangan-jangan lo yang nyuruh Leo buat jemput gue?!" Aretta beranjak dari posisinya yang tadi berbaring, kini berubah duduk.


"Menurut lo?! Gue kasian sama dia, khawatir banget sama lo! Sampe nelfonin gue tiap jam nanyain lo!" Della menjelaskan.


"Masa? Sekhawatir itu dia?" Aretta sampai tidak percaya dengan ucapan Della.


"Iyaaa, bahkan dia langsung balik kesini ketika tau kalau nenek lo meninggal. Sayangnya, gue nggak tau alamat lengkap rumah lo yang di kota A, jadi dia nggak bisa nyusul lo deh."


"Segitunya dia sama gue! Eh Del, menurut lo, gue cocok nggak sama Leo?" Tanya Aretta tiba-tiba yang membuat Della terkejut.


"Maksud lo?!" Della meyakinkan pertanyaan Aretta barusan.


"Dia bilang, minggu depan mau ketemu ortu gue, kira-kira dia serius nggak ya?" Aretta berbicara dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Setau gue, Leo nggak pernah seserius ini sama cewek. Bahkan, cewek yang ngejar-ngejar dia pun, selalu dia cuekin."


"Lo nggak bohong kan, Del?"


"Ngapain juga gue bohong sama lo?!"


"Eh, Del. Lo laper nggak?"


"Ya, laper lah, secara baru balik kerja belum sempet beli makan. Cari makan yuk!" Della mengajak Aretta.


"Lo makan disini aja! Tadi gue masak, Leo yang minta!" Ucap Aretta yang masih menghiasi wajahnya dengan senyum.


"Lo nggak sakit kan?" Della meletakan telapak tangannya pada kening Aretta dan bergantian pada pipi serta leher, memeriksa kalau temannya dalam keadaan sehat.


"Apaan sih lo, Del!" Aretta menepis tangan Della.


"Apa aja yang lo lakuin seharian sama Leo? Hayo ngakuuu!" Della kembali menggoda Aretta.


"Apaan sih? Makan gih sana, ambil sendiri di dapur!" Aretta kembali merebahkan tubuhnya dan masih tersenyum sendiri.


Like, komen, rateβ˜†5 dan vote.✌


Terimakasih sudah setia

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2