ARETTA

ARETTA
KERJASAMA YANG BAIK


__ADS_3

Malam itu seperti biasanya, ibu membereskan dagangan dan menutup warungnya. Kali ini dilakukannya sendiri, karena Aretta masih belum pulih benar. Namun tiba-tiba aktivitasnya terhenti saat suara motor berhenti tepat di depan rumahnya. Seketika ibupun mengalihkan fokusnya.


"Baru tutup, bu ?" Ucap pria pengendara motor tersebut yang tak lain adalah ayah.


"Iya." Ibu hanya menjawab singkat.


"Aretta gimana keadaannya, bu ?" Ucap ayah yang kini telah berada disamping ibu.


"Udah agak mendingan."


"Ayah ke kamar Aretta dulu yaa." Ucap ayah berlalu meninggalkan ibu dan menuju kamar anaknya.


Sedangkan ibu tidak membalas perkataan ayah. Ia masih sibuk dengan kegiatannya kala itu. Hingga ia menyelesaikan semuanya sendirian. Ibu pun melepas lelah di kursi tempatnya biasa duduk.


"Sudah selesai bu, beres-beresnya ?" Tanya ayah yang kini berada disamping ibu.


"Sudah." Jawab ibu masih acuh.


"Aretta nungguin ibu dikamarnya." Ucap ayah.


Tanpa berpikir panjang, ibu segera menuju kamar Aretta dan meninggalkan ayah yang masih duduk berniat menemaninya.


"Are, ada apa ?" Ucap ibu khawatir.


"Nggak pa-pa, bu. Are cuma pengen ditemani ibu aja." Ucap Aretta yang masih lemas.


"Are mau ibu bikinin susu coklat nggak ? Tadi siang temen Are kan, bawain." Ucap ibu.


"Susu coklat ? Ah, Nino. Begitu perhatiannya dia." Ucap Aretta dalam hati.


"Nanti aja, bu."


"Ya udah, sekarang Are istirahat yah. Kalau masih lemes, besok ijin lagi aja, nggak usah masuk sekolah." Pinta ibu.


"Are sekolah aja, bu. Kan, nanti bisa bawa sepeda, biar Tati yang suruh bawanya. Are yang dibonceng."


"Are yakin ?" Tanya ibu yang masih meragukan kondisi anaknya.


"Iya, bu. Lagian, Are bosen dirumah terus. Enakan sekolah, banyak temen."


"Ya udah terserah Are aja." Ucap ibu akhirnya mengalah.


"Bu, Are boleh minta sesuatu nggak ?" Tanya Are menggenggam tangan ibunya.


"Minta aja, kalau ibu mampu, pasti ibu kabulkan."


"Bener ya, bu. Kalau nggak, Are bisa sakit lagi. Nggak tau bisa sembuh lagi nggak ?" Ucap Aretta sedikit mengancam.


"Hus, jangan ngomong sembarangan ah !" Ucap ibu yang tidak menyukai ucapan anaknya.


"Makanya ibu harus ngabulin permintaan Are."

__ADS_1


"Iya deh, iya." Ibu akhirnya mengalah.


"Janji ?" Ucap Aretta mengacungkan jari kelingkingnya.


"Pake janji segala ?" Tanya ibu yang mulai curiga dengan permintaan anaknya.


"Ya udah janji aja !" Aretta memaksa mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking ibu.


"Apa boleh buat, ibu dipaksa. Emangnya, Are pengen apa sih ? Pake janji segala."


"Are pengen, ibu sama ayah balikan lagi." Ucap Aretta yang seketika membuat jantung ibu berdetak kencang.


Deg !


"Kalau untuk itu, ibu belum bisa jawab."


"Kenapa, bu ?" Tanya Aretta kecewa.


"Meskipun sekarang ibu dan ayah belum resmi bercerai dimata hukum, tapi ayah sudah menceraikan ibu secara agama. Dan kalaupun nantinya ayah sama ibu harus kembali lagi, itu artinya, kita harus menikah lagi secara agama. Lagian, ayah kamu kan sudah punya istri lagi." Ibu menjelaskan.


"Berarti, Are nggak akan sembuh kayanya." Ucap Aretta yang kembali lemas.


"Kok gitu ?" Tanya ibu penasaran.


"Ya abisnya, ibu nggak nurutin kemauan Are sih. Padahal kan ibu sudah janji." Ucap Aretta mulai kesal.


"Bu, ayah mau bicara. Kita bicaranya diluar aja yuk !" Ucap ayah yang tiba-tiba datang ke kamar Aretta.


Ibupun akhirnya keluar dari kamar Aretta dan mengikuti ayah ke ruangan depan.


"Ada yang mau ayah bicarakan." Ucap ayah ketika mereka telah duduk di kursi biasa.


"Bicara aja !"


"Ini, bu. Silahkan dibaca !" Ucap ayah mengeluarkan amplop coklat dari saku jaketnya.


"Apa ini ?" Tanya ibu yang masih bingung.


"Baca aja, bu !"


Ibupun akhirnya menurut. Ia membuka amplop yang diberikan ayah dan mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop. Lipatan demi lipatan kertas itu telah ibu buka. Ibu terkejut melihat isi surat tersebut.


"Ayah sudah memutuskan untuk menceraikan Rani, bu. Ini semua ayah lakukan, agar kita bisa sama-sama lagi kaya dulu." Ucap ayah tanpa ibu tanya.


"Ayah nggak nyesel ngelakuin ini ?" Ucap ibu nggak percaya


"Bukannya dulu kamu yang memilih Rani dan meninggalkanku dan Aretta ? Kenapa tiba-tiba sekarang kamu pengen balik lagi kesini ,?" Ibu membatin.


"Ini sudah menjadi keputusan ayah, bu. Ayah sudah tidak tahan hidup dengan Rani, bu. Ayah sudah pernah ceritakan tentang Rani ke ibu."


"Tapi apa tidak terlalu cepat ?"

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik, bu. Bahkan sekarang ayah sudah tidak tinggal dengan Rani. Sekarang ayah tinggal di rumah ibu, neneknya Aretta. " Ucap ayah menjelaskan.


"Oh gitu. . ."


"Jadi, ibu mau kan kembali lagi ke ayah ?" Tanya ayah yang sangat berharap.


"Bu, . ." Tiba-tiba Aretta memanggil dari dalam kamarnya.


Sontak saja, ayah dan ibu berlari menuju kamar Aretta.


Ibu sangat terkejut melihat anaknya yang kembali demam. Suhu tubuhnya kembali meninggi. Ibu panik.


"Ibu mau ambil kompres dulu !" Ucap ibu yang mau beranjak.


"Bu !" Tangan Aretta yang tiba -tiba menggenggam tangan ibu, menghentikannya seketika.


"Iya, sayang." Ibu kembali duduk disamping Aretta.


"Are hanya ingin, kita sama-sama lagi kaya dulu. Are nggak mau jadi anak broken home. Are mau punya keluarga yang utuh." Ucap Aretta lirih.


"Sekarang, Are nggak usah mikirin apa-apa dulu ya. Yang terpenting sekarang, Are sembuh dulu !" Ucap ibu mencoba menenangkan.


"Are akan tenang, kalau ibu sudah jawab iya ke ayah."


Seketika hati ibu bergejolak. Ia bingung memikirkan jawaban yang akan diberikannya pada suaminya. Disatu sisi, ibu belum bisa melupakan rasa sakit hatinya. Tapi disisi lain, ada Aretta yang sangat menginginkan kebersamaan mereka.


"Ibu mau kan bu, kembali sama ayah ?" Tanya Aretta yang sangat mengharapkan ibunya berkata iya.


"Demi Are, ibu mau kembali lagi sama ayah." Ucap ibu akhirnya.


"Bener, bu ?" Tanya Aretta yang masih tidak percaya.


"Iya. Sudah ya, sekarang harus sembuh. Ibu udah ngabulin permintaan Are." Ucap ibu membelai lembut kepala anaknya.


"Makasih ya, bu." Aretta memeluk ibu.


Seketika ibu membalas pelukan Aretta dan membelai lembut rambut Aretta yang panjang. Namun tiba-tiba ibu melepaskan pelukannya saat menyadari tubuh Aretta yang tidak lagi panas. Ibu pun memegangi kening dan leher Aretta yang sama sekali tidak menampakkan gejala demamnya.


"Kok demamnya tiba-tiba hilang?" Tanya ibu heran.


"Masa sih, bu ?" Tanya Aretta yang tidak percaya.


"Iya." Ibu meyakinkan.


"Kan tadi Are udah bilang, kalau Are bakal sembuh kalau ibu ngabulin permintaan Are. Bener kan, langsung sembuh ?" Ucap Aretta yang mulai bersemangat.


"Makasih ya, bu. Udah mau nerima ayah lagi. Ayah janji nggak akan ngecewain ibu lagi." Ucap ayah mencoba meyakinkan ibu.


"Buktikan saja semua ucapan ayah itu !" Ibu masih bicara seperlunya.


Karena bagaimanapun, kesalahan ayah masih saja terlintas dipikiran ibu. Dan sangat tidak mudah untuk menghapusnya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2