ARETTA

ARETTA
IBU NINO


__ADS_3

Hai, para readers kuh tercinta😍😍😍


Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya, ya. . .


LIKE, KOMEN DAN VOTE yang banyak


Terimakasih πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ‘Ό


🎈


Aretta pun mempersilahkan ibu tersebut masuk kedalam rumahnya. Ia juga mempersilahkannya untuk duduk disamping ibu.


"Ibu Wati kenapa? Kok nggak jualan?" Tanya ibu tersebut.


"Saya lagi kurang enak badan aja. Bu Tami ada perlu apa?" Tanya ibu pada ibu tersebut yang tak lain adalah bu Tami, teman seperjuangannya saat di Jakarta yang tak lain adalah ibu dari Nino.


"Oh gitu, tadinya saya mau belanja. Tapi malah nggak jualan. Jadi sekalian aja mampir, kangen juga sama bu Wati. Udah lama ya, kita nggak ketemu?"


"Iya, ya bu. Aretta, tolong bikinin minum untuk bu Tami!" Ucap Ibu pada Aretta yang masih berdiri didepan tamunya.


Aretta pun bergegas menuju dapur dan membuatkan minuman untuk ibu Tami.


Sementara itu, ibu sedang asik mengobrol dengan temannya yang sudah lama tak berjumpa.


"Eh, bu Wati sekarang sudah nikah lagi belum?" Tanya bu Tami.


"Saya tidak tertarik untuk menikah lagi, bu. Lebih enak hidup sendiri saja, bebas pikiran!" Jawab ibu dengan entengnya.


"Waaah, rupanya kamu lebih betah menjanda ya. . .?" Bu Tami menggoda.


"Hahahaha!" Keduanya terbahak.


Namun keduanya sama-sama menahan tawa, saat melihat Aretta sudah ada dihadapan mereka.


"Ini minumannya, bu!" Aretta meletakkan dua cangkir minuman berisikan teh manis panas di atas meja.


"Aretta, duduk disini deh!" Ucap bu Tami menepuk kursi disampingnya, mengisyaratkan agar Aretta duduk disana.


Aretta melirik kearah ibu sejenak, bertanya dalam hati seakan meminta ijin pada ibu.


Seolah memahami maksud hati anaknya, ibupun menganggukan kepalanya. Meng-iyakan pertanyaan anaknya yang tidak diucapkannya.


Aretta sudah duduk disamping bu Tami, dengan pandangan yang tidak lepas dari ibunya.

__ADS_1


"Aretta, ibu boleh peluk kamu?" Tanya bu Tami menatap lekat pada Aretta.


"I. . .iya bu, boleh!" Meski terbata, namun Aretta meng-iyakan permintaan bu Tami.


Segera bu Tami memeluk erat Aretta, seolah Aretta adalah anak yang telah lama hilang, dan baru ditemukan.


"Seandainya saja, Nino bertindak lebih cepat, tentu sekarang kamu sudah menjadi menantu ibu." Bu Tami melepaskan pelukannya.


"Namanya juga jodoh, bu. Semuanya sudah diatur!" Ucap ibu Wati.


"Maafin Nino ya, Aretta! Ibu sangat menyesal."


"Oh ya, bu. Sekarang Nino apa kabar?" Tanya Aretta mengalihkan perhatian, agar bu Tami tidak terus menerus merasa menyesali takdir.


"Nino baik! Bahkan sekarang, dia jadi manajer disebuah perusahaan di kota C. Sekarang dia sudah sukses, Aretta. Tapi sayang, karirnya tidak sesukses kehidupan asmaranya." Ucap bu Tami matanya menerawang jauh.


"Tunggu dulu! Bu Tami bilang, Nino jadi manajer di kota C? Bukannya itu kota tempat kerja Leo ya? Ah, mungkin ini hanya kebetulan saja. Lagian, kota C kan luas. Sudahlah, bukan hal penting juga!" Gumam Aretta.


"Eh, bu. Andai saja dulu saya tidak pergi dari sini secara tiba-tiba, mungkin kita sudah besanan sekarang, ya?" Ucap bu Tami kembali mengingat masa lalunya.


Flashback on


"Bu, kemaren ada Nino lho nengokin Aretta kesini!" Ucap Wati yang kala itu tidak sengaja bertemu Tami di pasar.


"Masa sih, bu?" Tanya Tami penasaran.


Saat ibu dan ayah memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, tak lama setelahnya, bu Tami dan suaminya juga ikut menyusul.


"Iya, bu. Nino sampai bawain roti dan susu coklat segala lho, bu. Saya sampai kaget liatnya." Ucap Wati.


"Waaah, Nino nggak pernah cerita, bu."


"Masa sih, bu?" Wati sampai tidak percaya mendengarnya.


"Iya. Eh, bu. Gimana, kalau Nino dan Aretta kita jodohin aja? Kayanya mereka saling suka, deh!" Ucap Tami antusias.


"Kalau saya mah, terserah anaknya saja , bu. Toh, kalau memang nantinya mereka berjodoh, pasti nanti dipersatukan!" Ucap Wati yang tidak mau memaksakan kehendaknya.


Karena bagaimanapun, jodoh Aretta, biar Aretta saja yang menentukan. Ia tidak mau terlalu ikut campur masalah percintaan anaknya.


"Wah, saya tidak sabar rasanya, biar Nino cepet gede terus langsung menikah dengan Aretta!" Ucap bu Tami tersenyum sendiri.


Sementara itu, ibu hanya tersenyum tipis mendengar ucapan bu Tami.

__ADS_1


Flashback off


"Sudahlah, bu. Jangan terlalu menyesali masa lalu! Mungkin ini sudah jalannya!" Ucap bu Wati menengahi.


"Iya, bu. Tapi saya masih sedikit menyesal, andai saja waktu bisa diputar! Pasti semuanya tidak akan seperti ini!"


"Silahkan diminum dulu bu, tehnya!" Ucap Aretta.


Ia benar-benar sudah membiarkan bu Tami tenggelam dalam penyesalan. Bahkan, ia baru tahu, kalau dirinya dan Nino dijodohkan dari kecil. Andai saja dia tahu! Namun Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah.


"Oh ya, bu. Suami Aretta orang mana?" Tanya Bu Tami.


"Orang dari kota B, tapi bekerja di kota C." Jawab Ibu singkat.


"Waah, pasti dia pria yang sangat beruntung ya? Bisa menikahi gadis secantik dan sebaik Aretta." Bu Tami memegangi pipi Aretta.


Bahkan tangannya tidak mau lepas menggenggam tangan Aretta semenjak kedatangannya tadi.


"Iya, dia pria yang sangat beruntung. Tapi Aretta juga gadis yang sangat beruntung, Leo adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Bahkan, Leo langsung melamar Arettta meski belum lama berkenalan. Mungkin sudah jodoh kali ya, bu." Ibu tersenyum tipis.


"Iya ya, bu." Jawab bu Tami.


Suasana hening sejenak, tidak ada percakapan untuk beberapa saat.


"Aretta!" Bu Tami memecah keheningan.


"Iya, bu!"


"Atas nama Nino, ibu minta maaf! Selama ini, dia belum bisa melupakanmu. Bahkan, semua gadis yang ibu datangkan, selalu ditolaknya."


"Aku udah maafin Nino kok, bu. Semoga Nino bisa menemukan jodohnya dengan segera, ya?" Ucap Aretta menggenggam tangan bu Tami.


"Makasih, Aretta!" Bu Tami langsung memeluk Aretta.


Bu Wati yang melihat pemandangan didepannya hanya bisa tersenyum. Sesekali bu Wati teringat ucapan bu Tami yang sangat mengharapkan Aretta sebagai menantunya, "semoga saja kita jadi besanan ya, bu. Saya sangat mengharapkan Aretta jadi mantu saya lho, bu. Sudah cantik, baik, pinter masak, mandiri lagi!" Ucap bu Tami kala itu.


"Aretta, bu Wati, saya pamit pulang dulu, ya? Sepertinya, sudah terlalu lama saya disini!" Ucap bu Tami mulai beranjak dari duduknya.


"Iya, bu. Makasih lho, udah mampir!" Jawab ibu sembari ikut beranjak dari duduknya.


"Iya, bu Wati. Saya permisi dulu ya? Semoga kamu bahagia ya?" Ucap bu Tami mengecup kening Aretta.


Aretta pun hanya bisa pasrah menerima perlakukan dari bu Tami. Posisinya serba salah kala itu. Disatu sisi, bu Tami adalah sahabat ibu. Tapi disisi lain, bu Tami juga adalah ibu dari Nino, pria yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya. Meski itu terbilang sangat singkat.

__ADS_1


__ADS_2