ARETTA

ARETTA
LDR


__ADS_3

Terimakasih yang sudah mendukung ARETTA sampai saat ini. Lanjutkan terus like, komen dan vote nya.😍😍😍


I love you allπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Aretta dan Leo kini sudah kembali ke kota C. Kota yang merupakan perantauan Aretta dan kota asal Leo. Tidak ada drama malam pertama pada pengantin baru yang sedang dimabuk cinta itu.


Leo segera memboyong Aretta selang sehari setelah acara pernikahan. Ia memutuskan kembali lebih cepat, meski libur cuti mereka masih tersisa dua hari lagi. Alasannya, tentu saja karena mereka tidak betah berlama-lama tinggal dengan ibu tiri super matre seperti Karin. Dan pilihan tinggal bersama ibupun tidak mungkin, karena akan membuat mereka menahan adegan-adegan kemesraan nantinya.


"Kenapa kita nggak tinggal di rumah orang tua gue aja?" Tanya Leo yang sudah merebahkan diri ditempat tidur kosan Aretta.


"Gue sudah nyaman disini, Leo! Tetangga kosan disini sudah seperti keluarga bagi gue." Jawab Aretta duduk disamping Leo.


"Itu karena lo belum terbiasa, sayang!" Leo mengalihkan posisi kepalanya pada pangkuan Aretta.


"Nanti ya, gue belum siap!" Ucap Aretta membelai lembut rambut Leo.


"Belum siap apa?" Leo menengadahkan kepalanya.


"Belum siap buat tinggal dirumah orang tua lo!"


"Tapi besok gue udah mulai kerja lagi. Dan gue bener-bener khawatir ninggalin lo sendirian disini."


"Bukannya sebelum kita nikah, gue udah tinggal sendiri disini?"


"Apa lo resign aja? Nanti gue ngomong sama Della." Leo sudah beranjak duduk.


"Jangan sekarang Leo! Gue masih harus menyelesaikan beberapa hal lagi!" Ucap Aretta memelas.


"Baiklah, lo menang!" Leo duduk bersandar dengan wajah kesal.


"Nanti juga pasti gue resign! Lo sabar ya?" Aretta memegang lengan Leo mesra.


Leo menatap wajah Aretta yang memelas. Rasa iba melihat orang yang dicintainya seperti itu membuatnya mengalah, untuk menuruti keinginannya.


Pandangan mereka bertemu, saling beradu tatap. Hingga Wajah mereka sudah berjarak hanya beberapa senti saja.


Cup!


Leo mengecup lembut bibir Aretta.


Dilihatnya, Aretta tidak memberikan penolakan. Kembali Leo melanjutkan aksinya, kali ini lebih jauh. Bukan saja ciuman lembut, kini berubah menjadi ciuman panas yang sudah menyatu dengan nafsu. Tangan Leo pun sudah mulai tidak bisa dikondisikan. Mencari-cari bagian tubuh Aretta yang bisa ia sentuh sekenanya.


"Stop Leo!" Aretta mendorong tubuh Leo.


"Kenapa?" Leo mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan.


"Gue masih belum selesai datang bulan!" Jawab Aretta menundukkan kepalanya.


Leo tidak menjawab, nafasnya masih menderu. Ia terdiam mengatur pikirannya agar kembali normal.


"Maafin gue, Leo!" Aretta menundukkan kepalanya, tak terasa bulir bening menetes dari sudut matanya.


"Hei, kenapa nangis?" Leo mengusap air mata yang menetes dipipi Aretta.


Aretta tidak menjawab, tangisnya semakin pecah, menyadari dirinya tidak berguna sebagai seorang istri.


"Gue ngerti kok! Gue nggak akan maksa lo! Maafin gue ya, yang udah kelewatan sama lo!" Leo memeluk Aretta, menenangkan istri yang sangat merasa bersalah.

__ADS_1


***


Leo sudah kembali ke kota C, Aretta juga sudah kembali bekerja seperti biasa. Aktivitas sudah kembali berjalan normal. Pengantin baru yang harusnya masih menikmati masa indah bersama, kini masih belum bisa merasakannya. Karena harus terpisah jarak dengan tanggung jawab masing-masing.


"Hai, sayang!" Ucap Leo dari seberang telefon.


Karena tuntutan pekerjaan, membuat Leo harus berjauhan dengan Aretta. Ia bahkan hampir tiap jam menelfon istrinya. Hanya untuk memastikan, kalau istrinya tidak sedang dekat dengan pria lain. Ya, begitulah Leo dengan kecemburuannya yang cukup besar.


"Hai!" Aretta menjawab singkat sembari membaringkan tubuhnya di tempat tidur kosan.


"Gue kangen!"


"Gue tau!"


"Kok bisa? Lo peramal ya?" Leo tersenyum mendengar jawaban istrinya.


"Lo hampir ngomongin itu tiap jam, Leo!"


"Hahahaha!" Leo terbahak.


"Kenapa ketawa?"


"Ya lucu aja! Bahkan lo sampai hafal gitu yang mau gue omongin."


"Gimana nggak hafal, orang tiap jam yang diomongin itu terus!"


"Lo cepetan resign deh! Terus ikut gue kesini! Masa udah nikah tapi masih tinggal jauhan?"


"Kan, gue udah bilang, nanti!"


"Gue nggak mau tau, pokoknya minggu depan lo harus resign dan langsung ikut gue kesini! Kalau nggak, gue yang akan ngomong langsung ke Della!" Leo menutup telefonnya sepihak.


Tok,tok


Pintu kamar Aretta diketuk.


"Siapa?" Tanya Aretta dari dalam kamarnya.


"Gue, Della!" Jawab Della dari luar.


"Masuk, Del!"


Della pun masuk ke kamar Aretta setelah yang empunya kamar mengijinkannya masuk.


"Hai pengantin baru!" Ucap della duduk disebelah Aretta.


"Apaan sih lo!" Aretta masih menghadapi layar ponselnya, memainkan game kesukaannya.


"Sorry ya, kemaren gue nggak bisa ikut ke acara pernikahan lo?"


"Nggak pa-pa, Del. Gue juga ngerti kali!"


"Eh, barusan Leo nelfon gue!"


"Oh ya? Apa katanya?!" Tanya Aretta antusias.


"Katanya, lo suruh resign. Yaaah, gue bakal sedih deh, kehilangan admin terbaik!" Della menyandarkan kepalanya pada bahu Aretta.

__ADS_1


"Serius Leo bilang gitu?!" Aretta masih tidak percaya mendengar pernyataan Della.


"Serius lah! Masa gue bohong!" Della menegakkan kembali kepalanya.


"Rencananya gue mau resign bulan depan. Tapi Leo udah ngomong sama lo duluan. Ya udah terpaksa, resign gue percepat minggu depan. Nggak pa-pa, kan?" Tanya Aretta pada sahabat sekaligus manajernya itu.


"Ya nggak pa-pa laah, nanti gue bantu buat urus semuanya!"


"Makasih ya, Del!"


"Sama-sama. Ya lagian, lo tega banget. Masih pengantin baru udah jauhan sama suami Lo."


"Ya mau gimana lagi? Udah tanggung jawab kerja masing-masing!" Jawab Aretta ringan.


Kriiiiing, kriiiiing


Ponsel Aretta kembali berdering.


"Iya, hallo!" Ucap Aretta ketika sudah mengangkat telefonnya.


"Hai, sayaang!" Leo menyapa dari seberang.


"Gue balik ah!" Ucap Della yang begegas meninggalkan Aretta.


"Ada siapa itu?" Tanya Leo yang mendengar suara Della dari seberang telefon.


"Oh, itu barusan ada Della. Sekarang udah balik kok!"


"Beneran Della?" Leo penasaran.


"Iya, Leo. . . !" Aretta masih mencoba meyakinkan.


"Oh!" Leo menjawab singkat.


"Kenapa udah nelfon lagi? Lo kangen lagi?!" Tanya Aretta.


"Kenapa, nggak boleh?!" Leo balik bertanya.


"Emang lo nggak ada kerjaan apa? Tiap jam nelfonin gue terus!"


"Males kerjanya juga, nggak ada lo disini! Masa pengantin baru tinggalnya jauhan?!" Leo berkata dengan nada kesal.


"Minggu depan gue resign." Ucap Aretta pada akhirnya.


"Lo serius?!"


"Iya, Leo sayaaaang!" Ucap Aretta yang membuat Leo diseberang telfon senyum-senyum sendiri.


Baru kali ini Aretta menyebutnya dengan kata sayang.


"Gue nggak sabar, pengen cepet minggu depan!"


"Lagian, lo pake ngomong sama Della segala!"


"Tapi itu berhasil kan? Biar lo bisa resign secepatnya?" Leo tersenyum puas dari seberang telfon.


"Iya, iya, kali ini lo menang!" Ucap Aretta mengalah.

__ADS_1


Begitulah kemesraan sepasang pengantin baru yang masih terhalang jarak. Keduanya hanya bisa melepas rindu melalui jaringan telefon.


__ADS_2