
Hai readers, selamat membaca yaa🤗
Rencananya author mau ngasih visual para tokoh, biar kalian tau, gimana sih cantiknya Aretta?
Jangan lupa jejak like, komen, rate ☆5, dan vote sebanyak-banyaknya.
enjooooyy!!!
🎈🎈🎈🎈
Motor yang dikendarai Alvin berhenti tepat didepan rumah ayah Aretta. Diteras rumah sudah duduk ayah dan Karin yang sedang bersantai sambil menikmati teh hangat dan singkong rebus.
"Makasih, Kak!" Aretta turun dari motor Alvin dan hendak bergegas masuk kedalam rumah.
"Kamu nggak nyuruh aku turun dulu? Tawarin minum gitu, haus tau!" Alvin membuka helm dan memarkirkan motornya. Ia juga bersalaman dengan ayah dan Karin.
"Nggak salah denger??!! Mau pake minum segala lagi, bukannya langsung pulang aja! Bisa disidang nih, sama ayah!!!" Aretta bergumam dalam hati.
Alvin kemudian mengambil posisi duduk di sebelah ayah. Ia juga mencoba bersikap ramah dengan mengajak ayah mengobrol.
"Lagi santai ya om, tante?" Alvin membuka pembicaraan.
"Hmm!" Ayah hanya membalas tanpa bicara.
"Kamu pacarnya Aretta?" Karin bertanya pada Alvin. Pertanyaan Karin tersebut berhasil membuat mata Alvin terbelalak.
"Bu,.bukan, tante!" Alvin sampai terbata menjawab pertanyaan Karin tersebut.
"Dia itu kakak kelas Are! Tadi maksa pengen nganterin, jadi nggak usah punya pikiran macam-macam deh!" Aretta keluar membawa segelas air putih dingin dan memberikannya pada Alvin.
Aretta masih teringat jelas peringatan dari ayahnya yang mengatakan "Jangan berani-beraninya kamu pacaran selama masih sekolah!!! Kalau kamu berani pacaran, ayah akan kirim kamu ke pesantren!!!"
Dulu, Aretta memang takut jika harus tinggal di pesantren dan harus jauh dari orang tuanya. Tapi kalau dipikir lagi, "kenapa aku dulu nggak pacaran aja ya? Tinggal dipesantren sepertinya lebih baik dari disini!" Aretta berpikir dalam hatinya.
"Kalau udah selesai minumnya, kakak boleh pulang. Makasih ya, udah mau nganterin aku sampe rumah!" Ucap Aretta pada Alvin dan bergegas kembali ke kamarnya. Sementara itu, Alvin menjadi salah tingkah karena berada di antara orang tua Aretta. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
Aretta merebahkan dirinya ditempat tidur, melepas lelah sejenak setelah hampir seharian bersekolah.
Triiing
Ponsel Aretta berbunyi menandakan ada yang menelpon.
Lala
Nama yang tertera pada layar telpon.
"Iya, La!" Aretta mengangkat telpon dengan suara malasnya.
"Jadi nge-band gak? Kita udah nungguin nih!" Suara Lala dari seberang.
"Jadi, emang sekarang jam berapa?"
"Jam empat. Ayo buruan, kita udah di studio! Kalo dalam sepuluh menit kamu nggak dateng, kita bakal marah besar!"
Lala menutup teleponnya secara sepihak.
Aretta langsung tersadar dengan ucapan Lala.
"Ya Tuhan, aku bener-bener ketiduran!" Aretta segera mengganti pakaiannya yang masih berseragam dan bergegas berangkat menuju studio band yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Ia berlari menuju jalan raya, dan segera memberhentikan angkot yang kebetulan lewat.
__ADS_1
Tak berapa lama pun angkot berhenti tepat didepan studio yang letaknya memang pinggir jalan raya.
"Maaf, maaf, aku telat!" Ucap Aretta begitu mengetahui kalau kedua sahabatnya itu sudah terlebih dulu sampai di studio.
"Ayo langsung masuk!" Tati bergegas masuk.
Aretta memang memiliki bakat yang sangat luar biasa, selain cantik dan pintar, ia juga pandai memainkan alat musik bass. Ditambah lagi suaranya yang memang bagus, membuatnya semakin digemari para cowok.
Aretta sudah bersiap pada posisinya, pemegang bass sekaligus vokalis. Lala memegang drum, dan Tati pemain gitar melodi.
"Nyanyi apa kita?" Tanya Lala yang sudah memegang stik drum.
"Ceria, J-Rock!!!" Ucap Aretta mantap.
"Tu, wa, ga, pat!" Lala memberi aba-aba dengan saling memukulkan kedua stik drum.
Musikpun mulai dimainkan, Aretta juga mulai bernyanyi
***Hari ini kudendangkan
Lagu yang ingin kunyanyikan
Terkenang semua kenangan
Yang telah kualami
Ingin kubuka lembar baru
Untuk meneruskan hidupku
Tak mau lagi kesedihan
Semua orang ingin bahagia
Menjalani hidup di dunia ini
Ingin kubukakan jawaban
Misteri kesenangan yang sejati***
***Hari ini kudendangkan
Lagu yang ingin kunyanyikan
Terkenang semua kenangan
Yang telah kualami
Menari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
Tertawa dan selalu ceria
Berikanku arti hidup ini
Menari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
__ADS_1
Tertawa dan selalu ceria
Berikanku arti hidup ini
Menari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
Tertawa dan selalu ceria
Berikanku arti hidup ini***
Sumber:Â Musixmatch
Penulis lagu: Iman Taufik Rachman
Prok, prok, prook!
Suara tepuk tangan terdengar dari luar studio. Rupanya itu adalah anggota band yang lain, yang sedang mengantri menunggu giliran untuk memakai studio.
Sementara tiga sahabat yang ada didalam studio saling menatap heran. Bagaimana tidak, niat mereka yang hanya ingin menyalurkan hobi, berbuah manis karena banyaknya tepuk tangan yang didapat.
Setelah menyelesaikan latihannya, Aretta dan kedua sahabatnyapun bergegas keluar. Namun lagi-lagi mereka dibuat heran karena diluar studio begitu banyak orang yang menontonnya sedari tadi.
"Apa-apaan ini, kenapa banyak orang gini? Kan, jadi malu aku!" Ucap Tati yang berbisik pada Lala.
"Udah, tenang aja! Anggep aja, kalau kita ini adalah artis yang baru selesai manggung. Dan mereka adalah fans yang setia menanti!
Jadi, nggak usah gugup!" Ucap Lala yang berjalan dengan santainya.
Sementara itu, Aretta yang berjalan paling depan, sudah dihadang oleh banyak remaja laki-laki yang dari tadi mengagumi suaranya. Tentu saja bukan semata karena suaranya, tapi yang paling penting adalah parasnya yang sangat cantik.
"Boleh minta poto nggak?"
"Boleh minta nomor hape nggak?"
"Boleh kenalan nggak?"
Begitulah sekiranya pertanyaan-pertanyaan yang menghadang langkah Aretta.
Tapi Aretta tidak sedikitpun menghentikan langkahnya, ia terus menatap kedepan dan melewati para cowok yang berusaha mendapatkan informasi tentangnya.
"Pantas saja kalau ayah memperlakukanmu seperti mutiara yang tidak boleh keluar dari kerang!" Ucap Lala setelah mereka sudah memastikan diri tidak ada yang mengikutinya lagi.
"Maksudnya?" Tanya Aretta heran.
"Iya, kan kamu selalu bilang. Kalau ayah itu sangat memperhatikan banget semua tingkah laku kamu, baik disekolah maupun dirumah. Terlebih lagi kalau ada cowok yang mendekat. Ayah pasti siaga satu!"
"Ngomong apa sih kamu, La?! Aku makin nggak ngerti!" Aretta masih bingung dengan arah pembicaraan Lala.
"Karena kamu itu istimewa, Aretta! Kamu itu sempurna, liat saja mereka! Bahkan mereka rela saling dorong, demi mendapatkan informasi tentangmu! Karena kamu itu mutiara yang harus dilindungi!" Lala menjelaskan.
"Hahahaha,...!" Aretta tertawa mendengar pernyataan Lala.
Sementara Lala dan Tati saling tatap, melihat tingkah Aretta yang menertawakan ucapan Lala.
"Kenapa ketawa, Are?" Tanya Tati heran.
"Gini deh ya, La....! Sebagus dan semahalnya mutiara juga harus keluar dari cangkangnya, agar bisa memperlihatkan keindahannya pada dunia luar!" Aretta masih terkekeh menahan ketawanya.
__ADS_1
Begitulah Aretta yang selalu bisa tertawa lepas jika berada diluar rumah dengan kedua sahabatnya. Tapi hal itu tidak akan bisa ditemukan, jika ia sudah berada di rumah bersama ayah dan Karin.