ARETTA

ARETTA
MASA PENANTIAN


__ADS_3

Sehari berselang setelah kepergian Leo ke kota C. Aretta sudah kembali bekerja seperti biasa.


Seperti biasa juga Aretta berbaring telungkup di tempat tidurnya, melepas lelah setelah seharian bekerja. Ia memandangi layar hp yang tanpa foto. Hatinya menunggu seseorang akan menelponnya. Namun belum juga ada tanda-tanda akan ada penelpon.


Triiiiiinnggg


Ponsel berbunyi saat Aretta sudah membaringkan kepalanya dengan posisi tubuh yang masih telungkup.


Dion


Nama penelpon tang tertera di layar.


"Huuuh!" Aretta menghela napas panjang setelah mengetahui si penelpon adalah orang yang tidak diharapkannya.


"Ya, hallo!" Aretta tidak bersemangat mengangkat telefon.


"Hai, Re!" Ucap Dion dari seberang telefon.


"Ada apa, Yon?" Aretta masih tidak bersemangat.


"Nggak pa-pa. Lo udah makan?" Tanya Dion.


"Udah tadi."


"Tadinya kalau lo belum makan, mau gue bawain ayam bakar kesukaan lo!"


"Nggak usah,Yon. Gue udah makan kok!"


"Minggu besok, lo ada acara nggak?" Ucap Dion ragu-ragu.


"Minggu besok, gue mau pulang, Yon!"


"Pulang kemana?"


"Mau pulang kampung!"


"Gue anterin lo ya?" Dion antusias.


"Nggak usah, Yon." Aretta masih mencoba berkata lembut.


"Kenapa? Gue rela kok, anterin lo sampe rumah!" Dion masih membujuk.


"Gue pulangnya sama Leo!" Aretta akhirnya mengucapkannya.


"Sudah sejauh itukah hubungan lo sama Leo?"


Dion berubah suaranya menjadi tidak bergairah.


"Maksud lo?" Aretta tidak mengerti maksud ucapan Dion.


"Bahkan, lo sampai ajak Leo buat ikut pulang ke kota asal lo! Berarti lo udah sangat serius dengan Leo. Gue pikir, lo hanya menjadikan Leo sebagai alat lo untuk jauhin gue!"


"Gue nggak sejahat itu, Yon! Gue ngantuk, udah dulu ya!" Aretta menutup telefonnya secara sepihak.


"Huuuh, kenapa mesti Dion sih yang telefon?" Aretta masih merasa kesal sendiri.


Ponsel Aretta kembali berbunyi.


"Plis deh, ngertiin guee! Jangan ganggu gue lagi, Dion!" Ucap Aretta masih kesal sebelum melihat layar ponselnya.


Leo


Nama penelpon di layar ponsel.


"Ya ampun, untung gue belum angkat telfonnya!" Aretta mengubah posisinya menjadi duduk dengan memeluk bantal.

__ADS_1


"Ya, Hallo!" Aretta menyapa.


"Lama banget sih lo?" Leo berkata dengan nada kesal.


"Baru juga telfon, udah marah-marah!" Gumam Aretta dalam hati.


"Lo mau telfon atau mau marah?" Aretta menjawab dengan nada kesal juga.


"Lagian lo lama banget angkat telfonnya."


"Ya sorry!" Aretta memelankan suaranya.


"Hehe, nggak ada yang bisa marah sama lo kok!" Leo tersenyum dari seberang.


"Oh!" Aretta hanya menjawab singkat.


"Ngambek. . . ?" Leo menggoda Aretta.


"Nggak!"


"Bilang aja kalo ngambek?!"


"Siapa juga yang ngambek?!" Masih dengan nada ketusnya.


"Itu buktinya ngomongnya masih ketus gitu?!"


"Gue enggak ngambek, Leo. . ."


"Sayang, harusnya gitu!" Leo meneruskan kalimat Aretta.


"Apaan sih lo?!"


"Kalau lo nggak ngambek, ngomongnya jangan gitu! Harusnya gini, gue enggak ngambek Leo sayaaang!" Leo mengajari Aretta.


"Gue enggak ngambek Leo, sayang!" Aretta menekan kata terakhirnya.


"Udah, ah! Lo nelfon gue cuma buat godain gue doang?!" Aretta kembali merasa kesal.


"Kalo iya, kenapa?"


"Kalau iya, gue tutup lagi!"


"Gue kangen banget sama lo!" Akhirnya Leo mengucapkannya juga.


"Masa?!" Aretta balik menggoda Leo.


"Iya, sayaaaang!"


"Nggak percaya!"


"Apa perlu gue balik sekarang juga???" Leo mengancam, kali ini benar-benar serius.


Aretta kembali mengingat ucapan Leo kala itu. Kala Leo mengucapkan akan menemui Aretta, beberapa jam setelahnya Leo sudah ada dihadapannya. Meski saat itu mereka berbeda kota


"Nggak usah, gue percaya kok!"


"Percaya apa?!" Leo kembali menggoda.


"Percaya kalau lo kangen gue!"


"Lo kangen gue nggak?!"


"Baru juga kemaren ketemu!"


"Berarti lo nggak kangen sama gue? Ya udah gue tutup aja lah telefonnya!"

__ADS_1


"Iya, gue juga kangen lo! Puas?" Aretta mengucapkannya meski dengan tersipu malu.


"Puas dong!"


Begitulah Aretta dan Leo yang selalu bercengkrama melalui telefon seluler, meski sering kali membicarakan hal yang tidak penting. Bahkan terkadang, mereka berselisih paham. Namun tak lama kemudian, mereka kembali mesra. Hubungan mereka sungguh lucu.


Setiap hari selama seminggu terakhir, mereka lewati dengan bertelfon ria. Bahkan beberapa teman mulai merasa heran dengan perubahan sikap Aretta yang tidak lagi seperti gunung es.


"Gue liatin akhir-akhir ini, lo suka senyum-senyum sendiri! Lo sehat kan?" Ucap Lana yang saat itu sedang duduk didekat Aretta.


Bahkan, Lana sampai menempelkan telapak tangannya pada kening dan leher Aretta.


"Apaan sih lo?" Aretta menepis tangan Lana.


"Ya lagian, sikap lo aneh akhir-akhir ini!"


"Gue jadi merinding deket sama lo!" Ucap Intan yang juga berada disitu.


"Itu sih lagi kena demam cintanya Leo!" Della juga ikut menimpali.


"Lo lagi jatuh cinta, Are???" Vanya sampai tidak percaya.


"Kalian apaan sih?" Jawab Aretta yang masih fokus pada layar handphonenya.


"Cieeee, Aretta jatuh cinta!" Semua penghuni kosan pun menggoda Aretta.


Sementara itu, Aretta tidak bisa berbuat banyak. Wajahnya yang merah padam sudah menjadi jawaban atas pertanyaan yang dilemparkan oleh teman-temannya.


Ditengah tawa anak kos yang menggema, tiba-tiba datang sebuah sepeda motor yang sudah tidak asing lagi.


"Kok nggak bilang dulu?!" Aretta terkejut melihat Leo sudah ada dihadapannya.


"Emangnya harus ya?" Leo balik bertanya.


"Kan, gue bisa siap-siap dulu."


"Gue juga pengen liat wajah calon istri gue tanpa make up kali!" Leo menuju Aretta yanh sedang berkumpul dengan teman-teman kosnya.


"Cieeeee. . . yang mau ketemu camer!" Vanya menggoda.


"Apaan sih lo?" Aretta mencoba menyangkal.


"Kayanya kita harus balik kandang deh, guys. Bisa jadi nyamuk kalau lama-lama disini!" Intan ikut bicara.


Para tetangga kosan pun kembali menuju kamar masing-masing, mereka tidak ingin mengganggu dua orang yang saling jatuh cinta itu.


"Lo mau minum dulu? Gue ambilin ya?" Aretta menawarkan pada Leo.


"Gue maunya elo!" Leo menatap tajam wajah Aretta yang tanpa polesan make up sedikitpun, namun tidak mengurangi kecantikannya.


"Maksudnya?" Aretta tidak mengerti dengan ucapan Leo.


"Udah, lo siap-siap sana! Gue tunggu disini!" Leo duduk menyadar diluar kamar Aretta.


Aretta pun bergegas masuk ke kamar, bersiap-siap. Karena hari ini mereka akan pulang ke kota asal Aretta. Seperti yang sudah dijanjikan Leo satu minggu yang lalu.


"Leo benar-benar menepati janjinya! Bagaimana kalau ayah tidak suka? Bagaimana kalau Leo kecewa? Bagaimana kalau Karin kembali berulah?" Pikiran Aretta sudah kemana-mana, memikirkan hal buruk yang akan terjadi.


"Apa yang harus gue lakukan, Tuhan? Bantu gue agar semuanya menjadi mudah, tanpa ada orang yang dikecewakan!" Batin Aretta.


Selalu tinggalkan jejaknya ya kawan.


Like, komen, rateβ˜†5 dan vote dari kalian, merupakan suatu kehormatan bagi author.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2