
Pagi itu tidak terlihat seperti biasanya.
Ibu tidak lagi pergi ke pasar dengan ojek becak langganannya, kini ibu mengayuh sepeda hasil jerih payah ayah.
Pagi-pagi sekali disaat ayah dan Aretta masih lelap tertidur, ibu sudah bersiap untuk mengayuh sepedanya.
Tepat pukul 05.30 pagi, Aretta bangun dan bergegas mandi. Ia akan sangat marah kalau satu menit saja terlambat bangun. Mungkin karena itu sudah menjadi kebiasaan Aretta selama dirinya memasuki pendidikan sekolah dasar.
Tak lupa Aretta membangunkan ayahnya untuk bersiap bekerja. Karena hari ini Aretta akan mempunyai tugas lebih, yaitu mengantarkan ayahnya bekerja.
"Selamat pagi, buu !" Ucap Aretta dan ayah secara bersamaan ketika melihat ibunya baru datang dari pasar.
Aretta dan ayah memang kompak dalam hal ini, mereka sudah bersiap sebelum ibunya datang dari pasar.
"Selamat pagi juga. . . Tumben udah pada siap jam segini ?" Tanya ibu heran sambil memarkirkan sepedanya.
"Iya dong, bu. Kan sekarang Are harus antar ayah dulu kerja, baru setelah itu Are berangkat sekolah dengan Tati." Jawab Aretta sambil membantu memegangi sepeda ibunya.
"Ayah juga kan nggak mau kalau nanti ojek ayah marah, karena ayah bangunnya kesiangan." Ucap ayah meledek anaknya sambil membantu ibu menurunkan barang belanjaan.
"Ih, ayah. Masa cantik-cantik gini dipanggil ojek sih ?" Ucap Aretta manja.
"Sudah, sudah. Masih pagi kok udah berantem?" Ucap ibu mencoba menengahi.
"Ayah nih bu, gangguin Are aja." Ucap Aretta.
"Cieee, anak ayah maraah ." Ayah masih mengganggu anak gadisnya itu.
"Ya sudah, lebih baik kita sarapan. Ibu udah beliin nasi uduk untuk sarapan kita hari ini." Ucap ibu masuk ke dalam rumah sambil menjinjing bungkusan kecil.
"Kok tumben nasi uduk sih bu ? Biasanya bubur ayam ?" Tanya Aretta.
"Tukang bubur ayam langganannya nggak jualan, jadi ibu beli nasi uduk aja. Daripada ga sarapan hayo ?" Ucap ibu sambil menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
"Iya deh iya." Ucap Aretta mengalah.
Aretta dan ayah segera melahap sarapan yang disediakan ibu, sedangkan ibu seperti biasa menata barang dagannya.
"Ayo bu ojek, anter ayah dulu berangkat kerja." Ucap ayah bergegas setelah meghabiskan sarapannya.
__ADS_1
"Siap pak bos !" Ucap Aretta berlagak seperti seorang ajudan yang selalu siap menerima perintah dari tuannya.
"Let's goo." Ucap ayah setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal untuk dibawanya bekerja.
Keduanyapun berlalu, tentu tidak lupa setelah bersalaman dengan ibu
"Are, kalau udah gede mau jadi apa ?" Tanya ayah ditengah perjalanan menuju tempat kerjanya, sambil terus mengayuh sepeda.
"Mau jadi dokter." Jawab Aretta yang duduk d belakang ayahnya.
Ayah memang sengaja memilih sepeda yang ada bagian boncengannya. Itu semua dilakukannya, agar bisa dipakai bersama.
"Kenapa Dokter ?" Tanya ayah.
"Karena Are nggak mau, kalau suatu saat ayah sama ibu sakit, terus ayah sama ibu ga bisa berobat karena nggak punya uang. Biar Are yang obatin. Dan kalau bisa, nanti orang yang berobat sama Are, gratis." Ucap Aretta dengan polosnya.
Betapa terharunya ayah, ketika mendengar putri kecilnya itu. Hingga membuat ayah tak terasa mengeluarkan butiran jernih di ujung matanya. Apalagi kondisi keluarga mereka memang bukan dari keluarga orang mampu. Bahkan untuk menonton tv saja, mereka harus kerumah tetangga.
"Sungguh mulia cita-citamu, nak. Ayah doain, semoga apa yang Are cita-citakan terkabul."
"Aamiin." Jawab Aretta.
"Akhirnya kita sudah sampai ditempat kerja ayah. Belajar yang rajin ya, biar bisa jadi dokter." Ucap ayah sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.
"Ya sudah, pulang sana. Nanti Tati keburu dateng lagi. . ." Ucap Ayah.
"Ya udah, Are berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." Ucap Aretta sambil mencium tangan ayahnya.
"Wa'alaikumsalam." Ucap ayah.
Sementara itu Aretta segera pergi meninggalkan ayahnya yang masih berdiri mematung di depan tempat kerjanya.
Ia mengayuh sepedanya cukup cepat, karena ia nggak mau membuat sahabatnya itu menunggu terlalu lama.
Malam harinya
"Assalamu'alaikum." Ucap pria dari luar rumah yang tak lain adalah ayah Aretta.
"Wa'alaikumsalam." Ucap ibu.
__ADS_1
"Ayah pulang naik apa ?" Tanya ibu.
"Tadi ikut sama Budi pake motor, bu. Ayah nggak mau anak kita malam-malam harus jemput ayah." Ucap ayah sambil melepaskan sepatunya.
"Ooh gitu, lagian Aretta udah tidur yah. Mungkin kecapean seharian main sepeda dengan Vani." Ucap ibu lagi.
Waktu masih menunjukkan pukul 19.10.
Itu memang jam kerja ayah, selama dua belas jam. Masuk kerja jam tujuh pagi, pulang jam tujuh malam. Begitupun apabila bagian kerja malam.
Ayah melepaskan baju seragamnya dan memberikannya pada ibu, yang langsung dibawanya ke belakang untuk kemudian dicuci. Tapi alangkah terkejutnya ibu ketika mengetahui ada tanda merah muda di baju seragam ayah. Pikiran ibu saat itu tidak karuan, hatinya hancur. Ia tidak bisa membayangkan, apa yang dilakukan suaminya itu hingga mendapatkan bekas bibir merah muda pada seragam kerjanya.
"Ini apa yah ?" Ucap ibu gemetaran.
"Apanya yang apa ?" Jawab ayah yang belum mengetahui tentang pikiran ibu.
"Ayah lihat sendiri ini !" Jawab ibu seraya melemparkan baju seragam kerja kepada ayah.
"Ooh, ini tadi ditempat kerja ada yang ngasih minuman bersoda kepada ayah, kebetulan warnanya merah. Terus ayah malah ceroboh, jadi nempel deh ke baju." Ucap ayah dengan santainya.
"Ayah jangan bohong, ibu bukan anak kecil yang bisa ayah bohongi. Ayah pikir ibu sebodoh itu ?" Ucap ibu dengan nada mulai meninggi.
"Maksud ibu apa sih ? Ayah nggak ngerti !" Jawab ayah masih dengan nada santai.
"Jujur aja yah, ini bekas lipstik perempuan kan ?" Ucap ibu semakin kesal melihat tingkah suaminya yang mulai bersifat tidak biasa.
"Ya, lipstik ibu kali tadi pagi." Ucap ayah masih mengelak.
"Asal ayah tau, ibu nggak punya lipstik warna merah muda. Ini lipstik perempuan lain. Jangan-jangan selama ini, ayah main gila dibelakang ibu ?" Ucap ibu semakin meninggi.
"Maksud ibu tuh apa sih ? Ayah semakin nggak ngerti !" Ucap ayah yang mulai ikut meninggi.
"Ingat yah, serapi-rapinya ayah menutupi bangkai, lama-lama akan tercium juga bau busuknya !" Ucap ibu mengancam.
"Terserah ibu saja lah. Ayah nggak peduli ! Suami pulang bukannya dikasih makan, malah di omelin ! Kalau gini caranya, ayah pergi saja !" Ucap ayah segera meninggalkan ibu dan membanting pintu dengan keras.
Sementara itu didalam kamar.
Aretta menitikan air matanya. Ia mendengar semua percakapan kedua orang tuanya. Hatinya begitu hancur tak berkeping. Ia tak menyangka, kalau kedua orang tuanya yang selama ini ia banggakan, sampai bertengkar hebat.
__ADS_1
"hiks. . . hiks. . ."
Tangisnya masih tersedu, meski ia mencoba bersembunyi di bawah bantal. Tapi luka hatinya tak bisa ia sembunyikan.