ARETTA

ARETTA
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Tangis Aretta masih pecah bersembunyikan bantal. Sampai akhirnya pikirannya teringat pada isi surat yang baru saja dibacanya.


Kertas demi kertas telah dirobeknya. Mencoba menulis kata yang tepat untuk membalas surat dari Nino. Pikirannya masih berkecamuk, antara iya atau tidak dengan jawaban yang akan diberikannya.


"Kalau aku jawab iya, kan belum terlalu kenal. Lagian, kita kan masih sama-sama anak ingusan yang belum mengerti tentang cinta-cintaan ? Tapi kalau tidak, . ." Are bergumam sambil terus memutar otaknya mencari jawaban yang akan ditulisnya melalui sepucuk surat.


Akhirnya setelah melalui pemikiran yang panjang, Aretta menulis dengan mantap surat yang akan ditulisnya. Kata demi kata dirangkai sesopan mungkin agar tidak mengecewakan pembacanya.


Setelah selesai menulis, Aretta segera melipat selembar kertas tersebut, dan memasukannya ke dalam tas yang selalu ia bawa ke sekolah. Aretta pun mencoba memejamkan matanya, karena saat itu hari mulai menjelang malam. Sampai suara motor yang berhenti didepan rumah menggagalkan usahanya.


Aretta memasang telinganya, berusaha mendengar suara yang berada diluar.


"Aretta !" Suara pria terdengar dari luar rumah.


Aretta mendekatkan dirinya pada pintu depan, dan berharap suara itu memanggil namanya kembali.


"Aretta !" Pria diluar rumah memanggil kembali.


Segera Aretta membukakan pintu dan terkejut mendapati pria yang berdiri dihadapannya.


"Ayah. . .!" Aretta berteriak dan segera memeluk ayahnya erat-erat.


Tangisnyapun kembali pecah dipelukan ayahnya, ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Kali ini ia benar-benar mengeluarkan emosinya yang tertahan.


Sementara itu ayah hanya bisa diam melihat anaknya menangis. Ayah sengaja membiarkan anaknya meluapkan semua kekesalan yang ada pada dirinya. Bagaimanapun, ini semua adalah kesalahannya yang harus tergoda pada bujuk rayu perempuan lain.


Sedangkan ibu yang mendengar tangis Aretta, segera keluar dari kamarnya. Mencoba mencari tau hal yang membuat anaknya menangis sejadi-jadinya.


Namun langkah ibu terhenti ketika mengetahui anaknya yang tengah menangis dipelukan ayahnya.


"Sudah yuk nangisnya ! Ayah bawain ayam bakar kesukaan Are, sini ayah suapin." Ucap ayah membujuk.


Sementara itu anaknya hanya membalasnya dengan gelengan kepala.


Ayah hanya bisa pasrah menyadari dirinya begitu erat dipeluk Aretta, seolah tidak mau lepas barang sebentar.


"Are, itu ayahnya capek. Suruh duduk dulu, sayang !" Ucap ibu lembut, berusaha seolah-olah tidak terjadi apapun diantara mereka.


Aretta menurut dan menarik lengan ayah untuk duduk dikursi . Sementara itu, ibu duduk agak berjauhan dari tempat ayah.


Aretta melirik ke arah ayah dan ibu secara bergantian, masih dengan matanya yang berlinang air mata.


"Are makan dulu yuk, ayah suapin !" Ucap ayah memecah keheningan.

__ADS_1


"Are nggak lapar, ayah." Ucap Aretta.


"Dari sepulang sekolah nggak mau makan itu. Pulang-pulang langsung masuk kamarnya nggak mau keluar." Ucap ibu mengadu pada ayah.


"Apa bener itu, Are ?" Tanya ayah.


Sementara Aretta hanya diam.


"Kenapa emangnya nggak mau makan ?" Tanya ayah lembut.


"Are nggak mau makan, Are maunya ayah !" Ucap Aretta kembali menangis.


Deg !


Hati ibu berdegup keras. Otaknya mulai memikirkan tentang Aretta.


"Jangan-jangan selama ini Aretta udah tau tentang semuanya." Ibu berkata dalam hati.


Ia merasa kalau anak gadisnya sudah mengetahui semuanya. Tentang pertengkarannya, bahkan tentang rencana kedua orang tuanya yang akan segera berpisah.


"Kan, ayah ada disini." Ucap ayah lembut.


"Tapi kan, ayah nggak tiap hari ada disini." Ucap Aretta masih dengan tangis.


"Huuuuhh." Ayah menarik nafas panjang.


"Pokoknya, Are maunya ayah disini !" Ucap Aretta masih merajuk.


Sedangkan ibu yang duduk berjauhan hanya bisa melirik sesekali pada Aretta. Ia tidak tega melihat kepedihan anaknya.


"Dengerin ayah ! Saat ini, ayah nggak bisa ada disini terus. Sekarang, ayah sama ibu sudah nggak bisa sama-sama lagi. Nanti kalau Are udah gede, pasti ngerti !" Ucap ayah mencoba menjelaskan dengan sangat lembut.


"Are nggak mau tau, pokoknya ayah harus disini !" Ucap Aretta kembali pecah tangisnya.


Sementara itu, ayah sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan pada anak gadisnya itu. Ia sangat tau, kalau anak gadisnya itu sangat keras kepala dari kecil.


Ayah meraih bahu Aretta, dan membiarkan kepala anaknya terbenam di dadanya.


Sedangkan ibu juga sesekali menyeka pipinya yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Nanti kapan-kapan ayah ajakin Are deh maen ke rumah baru ayah." Ucap ayah mencoba mencairkan suasana.


Mendengar hal itu, Aretta segera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Are nggak akan kemana-mana, ayah juga ! Rumah kita disini, dan semuanya nggak akan pernah berubah !" Ucap Aretta berlari dan membanting pintu kamarnya.


Ayah hanya menghela napas.


"Ternyata sesulit ini menjelaskan pada Aretta ya, bu ?" Tanya ayah sesaat setelah keduanya tanpa obrolan.


"Ini yang paling aku takutkan !" Ucap ibu lirih.


"Untuk sekarang, ayah nggak bisa melanjutkan proses perceraian kita bu ! Alasannya, tentu saja karena Aretta." Ucap ayah menjelaskan.


"Apa maksudmu ?" Tanya ibu penasaran.


"Ayah akan tetap menjadi suami ibu, demi Aretta. Tapi ayah juga tetap tinggal di rumah Rani. Karena bagaimanapun, Rani sudah menjadi istri ayah sekarang." Ucap ayah.


"Maksud kamu, kamu mau memaduku begitu ?" Tanya ibu mulai meninggi.


"Terserah bagaimana anggapanmu. Yang terpenting sekarang adalah Aretta !"


"Kalau menurutmu yang lebih penting adalah Aretta, lalu kenapa kamu juga mementingkan perempuan simpananmu itu ?" Ucap ibu yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


"Ayah pergi dulu, bu. Tolong jaga Aretta. Nanti ayah akan sering kesini untuk mengunjungi Aretta." Ucap ayah segera berlalu meninggalkan ibu yang masih duduk mematung.


"Bisa-bisanya dia berkata seperti itu ! Dia pikir, hanya dia laki-laki didunia ini ?" Benak ibu.


"Aretta, buka pintunya sayang !" Ucap ibu didepan pintu kamar Aretta.


Tak ada jawaban


"Aretta, . . " Ibu masih membujuk Aretta.


"Aaaaaarrgggh, pergi ! Are nggak mau denger penjelasan apa-apa lagi. Pergii !" Ucap Aretta dari dalam kamarnya.


Sedangkan wanita yang ada didepan kamar anaknya itu, hanya bisa duduk tersungkur didepan pintu kamar anaknya.


"Aretta, maafin ibu, naaaak ! Ibu yang salah, nggak bisa menjaga keutuhan rumah tangga kita." Ucap ibu yang tak bisa lagi menahan tangis meski didepan anaknya.


Aretta hanya menangis mendengar ucapan ibu.


"Apa dengan cara ibu minta maaf, bisa membuat ayah balik lagi kesini ?" Ucap Aretta masih dengan tangisnya.


"Tolong Aretta, buka pintunya ! Ibu pengen peluk kamu, sayang !" Ucap ibu yang masih menangis.


Mendengar ucapan ibunya, Aretta merasa iba. Ia kemudian membukakkan pintu kamarnya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Aretta yang mendapati ibunya duduk tersungkur dihadapan pintu kamarnya.


Aretta kemudian ikut duduk bersama ibu dan memeluk ibu erat-erat, seolah nggak mau kehilangan. Mereka berduapun larut dalam keharuan yang mendalam.


__ADS_2