
10 tahun kemudian
"Are, nanti malem gue ke kosan lo ya." Ucap Dion yang sedikit berlari mengejar Aretta yang berjalan sangat cepat.
"Mau apa ?" Tanya Aretta dingin tanpa menghentikan langkahnya.
"Mau maen aja, sekalian malmingan di kosan lo. Gue bawain ikan deh, nanti kita bakar-bakar. Gimana ?" Ucap Dion dengan nada sok akrabnya.
"Gue nggak bisa !" Ucap Aretta ketus dan berlari meninggalkan Dion.
Begitulah Aretta, yang selalu bersikap dingin hampir kepada semua pria yang mencoba mendekatinya.
Kini Aretta tumbuh menjadi gadis cantik dengan body semampai. Rambut hitam panjang dan kulit putih, membuat banyak teman pria yang mencoba mendekatinya. Tapi sikap dinginnya membuat banyak pria juga kecewa dan mengurungkan niatnya untuk mendekati Aretta.
Aretta kini berumur 20 tahun dan memutuskan untuk bekerja. Dia tidak melanjutkan kuliah, dengan alasan ingin membantu ibunya. Meski jarak memisahkan, karena Aretta lebih memilih untuk bekerja di kota B. Karena menurutnya, hanya dengan cara inilah, ia bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan.
Meski tidak pernah mengenyam bangku kuliah, namun kemahirannya pada komputer, membuatnya mendapatkan posisi di bagian administrasi di kantornya.
Aretta langsung merebahkan tubuhnya pada sebuah kasur yang berada dikamar kosnya. Ia melepaskan lelah sejenak setelah seharian bekerja.
"Are, mau beli makan nggak ? Bareng ayo !" Ucap Della yang sudah berada didepan pintu kosan Aretta.
"Gue lagi males makan. Lo duluan aja." Ucap Aretta yang masih bermalas-malasan di tempat tidurnya.
Kosan Aretta sama dengan kosan yang lain. Terdiri dari lima kamar sebelah kiri, dan lima kamar sebelah kanan. Dengan semua pintu yang menghadap rumah utama. Aretta tinggal di deretan sebelah kiri rumah utama. Di kamar paling depan ditempati oleh Della, kamar kedua oleh Aretta, kamar ketiga oleh Lana, kamar keempat oleh Vanya, dan kamar kelima oleh Intan. Sedangkan kosan sebelah kanan rumah utama, Aretta tidak begitu kenal dengan para penghuninya. Selain beda kantor, mereka juga jarang bertegur sapa.
Di rumah utamalah tempat bapak kos yang punya kosan tinggal. Meski tidak ditempati seutuhnya. Hanya sesekali saja bapak kos datang ke rumahnya. Karena ia lebih memilih rumah yang lain untuk ditempati bersama anak dan istrinya.
"Bener nih ? Gue laper banget soalnya." Ucap Della yang masih berdiri didepan pintu kamar Aretta.
"Iya, lo duluan aja sana !"
Della pun pergi meninggalkan Aretta yang masih bermalas-malasan dikamarnya. Sampai ketika Aretta segera membenarkan posisinya yang semula tiduran, kini sigap berdiri tatkala mengetahui ada bapak kos telah berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ehem !" Bapak kos yang bernama pak Didi itu berdehem.
__ADS_1
"Ada apa, pa ?" Ucap Aretta yang sudah berdiri karena kaget tiba-tiba Pak Didi sudah berada didepan kamarnya yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka.
"Nggak pa-pa. Saya liat pintunya kebuka, jadi saya kesini." Ucap Pak Didi membuka pembicaraan.
"Tunggu sebentar !" Aretta bergegas mengambil dompetnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
"Ini, saya bayar kosan." Ucap Aretta menyodorkan uang kepada pak Didi.
Aretta mengerti benar, kalau sekarang adalah tanggal gajian. Itu artinya, pak Didi datang untuk menagih uang kosan.
"Aretta pengertian banget ya, belum ditagih udah ngasih." Ucap pak Didi basa-basi.
"Maaf, saya permisi dulu. Ada yang harus saya kerjakan !" Ucap Aretta yang segera menutup pintu kamarnya. Meski tau, pak Didi masih berdiri disana.
Pak Didi memang terkenal genit. Ia sering merayu anak kos dan tidak segan-segan untuk mengajak berkaraoke. Tapi disamping itu, pak Didi juga termasuk orang yang pelit.
Meski demikian, Aretta tidak mau pindah dari sana. Karena menurutnya, ia sudah merasa nyaman dengan tetangga kosan yang sudah seperti keluarga sendiri.
"Dasar ABG tua, kerjaannya godain daun muda mulu !" Ucap Aretta bergumam sendiri setelah pintu diyakininya sudah terkunci rapat.
Seperti biasa jika malam minggu datang, semua penghuni kosan tak terkecuali Aretta, berkumpul di teras kamar Della. Selain letak kamar Della yang berada paling depan, sebagian anak kos juga sudah menganggapnya sebagai kaka. Karena Della merupakan anak kos yang usianya lebih dewasa.
Aretta duduk di teras kamarnya, karena kamar Aretta letaknya bersebelahan dengan kamar Della.
"Mau kemana lo, Del ? Udah rapi aja !" Ucap Lana yang mengetahui Della baru keluar dari kamar dengan berpakaian rapi.
"Ini malam minggu, guys. Bentar lagi cowok gue mau kesini ! Lo semua jangan pada ganggu ya !" Della mengancam.
"Cieeeeeeee !" Sontak anak kosan yang sebagian jomblo menyoraki Della.
Sementara itu, Aretta hanya tersenyum tipis melihat tingkah teman-temannya.
Tak berapa lama, datang dua motor yang berhenti tepat didepan kosan Della. Sontak saja semua anak kos yang lain segera memasuki kamar masing-masing.
Hanya tersisa Aretta yang masih duduk di terasnya. Ia sedang asik bermain game di ponselnya. Hingga tidak menyadari kalau teman-temannya yang lain sudah tidak ada disana kecuali Della yang sedang menyambut tamunya.
__ADS_1
"Hai, Bony sayaang." Ucap Della saat mengetahui kalau kekasihnya sudah berada dihadapannya.
"Hai juga Della sayang" Ucap Bony membalas.
Kali ini Bony datang bersama temannya, yang masing-masing mengendarai motor klasik berukuran gede.
"Teman-teman lo pada kemana, Del ? Kok sepi ?" Ucap Leo yang tak lain adalah teman Bony.
Bony sengaja mengajak Leo, agar ia juga bisa sepertinya mengencani anak kosan.
"Udah pada bubar ! Tuh tinggal satu !" Ucap Della yang melihat Aretta masih tak bergeming dari posisi duduknya.
"Kenalin lah ! Biar gue ada temen ngobrol kalau ikut maen kesini." Bujuk Leo.
"Are, sini dulu !" Ucap Della memanggil Aretta yang tidak mempedulikannya.
"Ada apa ?" Aretta mendekati Della dengan wajah ketusnya namun terlihat tetap cantik.
"Kenalin nih temen cowok gue, namanya Leo !" Ucap Della memperkenalkan Leo. Karena Bony sudah pernah dikenalkannya pada Aretta.
"Hai, gue Leo !" Leo menyodorkan tangannya ingin berjabat tangan dengan Aretta.
"Gue masuk dulu, Del !" Tanpa mempedulikan Leo yang masih ingin bersalaman dengannya, Aretta masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat.
"Sombong banget tuh cewek !" Ucap Bony yang menyaksikan temannya di acuhkan oleh cewek.
Rasanya, baru kali ini ada yang mengacuhkan Leo. Secara, wajah tampan, tubuh tinggi, tegap dan keadaan finansial yang mencukupi, membuat hampir semua perempuan yang didekatinya, tidak pernah menolak untuk diajak sekedar berjalan-jalan. Kecuali Aretta tentunya.
"Nggak pa-pa, justru gue makin penasaran sama dia. Siapa tadi namanya ?" Leo menanyakan pada Della.
"Aretta, namanya. Dia emang gitu, selalu dingin sama semua cowok. Gue juga nggak tau alasan pastinya kenapa ?" Della mencoba menjelaskan.
"Aretta ! Nama yang cantik, secantik orangnya. Jangan panggil gue Leo, kalo gue nggak bisa ngedapetin dia." Dengan sombong Leo bicara.
"Sombong tuh cowok ! Dia pikir, gue bisa dengan mudah bertekuk lutut sama dia gitu ? Gak akan ! ! !" Ucap Aretta dalam hati yang masih mendengar suara Leo dari dalam pintu kamarnya.
__ADS_1