ARETTA

ARETTA
USAHA LEO #1


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Aretta berangkat menuju kantornya dengan berjalan kaki, kali ini sendirian. Teman-temannya yang lain masih belum berangkat. Karena hari ini akan kedatangan kunjungan dari kantor pusat, maka Aretta berangkat lebih awal. Jam diliriknya pukul enam pagi. Sedangkan jam masuk kantor adalah pukul tujuh, itu artinya ada waktu satu jam bagi Aretta untuk bisa membereskan tugas kantornya.


"Hai !" Ucap Leo yang tiba-tiba menghampiri Aretta dengan motor gedenya.


Aretta hanya diam tanpa menghiraukan Leo. Ia hanya mempercepat langkah kakinya.


"Bareng yuk !" Ucap Leo yang masih berusaha mengajak Aretta.


"Gue bisa jalan sendiri. Pergi lo !" Ucap Aretta ketus.


"Kalau gue nggak mau, gimana ?" Ucap Leo masih mengimbangi laju motornya dengan langkah Aretta.


"Terserah !" Ucap Aretta sama sekali tidak mempedulikan Leo dan terus berjalan cepat.


Jarak antara kosan dan kantor Aretta hanya sepuluh menit berjalan kaki.


"Ya udah, gue bawa motornya gini aja. Asalkan bisa bareng sama lo, gue udah seneng kok." Ucap Leo tanpa direspon Aretta.


"Nih orang rese banget, sumpah !" Aretta berucap dalam hati.


"Ngomong-ngomong, kenapa kemaren pas malem minggu gue ke kosan lo terus ngajakin lo kenalan, lo malah masuk kamar ? Grogi ya lo sama gue ?"


"Lo yang pergi atau gue yang pergi ?" Ucap Aretta seketika menghentikan langkahnya.


"Galak amat ! Jawab dulu pertanyaan gue !"


Aretta pun menghentikan sebuah motor yang ia yakini adalah temannya, Dion. Meski sebenarnya Aretta tidak ingin berdekatan dengan Dion, tapi apa boleh buat.


"Yang penting kabur dulu aja lah dari cowok aneh ini !" Aretta membatin.


"Dion !" Aretta berteriak menghentikan laju motor Dion yang kebetulan saat itu melintas.


"Hai, mau bareng ?" Tanya Dion yang merasa senang dengan Aretta yang menghentikannya.


"Gue nebeng lo ya ?" Ucap Aretta mendekat pada Dion.


"Dengan senang hati, tuan putri. . ." Ucap Dion yang memang sangat menunggu momen ini.


Aretta pun tanpa basa-basi segera menaiki motor Dion.


"Pagangan yang kuat !" Ucap Dion mencoba memanfaatkan kesempatan.


"Lo buruan ngegas atah gue turun lagi ?" Ucap Aretta mengancam.


Tanpa kembali berucap, Dion memutar gas motornya sangat cepat. Hal itu membuat Aretta terkejut dan reflek berpegangan pada pinggang Dion.


"Yes !" Ucap Dion yang memang sengaja agar dirinya bisa dipeluk Aretta.

__ADS_1


Sementara itu, Leo yang menyadari hal itu hanya bisa melihat mereka dari kejauhan.


"Lo bikin gue makin penasaran, Aretta !" Leo bergumam sendiri sambil tersenyum tipis melihat kelakuan Aretta yang sangat mengacuhkannya.


"Berhenti, berhenti !" Ucap Aretta saat mengetahui kalau dirinya sudah sampai didepan gerbang kantornya.


Sementara itu, Dion tidak mempedulikan ucapan Aretta dan malah menambah kecepatannya.


Kontan saja mereka jadi pusat perhatian seluruh pegawai yang sudah berada disana. Terlebih lagi saat diparkiran.


"Gila lo ya, bawa motor kaya setan !" Ucap Aretta setelah turun dari motor Dion.


"Kapan lagi bisa dipeluk sama cewek cantik ?" Ucap Dion sambil melepas helmnya.


Sementara itu, Aretta bergegas pergi meninggalkan Dion yang masih berada di parkiran.


"Makasih yaa !" Ucap Dion setengah berteriak.


"Buat apa dia bilang makasih ? Harusnya gue kali yang bilang makasih ! Ya Tuhan, bahkan gue nggak bilang makasih sama Dion yang sudah mau ngasih tumpangan ke gue ! Tapi bodo amat lah, suruh siapa dia nyari kesempatan biar dapet pelukan dari gue ?" Aretta membatin sepanjang jalan dari parkiran menuju meja kerjanya.


"Apes banget gue pagi ini ! Pagi-pagi ketemu Leo. Dah gitu, dibawa ngebut sama Dion. Penderitaan macam apa ini ?" Ucap Aretta setelah duduk di kursi kerjanya.


Bel tanda masuk kerja pun telah dibunyikan. Itu artinya, wajib hukumnya bagi para pegawai untuk berada diposisi kerjanya masing-masing.


"Hari ini akan ada kunjungan dari kantor pusat ya, sebisa mungkin jangan sampai ada kesalahan !" Ucap Della yang juga bertindak sebagai manajer memberi arahan.


"Baik, bu !" Semua karyawanpun kompak menjawab.


Sementara itu, Aretta memilih untuk fokus pada layar komputernya.


"Saya hanya ingin, kalian bersifat ramah kepada tamu. Setidaknya, bukan dengan cara terus menatap komputer !" Ucap salah seseorang dari kelompok tamu tersebut.


Kontan saja Aretta yang sedari tadi sibuk dengan layar komputernya, menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap tamu tersebut. Namun seketika matanya membulat, ketika mengetahui kalau orang yang berbicara tersebut tidak lain adalah orang yang tidak asing baginya.


"Bukan begitu, ibu Aretta ?" Ucap orang tersebut yang tak lain adalah Leo.


Hal itu membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut kecuali Della, dibuat terkejut melihat kalau salah satu diantata kelompok tamu tersebut, memanggil nama Aretta. Padahal tidak ada yang memperkenalkan diri masing-masing.


Della yang yang sudah mengetahui hal itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah bawahannya.


Malam sebelumnya


"Leo, besok dikantor gue mau ada kunjungan dari kantor lo kan ?" Ucap Della saat berbicara melalui telepon dengan Leo.


"Iya, Del." Ucap Leo singkat.


" Lo jadi ikut ?"

__ADS_1


"Iya lah, gue udah rencanain ini dari waktu lo bilang mau kenalin gue ke tetangga kosan lo yang super dingin itu. Gue mau tau ekspresinya nanti !" Leo tersenyum dari seberang telepon


Leo yang juga bekerja sebagai manajer di kantor pusat, memang sengaja menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamannya yang tak lain adalah tempat Aretta dan Della merantau. Sebut saja kota B.


"Oke deh. Oh ya, kok lo masih mau sih ngejar Aretta ? Padahal kan, dia ketus banget pas diajak kenalan kemaren ?" Tanya Della di telepon.


"Justru cewek kaya gitu yang gue cari, Del. Nggak gampangan ! Jadi kalo udah didapetin nanti, nggak akan gue sia-siain."


"Bukannya cewek lo banyak ya ?" Tanya Della penasaran.


"Gue sih nggak nganggep mereka cewek gue. Merekanya aja yang ngejar-ngejar gue ? Gue kasian aja, terpaksa deh gue jadiin pacar. Orang pada mau gue pacarin rame-rame ! Hahaha." Leo tertawa dari seberang sana.


"Dasar playboy cap tikus Lo !" Della mencaci Leo sambil ketawa.


"Ya bukan salah gue lah. Lagian nih ya, kalau ada cewek yang bener-bener gue sayang nantinya, gak akan gue sia-siain. Sumpah deh !"


Begitulah obrolan antara Leo dan Della berlanjut. Della yang memang sudah akrab dengan teman dari pacarnya itu, tidak merasa canggung ngobrol ngalor ngidul. Terlebih lagi, Bony yang memberi kebebasan Della untuk bebas mengobrol dengan siapa saja, termasuk temannya.


Dikantor


"I, iya pak." Jawab Aretta gugup.


"Ya Tuhan, cobaan apalagi ini ? Kenapa cowok aneh ini ada disini ?"Aretta membatin.


"Kalau gitu, tunjukkan file tentang perusahaan ini pada saya ! Apakah Absensi karyawannya bagus ?" Ucap Leo yang mendekat pada Aretta.


Della memberi kode dan membiarkan Aretta menunjukkannya sendiri pada Leo.


Sementara itu, Aretta duduk menghadap komputer. Sedangkan Leo ikut mendekatkan wajahnya pada komputer. Dan itu membuat jarak antara Leo dan Aretta begitu dekat. Bahkan Aretta bisa mencium aroma tubuh Leo yang wangi.


Deg !


"Kok jantung gue deg-degan gini ya ? Moga aja nih cowok aneh nggak denger jantung gue." Ucap Aretta dalam hati.


Leo yang memposisikan tubuhnya sangat dekat dengan Aretta, membuat gugup gadis cantik yang super dingin itu. Tentu saja, karena selama ini, belum pernah ada pria yang sangat dekat dengannya. Apalagi hanya beberapa senti saja.


Kontan saja semua karyawan yang ada di divisi Aretta dibuat iri dengan kedekatan mereka. Terlebih lagi karyawan perempuan. Karena, paras Leo yang tampan membuat perempuan manapun ingin berdekatan dengannya, kecuali Aretta


Dion yang melihat hal tersebut hanya bisa membatin, "Berani banget tuh cowok dekat-dekat sama gebetan gue !"


"Oke, terimakasih bu Aretta atas kerjasamanya !" Ucap Leo mengajak Aretta bersalaman setelah selesai membuat Aretta mati kutu.


Aretta terdiam dan akhirnya membalas jabat tangan Leo yang cukup lama.


Leo menatap Aretta tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana tidak, setelah tadi pagi Aretta menolaknya untuk berangkat bersama, kini ia bisa dengan mudah berdekatan dengan Aretta.


Aretta melepaskan tangannya dari tangan Leo, namun ia merasakan hal lain ditelapak tangannya. Ada selembar kertas kecil yang terselip diantara jemarinya.

__ADS_1


Leo tersenyum puas melihat Aretta. Sedangkan Aretta berusaha menyembunyikan kertas kecil tersebut dan menggenggamnya.


"Awas saja tuh cowok. Berani-beraninya dia mempermainkan gue ?" Aretta merasa kesal pada Leo.


__ADS_2