ARETTA

ARETTA
PENOLAKAN KARIN


__ADS_3

Aretta dan Leo sudah bersiap untuk makan malam bersama ayah dan Karin. Bukan makan malam yang istimewa memang, namun demikian, tak bisa disembunyikan wajah gugup Leo saat melangkah menuju ruang makan.


"Selamat malam om, tante!" Leo mengambil posisi duduk didekat ayah, sementara Aretta lebih memilih disebelahnya.


"Malam, Leo!" Sahut ayah yang sudah terlebih dulu berada di ruang makan.


"Ayah mau lauknya apa?" Karin sedang menyendokkan nasi dipiring ayah.


"Sayur sama ikan aja!"


Sementara itu, Aretta dan Leo sibuk mengambil makanan masing-masing. Perutnya yang mulai keroncongan setelah lelah bermain dipantai tadi, sudah tidak bisa dikompromi lagi.


"Leo kerjanya apa?" Tanya Karin disela mengunyah makanannya.


"Saya cuma karyawan biasa, Tante!" Ucap Leo.


"Serius lo?! Bukannya kata Della, lo itu manajer ya? Apa gue salah denger!" Aretta bergumam dalam hatinya.


"Cuma karyawan biasa ya?" Karin meyakinkan.


"Iya, tante."


"Emangnya nggak capek, dari kota B kesini cuma pake motor butut kaya gitu?" Karin kembali bertanya.


"Aku nggak ngrasa capek kok, lagian lebih enak pake motor, bisa lihat pemandangan bebas!" Aretta ikut menimpali.


"Ya sudah jangan banyak ngobrol kalo lagi makan, abisin dulu makanannya!" Ayah mencoba menengahi. Sepertinya tau, akan terjadi perdebatan yang serius kalau obrolan itu terus dilanjutkan.


Merekapun akhirnya fokus pada makanan masing-masing. Tidak ada obrolan lagi selama makan malam berlangsung. Hanya terdengar bunyi sendok dan piring yang saling beradu.


Makan malam pun selesai, seperti biasa ayah selalu duduk diteras setelahnya. Dengan ditemani secangkir kopi.


Leo menemani ayah didepan, sedangkan Aretta dan Karin membereskan bekas makan malam.


"Disini sepi ya kalau malem, om?" Tanya Leo sembari menghisap secangkir kopi yang sudah dibuatkan Aretta beberapa saat yang lalu.


"Namanya juga kampung, jadi wajar kalau sepi." Ayah sedikit menjelaskan.


"Oh gitu."


"Iya."


"Om, apa boleh saya bertanya sesuatu?" Leo mulai bicara akan tujuan sebenarnya, meski jantungnya saat itu dag dig dug tak karuan.


"Mau nanya apa?"


"Apakah om mengijinkan saya untuk dekat dengan anak om? Aretta selalu meminta saya agar mendapatkan ijin dari om terlebih dahulu."

__ADS_1


"Maksudnya deket dalam hal apa?"


"Emangnya kamu sudah punya apa sampai berani bicara seperti itu?"Karin tiba-tiba keluar dan ikut nimbrung.


"Untuk saat ini, saya belum punya apa-apa. Tapi saya pastikan, Aretta akan bahagia jika hidup dengan saya!" Leo masih berusaha meyakinkan.


"Alah, gaji pas-pasan aja udah berani deketin anak orang. Pasti nanti Aretta sengsara tuh yah, kalau sama dia. Buktinya aja, dia bawa Aretta kesini pake motor butut kaya gitu doang!" Karin masih berusaha agar ayah tidak menerima permintaan Leo.


"Aretta, sini!" Ayah memanggil Aretta yang saat itu masih duduk di ruang tamu.


Sebenarnya Aretta sengaja membiarkan Leo untuk meminta ijin pada ayah sendirian. Hal itu dilakukannya untuk mengetahui, seberapa seriusnya Leo dengan ucapannya.


"Iya, Yah!" Aretta bergegas keluar untuk bergabung bersama ayah dan yang lainnya.


"Sini duduk!" Ayah menepuk tempat kosong yang ada disebelahnya, yang juga dekat dengan Leo.


Aretta menurut, dan langsung mengambil posisi duduk disamping ayah.


"Jawaban ayah terserah Aretta saja. Kalau Aretta mau sama kamu, ayah bisa apa?" Ayah memegang lembut tangan Aretta.


"Emang jawaban buat apa, yah?" Aretta pura-pura tidak mengerti dengan ucapan ayah. Padahal, jelas-jelas ia menguping dari dalam.


"Leo, kamu ngomong sendiri sama Aretta!" Pinta ayah.


Leo pun menatap Aretta terlebih dulu, hingga mata mereka bertemu.


"Eh, kok pake mau bawa keluarga segala? Dia nggak bilang sebelumnya? Apa ini cuma akal-akalannya saja? Tapi kalau dia serius,... Ya sudahlah, terserah dia saja!" Aretta bergumam sendiri.


"Tuh kan, Yah. Aretta aja nggak mau jawab. Pasti mau bilang enggak mau tuh!" Karin masih dengan nada sinisnya.


"Gue nggak peduli lo mau ngomong apa! Gue akan tunjukin semuanya besok. Lo liat aja nanti!" Gumam Leo.


"Jawabannya adala iya." Aretta berucap dengan cepat, hingga membuat mata Karin membulat bahkan lebih kepada melotot.


"Kamu pasti bercanda kan, Aretta? Jelas-jelas Ken yang lebih segalanya dari dia, kamu tolak mentah-mentah!" Karin masih tidak percaya dengan jawaban Aretta.


"Aku serius! Aku mau jadi teman dekat Leo, aku mau keluarga Leo besok kesini, aku mau semuanya tentang Leo!" Aretta menekan ucapannya pada kata terakhirnya.


"Kamu sudah bener-bener gila, Aretta!" Karin semakin kesal mendengar jawaban Aretta, ia pun bergegas meninggalkan Aretta dan yang lainnya.


"Sudah, jangan terlalu dipikirin. Yang penting Aretta bahagia, ayah ikut bahagia." Ayah tersenyum puas.


"Makasih, Om!" Leo mencium tangan ayah. Perasaan bahagianya tidak bisa ditutupi, hingga membuat senyum lebar selalu menghiasi wajahnya.


"Tapi, besok beneran orang tua kamu mau kesini? Emangnya sudah tau alamat disini?" Tanya ayah penasaran.


"Iya, om. Saya sudah kasih tau sama orang tua saya buat mempersiapkan semuanya. Jadi besok sekitar jam 10 pagi, mereka sudah bisa sampai sini." Leo meyakinkan ayah.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu, ayah masuk dulu. Kalian ngobrol aja dulu!" Ayah meninggalkan Aretta bersama Leo.


Suasana hening sejenak. Aretta dan Leo sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Tadi lo ngomngnya serius kan?" Tanya Leo pada Aretta.


"Lo nggak suka emang?" Aretta kembali dengan nada ketusnya.


"Gue suka banget. Apalagi, waktu lo bilang kalau lo menginginkan semua tentang gue."


"Kenapa emang?"


"Rasanya, gue kaya lagi diatas awan. Ulangi lagi dong kalimat itunya!" Leo memohon pada Aretta.


"Jangan lebay deh lo!"


"Gue serius!"


"Lupain aja! Tapi ngomong-ngomong, lo serius mau bawa ortu lo kesini besok?" Aretta mengalihkan pembicaraan.


"Ya serius lah! Mana pernah gue main-main sama lo?"


"Iya juga sih! Selama ini, lo selalu buktiin semua ucapan lo!" Gumam Aretta.


"Mau ngapain emang?" Aretta semakin penasaran.


"Lo tau sendiri besok!"


"Dasar pelit!" Aretta merasa kesal dengan tingkah Leo yang tidak mau menjawabnya dengan jujur.


"Pasti nanti malem lo nggak bisa tidur kan?" Leo menggoda Aretta.


"Apa hubungannya?"


"Mikirin kedatangan keluarga gue! Mereka itu semuanya galak lho, bisa makan orang, apalagi kalau orangnya cantik kaya lo!" Leo kembali menggoda Aretta.


"Apaan sih lo???" Aretta mencubit perut Leo, hingga Leo meringis kesakitan.


"Kejam banget sih lo!" Leo masih memegangi perutnya.


"Bodo amat!"


"Hahahahaha!" Leo terbahak melihat tingkah Aretta yang seperti anak kecil. Marah saat keinginannya tidak terpenuhi.


Maaf baru sempet up lagi๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Selalu tinggalkan jejak like, komen, rateโ˜†5 dan vote juga ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2