
Aretta pun memperdengarkan rekaman perbincangannya dengan Nino, kepada Bony.
"Benar-benar kurang ajar! Harus gue beri pelajaran dia!" Ucap Bony hendak menemui Nino.
"Jangan Bon!" Aretta menahan Bony yang akan bergegas pergi dari tempatnya.
"Tapi dia sudah keterlaluan!" Bony masih memendam amarahnya.
"Gue ngerti! Tapi bukan gini caranya!"
Mereka berduapun sejenak diam. Bony terlihat mengontrol emosinya yang sudah mulai meninggi. Sedangkan Aretta memutar otak untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Bony setelah amarahnya cukup mereda.
"Lo punya pengacara buat kasusnya Leo, kan?" Tanya Aretta kembali.
"Ya."
"Kita serahkan saja semuanya pada pengacara. Gue pengen masalah ini cepet selesai. Gue nggak tega liat Leo lama-lama di penjara!"
"Oke! Sekarang, lo kirimin rekaman pembicaraan lo sama Nino. Nanti biar gue yang urus semuanya." Ucap Bony meyakinkan.
"Oke, gue kirimin sekarang." Ucap Aretta yang segera mengirim rekaman pembicaraannya pada Bony.
"Gue akan urus semuanya sekarang. Lo tenang aja, dalam waktu dekat, Leo pasti bakal pulang ke rumah."
"Thank's, Bon."
"Oh, iya. Lo ngga pa-pa kan, pulang sendiri? Nanti biar gue pesenin taksi." Ucap Bony.
"Santai aja kali, Bon! Gue bisa pulang sendiri."
Aretta pun akhirnya pulang setelah memesan taksi online. Tanpa harus menunggu terlalu lama. Di kota besar, memang tidak sulit untuk mencari taksi online.
***
Aretta pun duduk menghadap layar televisi dengan pikiran yang entah kemana. Matanya menerawang jauh. Hingga suara Bi Surti yang dari tadi menyapanya tidak ia dengar.
"Mbak, Mbak Aretta!" Panggil Bi Surti beberapa kali.
"Eh, iya Bi. Maaf, aku ngelamun. Ada apa?" Jawab Aretta setelah tersadar dari lamunannya.
"Mbak mau saya buatin minum?" Tanya Bi Surti.
"Iya, bi. Boleh! Bikin es jeruk ya, Bi. Biar seger." Jawab Aretta.
"Siap, Mbak!" Ucap Bi Surti yang segera menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk majikannya.
__ADS_1
Sementara Aretta kembali menatap televisi yang menayangkan FTV, namun matanya kembali menerawang jauh.
"Apa gue kasih tau aja orang tua Leo kali ya? Ah, tapi Leo sudah berpesan untuk tidak mengabari siapapun, termasuk keluarganya. Tapi, apa bisa gue biarin ini semua terjadi begitu saja? Tapi, Bony juga sudah meyakinkan banget. Kalau Leo akan segera bebas. Gimana ini?" Gumam Aretta.
"Ini Mbak, es jeruknya!" Ucap Bi Surti yang sudah membawakan pesanan Aretta.
"Eh, iya makasih Bi! Sini duduk Bi!" Ucap Aretta, seperti biasa mengajak Bi Surti menonton acara televisi kesukaanya.
"Iya, Mbak. Makasih." Jawab Bi Surti yang sudah tidak terlalu sungkan dengan Aretta.
"Oh iya, Mbak. Gimana kabarnya Mas Leo?" Tanya Bi Surti tiba-tiba.
"Leo baik, kok Bi! Doain ya, biar Leo cepet pulang lagi kesini!" Jawab Aretta yang sudah terlihat lebih tegar.
"Iya, Mbak. Bibi selalu doain Mas Leo, biar bisa cepet pulang lagi ke rumah."
"Makasih ya, Bi." Jawab Aretta menyeruput es jeruk yang ada dihadapannya.
"Aku ke kamar dulu ya, Bi! Kalau mau nonton, nonton aja!"
"Makasih, Mbak."
Aretta pun bergegas menuju kamarnya, merebahkan tubuh yang cukup lelah setelah aktivitasnya.
Kriìiiiiing
"Nomor tidak dikenal? Siapa ya?" Gumam Aretta.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilannya.
"Hallo!" Sapa Aretta.
"Hai, masih ingat gue?" Sapa orang dari seberang.
"Siapa?" Tanya Aretta penasaran.
"Masa lupa sih? Baru juga ketemu barusan!"
"Nino?" Ucap Aretta yang mendengar suara si penelpon tidak asing lagi.
"Ternyata sedalam itu cinta lo sama gue, Aretta! Bahkan, lo masih inget suara gue!" Ucap si penelpon yang tak lain adalah Nino.
"Dapet nomor darimana lo?" Tanya Aretta keheranan, karena selama ini, ia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada Nino.
"Jangankan nomor lo, alamat rumah lo yang sekarang juga gue tau. Apa mau gue kesana sekarang? Mumpung nggak ada suami lo!"
"Lo bener-bener 'sakit', Nino!"
__ADS_1
"Hahahahah! Ini semua karena lo, Aretta! Menikahlah sama gue secepatnya, maka gue akan sembuh dari 'sakit' gue!"
"Lo menakutkan!" Ucap Aretta segera mematikan sambungan teleponnya.
Aretta pun segera berlari menuruni tangga dan memastikan semua pintu dan jendela terkunci.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Bi Surti keheranan melihat Aretta berlari panik menutup semua pintu dan jendela.
"Bi, tolong pastiin semua pintu dan jendela tertutup rapat. Jangan biarkan ada orang masuk, kecuali Bony. Gerbang juga tolong dikunci ya, Bi!" Ucap Aretta yang terlihat sangat panik.
Ia pun akhirnya teringat Bony. Segera ia menelpon Bony.
"Halo, Bon! Tolongin gue!" Ucap Aretta begiti sambungan teleponnya diangkat dari seberang oleh Bony.
"Ada apa?" Tanya Bony yang juga ikut khawatir.
"Barusan Nino telepon gue! Katanya, dia tau alamat rumah gue. Dia juga masih terus ngancam gue, agar mau menikah sama dia!" Jawab Aretta setengah ketakutan.
"Benar-benar kurang ajar, tuh orang! Liat aja, gue pasti bakal bikin dia nyesel!" Ucap Bony kembali tersulut amarahnya.
"Jangan gegabah, Bon! Lo cukup awasi gerak-gerik dia! Jangan sampai dia pergi kesini!" Ucap Aretta.
"Oke, lo tenang ya! Gue nggak akan biarin dia lolos dari pengawasan gue!" Ucap Bony.
"Thank's, Bon!" Ucap Aretta mengakhiri sambungan teleponnya.
Aretta pun kembali duduk di ruang keluarga, menatap layar televisi namun dengan pandangan kosong.
"Mbak, Aretta baik-baik aja?" Tanya Bi Surti setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat.
Aretta pun tak kuasa untuk memeluk Bi Surti. Tangisnya kembali pecah dipelukan wanita paruh baya tersebut.
Bi Surti pun tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya membiarkan Aretta menangis dipelukannya.
"Kasian sekali kamu, Mbak! Baru juga menikah, tapi cobaanmu begitu berat! Bibi jadi nggak tega liatnya!" Batin Bi Surti.
Aretta pun menumpahkan semua masalah yang dipendamnya melalui tangis yang ia biarkan pecah dihadapan Bi Surti. Asisten rumah tangga yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Karena bagaimanapun, hidup berjauhan dengan keluarga sangat sulit. Terlebih lagi dengan masalah yang dihadapinya sekarang.
Tapi Aretta dan Leo sudah saling berkomitmen, untuk tidak memberitahukan masalah ini kepada anggota keluarga. Baik anggota keluarga dari pihak Leo, maupun dari pihak Aretta. Karena bagi mereka, masalah sebesar apapun, jangan sampai membuat keluarga terbebani, khususnya orang tua.
Aretta juga menyayangkan sifat Nino yang berubah 180 derajat. Nino yang sekarang, tidak semanis Nino yang dulu. Nino yang sekarang, justru berubah menjadi orang asing yang bisa menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ia jadi teringat ucapan ibunya Nino kala berkunjung ke rumah ibunya. Entah ini ada hubungannya atau tidak. Yang jelas, Aretta semakin curiga, saat ibu Nino meminta maaf kepadanya atas nama Nino berkali-kali.
***
TERUS DUKUNG AUTHOR YA, DENGAN CARA SELALU LIKE, KOMEN DAN VOTE SETIAP BABNYA.😍😍😍
__ADS_1
TERIMAKSIH🤗🤗🤗