
Saat itu Aretta tengah berbincang dengan Della dan anak kos lainnya di teras kamar Della. Hal yang sudah menjadi rutinitas mereka setiap pulang kerja.
"Eh, Del. Gimana kabar cowok lo ? Ada perkembangan apa ?" Tanya Vanya yang dijuluki sebagai Ratu kepo dikosan.
"Perkembangan apa, apanya maksud lo ?" Della balik bertanya.
"Ya, kali aja ada perkembangan apa gitu. Ngelamar misalnya !" Vanya masih penasaran.
"Gue juga nggak tau, Van. Dia masih sibuk ngurusin hobinya !" Della menjelaskan.
Bony yang notabene adalah ketua genk motor, memang selalu sibuk dengan jabatannya itu. Pantas saja, kalau Della sering cek cok karena merasa kurang perhatian dari Bony.
"Lo nggak coba nanya gitu ?" Lana ikut nyeletuk.
"Nanya gimana maksud lo ?" Della kembali bertanya.
"Ya, nanya. Kapan dia mau nikahin lo ? Secara, umur lo bentar lagi mau kepala tiga. Mau pacaran seumur hidup lo ?" Ucap Lana.
"Gue juga maunya cepet nikah, Lan. Tapi, masa iya gue yang agresif duluan sih ? Kesannya gue ngarep banget gitu !" Ucap Della.
Tiba-tiba saat asyik ngobrol, ponsel Aretta berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Dilihatnya layar, "Nomor tidak dikenal lagi !" Ucap Aretta dalam hati.
"Angkat dong, Re ! Brisik tau." Intan mengingatkan Aretta yang masih belum mau mengangkat teleponnya.
"Dari siapa emang ?" Vanya ingin tau.
"Nomor baru lagi !" Aretta menunjukkan layar ponselnya.
"Ya, angkat lah. Kali aja penting !" Ucap Della.
"Paling juga Leo !" Aretta masih kekeh pada pendiriannya yang tidak mau mengangkat teleponnya.
"Coba gue lihat !" Della kemudian mencocokkan nomor yang menelepon Aretta dengan kontak Leo di ponselnya.
"Ini bukan nomor Leo. Nih lo lihat sendiri !" Della menunjukkan kontak Leo diponselnya.
Mengetahui hal itu, Aretta hendak menekan tombol hijau pada layar ponselnya. Tapi gerakannya kalah cepat, karena panggilan tersebut sudah diakhiri oleh si penelpon.
"Ya, keburu mati, Del !" Ucap Aretta sedikit kesal.
"Lo sih, lama !" Ucap vanya.
"Gue masuk dulu ya, cape !" Aretta bergegas menuju kamar kosnya. Tapi saat ia telah menutup pintu, teleponnya kembali berbunyi. Dengan layar di ponsel menunjukkan nomor yang sama. Segera saja Aretta menekan tombol hijau.
"Hallo !" Sapa Aretta.
"Hai, akhirnya diangkat juga !" Ucap orang dari seberang.
"Siapa ini ?" Aretta yang tidak pernah basa-basi, langsung bertanya.
__ADS_1
"Cinta pertamamu, Nino !" Ucap orang dari seberang yang ternyata adalah Nino.
Saat mendengar nama yang diucapkan si penelpon, jantung Aretta berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Nino, benarkah ini Nino ? Darimana ia bisa tau nomor gue ? Ah, rasanya jantung gue mau copot." Ucap Aretta dalam hati.
Bagaimana tidak, setelah Nino memutuskan pindah sekolah di kota D, sudah tidak pernah lagi mereka berkomunikasi. Bahkan, nasib hubungan cinta monyet merekapun tidak jelas akhirnya.
"Oh, hai !" Aretta yang masih merasa kikuk pun akhirnya membalas sapaan Nino.
"Apa kabar, Are ?" Nino bertanya.
"Baik. Kok bisa tau nomor gue ?" Aretta pun akhirnya menanyakan.
"Dikasih Lala. Kebetulan sekarang gue udah balik lagi ke kota A. Jadi gue langsung minta nomor lo ke Lala." Nino menjelaskan.
"Ooh" Aretta menjawab singkat.
Flashback On
"Ayo Nino, kita harus pergi sekarang juga ! Satu jam lagi keretanya berangkat." Ucap ibu Nino dengan raut tergesa-gesa.
"Kenapa harus pergi sih, bu ? Nino udah betah banget tinggal disini !" Ucap Nino yang kala itu masih kelas enam sekolah dasar.
"Ayah kamu dipindah tugaskan ke kota D. Mau nggak mau, kita juga harus ikut !" Ucap ibu Nino.
"Tapi ada yang harus Nino selesaikan dulu disini, bu !" Ucap Nino masih belum mau bergeming.
Ayah Nino yang kala itu adalah seorang TNI angkatan darat, harus selalu siap jika tiba-tiba dipindah tugaskan secara mendadak seperti saat itu.
"Sekarang kita harus segera pergi. Sebentar lagi kereta kita akan berangkat. Kita benar-benar tidak punya waktu lagi. Ayah kamu sudah menunggu di stasiun." Ucap ibu Nino lagi bergegas setelah membujuk Nino.
"Maafkan aku, Aretta. Harus pergi meninggalkanmu tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Ini semua diluar kendaliku. Aku menyayangimu, Aretta !" Nino membatin dalam hatinya.
Karena saat itu tidak ada yang bisa dilakukannya selain menuruti kehendak orang tuanya.
Flashback Off
"Halo, hallllooooooo !" Ucap Nino yang merasa tidak dihiraukan oleh Aretta.
"Oh, maaf Nino !" Aretta akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Lo ngelamun, Are ?"
"Oh, nggak kok. Ada apa lo nelpon gue ?" Tanya Aretta masih dengan nada bicaranya yang khas.
"Gue kangen ! Sepuluh tahun gue tinggal di kota D, tapi yang terlintas di benak gue cuma senyum manis lo aja !"
"Oh !"Aretta hanya menanggapi dingin ucapan Nino.
__ADS_1
"Lo kenapa ? Marah sama gue ?" Nino bertanya dari seberang telepon.
"Menurut lo ?" Aretta kembali ketus.
"Gue minta maaf, Are ! Gue tau gue salah, gue nggak punya pilihan lain saat itu !" Nino memelas.
"Maksudnya ?" Tanya Aretta tidak mengerti.
"Saat itu umur gue baru dua belas tahun, dan gue bener-bener dalam kondisi yang sangat sulit."
"Gue nggak ngerti arah pembicaraan lo !"
"Ayah gue dipindah tugaskan secara mendadak. Dan gue bener-bener nggak punya pilihan lain, selain menuruti orang tua gue. Bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal ke lo." Nino berusaha meyakinkan Aretta.
Akhirnya Aretta berusaha mengerti keadaan Nino saat itu, meski kekecewaan yang ia rasakan tidak bisa terobati secepatnya.
"Maafin gue, Nino !" Aretta menurunkan emosinya.
"Ini semua salah gue, Are. Kalau saja waktu itu gue nitip surat ke Lala, pasti lo nggak akan berpikir macem-macem sama gue !"
"Hiks, hiks." Aretta akhirnya meluapkan emosinya yang selama sepuluh tahun ini dipendamnya.
"Hei, lo nangis, Are ?" Nino merasa semakin bersalah pada Aretta.
"Apa perlu sekarang gue nyusul ke kota B buat ketemu lo ? Rasanya, gue pengen menghapus air mata lo. Gue pengen nenangin lo ! Gue bener-bener tersiksa jauh dari lo." Nino merasa semakin bersalah terhadap Aretta.
"Nggak usah, Nino ! Gue baik-baik aja, kok. Lo nggak perlu repot-repot kesini !"
"Tapi, tetep aja gue ngerasa bersalah."
"Ini bukan sepenuhnya salah lo, kok ! Hanya saja keadaan yang memaksa kita untuk tidak bisa bersama."
"Maksud lo ?" Nino merasa penasaran dengan ucapan Aretta.
"Nggak ada, lupain aja !" Aretta mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, apa bisa kita kaya dulu lagi ? Melanjutkan kembali kisah cinta kita yang tertunda ?" Nino akhirnya memberanikan diri.
"Kamu datang disaat yang tidak tepat, Nino. Andai saja waktu bisa diputar kembali, pasti kisah kita akan terus berlanjut." Ucap Aretta dalam hati.
"Maafin gue, Nino !"
"Maaf buat apa ?"
"Hati gue sudah tertutup. Dan yang menutup hati gue itu adalah, lo ! Bahkan, gue juga nggak tau, hati gue bisa terbuka lagi atau nggak ?" Jawab Aretta.
"Ijinkan gue buat membuka kembali hati lo !" Nino masih berusaha membujuk.
"Maaf !" Aretta menutup sambungan telponnya secara sepihak. Ia membiarkan dirinya dalam tangisan.
__ADS_1
Aretta benar-benar tidak tau apa keputusannya saat itu menolak Nino, adalah keputusan yang benar atau salah. Yang ia tau, hatinya benar-benar tertutup untuk setiap cinta yang datang.