ARETTA

ARETTA
MENJALANKAN RENCANA


__ADS_3

Beberapa hari ini, ayah semakin rutin mengunjungi Aretta. Dengan berbagai alasan, mulai dari mengantarkan makanan kesukaan Aretta, membelikan pakaian, hingga mengajak Aretta pergi jalan-jalan.


Pagi itu tak seperti biasanya Aretta belum bangun dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


"Aretta, bangun ! Ini udah siang." Ucap ibu sedikit berteriak saat mengetahui anak gadisnya belum juga beranjak dari tempat tidur.


Namun yang empunya nama belum juga menampakkan batang hidungnya.


Ibu bergegas masuk ke kamar Aretta, dan alangkah terkejutnya ibu ketika mengetahui anaknya yang masih berselimut tebal.


"Aretta !" Ucap ibu mendekatkan diri pada tubuh Aretta dan memegangi kening hingga leher Aretta.


Ibupun panik ketika mengetahui kalau suhu tubuh Aretta sangatlah panas. Ia segera mengambilkan air hangat dan handuk kecil yang kemudian mengompres kening Aretta.


Ibu makin panik begitu mengetahui suhu tubuh Aretta yang tidak mau turun. Segera ia berlari pada tetangga dan meminta untuk menelponkan ayah Aretta. Karena sebetapapun parahnya sakit Aretta, akan sembuh dengan cepat jika ada ayah disampingnya. Entah teori macam apa itu.


Ibu masih panik sampai tidak mempedulikan pembeli yang datang ke warungnya. Hingga Tati datang seperti biasa untuk mengajak Aretta berangkat sekolah bersama-sama.


"Aretta. . ." Tati memanggil dengan suara khas anak kecil.


"Tati, sini !" Ucap ibu memanggil Tati agar mendekat.


"Kenapa, bu ?" Tanya Tati.


"Ibu nitip surat aja, ya. Aretta nggak bisa masuk sekolah. Badannya panas dari tadi pagi." Ucap Ibu memberikan surat kepada Tati.


"Oh, ya udah nggak pa-pa, bu. Nanti Tati sampaikan ke Bu guru." Ucap Tati yang segera mengambil surat yang diberikan ibu Aretta.


Tati pun pergi meninggalkan Ibu aretta, tentunya setelah berpamitan pada ibu.


Tak berapa lama, ayah datang dengan tergesa-gesa.


Ibu segera berlari menuju pintu depan begitu mendengar suara motor berhenti, dan berharap itu adalah ayah.


Benar saja, orang yang telah sedari tadi ditunggunya, kini telah datang.


"Aretta panas, yah. Udah ibu kompres, tapi panasnya nggak mau turun." Ucap ibu ketika menghampiri ayah.


"Udah dari kapan, bu ?" Tanya ayah yang segera menuju kamar Aretta.


"Ibu taunya baru tadi pagi." Jawab ibu.


"Udah dikasih obat belum, bu ?" Tanya ayah ketika tiba dikamar Aretta.


"Belum, yah." Ucap ibu yang masih panik.

__ADS_1


"Kita bawa ke berobat ke klinik aja ya, bu ?" Ucap ayah masih memegangi kening dan leher Aretta.


"Iya, yah. Ibu ganti baju dulu sebentar." Ucap ibu segera berlalu menuju kamar pribadinya.


"Are, bangun. Ayah udah disini." Ucap ayah berbisik pada telinga anaknya.


"Dingin, yaaahh." Ucap Aretta dengan tubuh yang menggigil.


Ayah membuka selimut Aretta. Namun alangkah terkejutnya ayah, kalau ia tidak menemukan benda apapun yang membuat suhu tubuh Aretta menjadi panas.


Di kedai ayam bakar kemarin


"Bagaimana kalau Are pura-pura sakit aja yah ? Nanti Are tinggal bilang, kalau ayah sama ibu bersama lagi, Are akan sembuh." Aretta berbisik pada telinga ayahnya.


"Are yakin ?" Tanya ayah.


"Iya. Ibu itu kan, tipe orang yang nggak tegaan. Apalagi kalau Are udah sakit, pasti semua yang Are mau, akan diturutin." Ucap Aretta yakin.


"Tapi, caranya gimana ?" Tanya ayah.


"Gampang, yah. Are tinggal isi botol pake air panas, nanti disimpen dideket tubuh Are. Dijamin, berhasil !"


" Ya udah, atur aja sama Are. Ayah ngikut aja." Ucap ayah yang menuruti saja kemauan anaknya.


Dikamar Aretta


Ayah yang sedari tadi masih bersikap tenang, kini berubah menjadi sangat panik.


"Bu, cepetan bu !" Ayah bergegas membawa Aretta ke motornya.


Ibu menyusul, dan duduk dibelakang Aretta. Mereka pun pergi ke klinik yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah, dengan menggunakan sepeda motor ayah. Dengan posisi duduk mengapit Aretta. Ayah yang bertugas menyetir dan ibu dibelakang, sedangkan Aretta ditengah.


Menyadari kedua orang tuanya sangatlah kompak, senyumnya mulai berkembang di bibir mungil Aretta. Meski tubuhnya saat ini tidak bisa merasakan apapun, kecuali kedinginan yang hebat.


Motorpun telah berhenti disebuah klinik. Setelah menunggu antrian yang cukup panjang, akhirnya giliran Aretta untuk diperiksa.


Kembali ke rumah


"Are makan dulu, ya. Ibu buatkan bubur. Abis itu, Are minum obat." Ucap ibu bergegas menuju dapur dan membuatkan bubur untuk Aretta.


Sementara itu, Aretta tidak menjawab. Ia terbaring lemas di tempat tidurnya. Aretta tidak mau, saat dokter menyarankan untuk dirawat.


"Are, maafin ayah, ya ? Gara-gara ayah, Are sampai kaya gini." Ucap Ayah memegangi tangan anaknya.


"Nggak kok, yah. Ini semua bukan salah ayah. Mungkin ini sudah jadi rencana Tuhan, untuk mempermudah rencana kita. Jadi kan, Are nggak harus pura-pura." Jawab Aretta dengan suara lirih.

__ADS_1


"Tapi tetep aja, ayah ngerasa bersalah." Ucap ayah menunduk.


"Enggak, yah. . . Nggak ada yang salah, kok."


Tak berapa lama, ibupun datang membawa semangkuk bubur yang telah dibuatnya sendiri.


"Are makan, yah ? Sini biar ibu suapin !" Ucap Ibu sambil mendekat duduk disamping Aretta.


"Iya, bu." Ucap Aretta menurut.


"Buka mulutnya, aaaa !" Ucap ibu sambil membuka mulutnya.


Aretta hanya menurut dan makan bubur buatan ibu.


"Bu, Are boleh minta sesuatu nggak, bu ?" Ucap Aretta yang suaranya masih lirih, bahkan hampir tak terdengar.


"Are mau minta apa ? Ibu akan usahain semampu ibu." Ucap ibu sambil menyuapi anaknya.


"Are hanya minta satu hal, bu. Tapi ibu janji ya, harus menuruti keinginan Are."


Ibu yang merasa bingung dengan permintaan anaknya itu yang tak seperti biasanya.


"Apa sebenarnya yang akan diminta Aretta ?" Ibu berkata dalam hati.


"Ya, ibu janji !" Tanpa berpikir panjang, ibu mengiyakan pernintaan Aretta.


"Are mau, ibu sama ayah balikan lagi. Are pengen kaya teman-teman Are, yang punya keluarga utuh." Ucap Aretta menjelaskan.


Deg !


Jantung ibu berdegup kencang ketika mengetahui permintaan Aretta.


"Kalau tidak dikabulkan, tadi kan aku udah janji. Tapi kalau dikabulkan, aku masih belum yakin !" Ibu membatin.


"Kalau tentang itu, ibu belum bisa memutuskan. Ini sangat berat bagi ibu." Ucap ibu meneteskan air matanya.


Perlakuan ayah terhadap ibu selama ini, terlintas kembali dibenak ibu. Perasaan sakit yang saat ini hampir terlupakan, kini teringat kembali.


"Ayah janji kok, bu. Nggak akan nyakitin ibu lagi. Ayah akan berubah, bu. Demi Anak kita !" Ucap ayah mencoba membujuk ibu.


"Ibu udah janji kan ?" Ucap Aretta.


Ucapan dua orang anak dan ayah itu membuat pikiran ibu tidak bisa berpikir jernih. Hingga tanpa sadar, ibupun menganggukkan kepalanya. Mengiyakan permintaan Aretta.


Bagai ibu, ini bagaikan memakan buah simalakama, serba salah. Tapi tidak bagi Aretta dan Ayah, yang tidak bisa menutupi raut kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2