ARETTA

ARETTA
BERTEMU AYAH


__ADS_3

Aretta sudah bersiap setelah beberapa menit membuat Leo menunggu. Kaos polos warna biru muda dan celana jeans warna coklat muda, membuat penampilannya makin elegan. Ditambah jaket kulit pemberian dari Leo, membuat gadis itu semakin cantik.


"Ayo!" Aretta mengusap rambut Leo yang tengah duduk menyandar di depan kosannya.


"Kemana?" Ucap Leo mendongakan kepalanya.


"Ke kota asal gue! Lo nggak lupa kan?"


"Emang gue pernah bilang gitu?" Leo menggoda Aretta.


"Ya udah gue masuk lagi!" Aretta yang sudah termakan godaan Leo mulai merasa kesal.


"Hahahaa, ngambek lagi. . .?" Leo berdiri dan kembali menggoda Aretta yang sudah bermuka masam.


"Nggak!" Aretta membuang mukanya.


"Masa?!" Leo memegang dagu Aretta dan mengarahkan agar menatapnya, kini mata mereka bertemu.


"Ayo berangkat sekarang! Keburu panas dijalannya." Aretta mengalihkan pembicaraan dan bergegas mengunci pintu kamar kosnya.


Sementara itu, Leo hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah gadisnya.


Motor yang ditumpangi Leo dan Aretta pun melaju, menyusuri jalanan aspal menuju kampung halaman Aretta. Diperjalanan, tidak banyak obrolan diantara mereka. Leo lebih fokus pada jalanan, sementara Aretta sibuk mengarahkan Leo. Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, motorpun berhenti tepat di halaman rumah ayah.


"Ayo masuk!" Ucap Aretta begitu Leo telah memarkirkan motornya.


Leo pun menurut dan mengikuti Aretta memasuki rumah yang terlihat sepi. Bagaimana tidak, hanya ada dua penghuni didalam rumah tersebut, ayah dan Karin.


"Apa kabar, yah?" Aretta memeluk ayah saat melihatnya baru keluar dari dalam rumah.


"Ayah baik, Are gimana kabarnya?" Ayah balik bertanya.


"Are juga baik, yah!"


Ayah melepas pelukannya dari Aretta dan beralih pandang pada sosok pria yang berdiri dibelakang Aretta.


"Siapa ini?" Ayah menanyakan pada Aretta, namun matanya tak henti menatap pria yang ada dihadapannya.


"Kenalin ini Leo, yah! Leo, ini ayah." Ucap Aretta.


"Leo, om!" Leo mencium punggung tangan ayah.


"Ayahnya Aretta, silahkan duduk dulu!" Ucap ayah mempersilahkan Leo untuk duduk.


"Are bikin minum dulu ya, yah?" Aretta berlalu meninggalkan ayah dal Leo, dan berlalu menuju dapur untuk menyiapkan minuman.


"Nak Leo kenal Aretta dimana?" Ayah membuka pembicaraan.


"Dikenalin sama temen, om!" Jawab Leo yang terlihat masih canggung.


"Kerja bareng?"

__ADS_1


"Enggak, om. Saya kerja di kota C, tapi orang tua saya asli kota B." Leo sedikit menjelaskan tentangnya.


"Ooh, sekarang lagi libur?"


"Iya, om. Setiap sabtu-minggu saya libur. Jadi saya memutuskan untuk ikut Aretta kesini."


"Oh, gitu!" Ayah manggut-manggut.


"Ini kopinya yah!" Aretta muncul dengan membawa dua gelas kopi hitam kesukaan ayah dan Leo.


"Leo nginep?" Tanya ayah.


"Kalau diijinkan, om." Leo menyeruput kopinya.


"Iya, om ijinkan. Kamu boleh nginep, kan ada kamar tamu. Kalian santai dulu aja ya, om mau kebelakang dulu!" Ayah beranjak meninggalkan Aretta dan Leo.


Leo dan Aretta saling pandang seperginya ayah. Aretta tersenyum penuh arti saat menatap Leo.


"Kenapa? Seneng banget ya, lo?" Leo menatap Aretta tajam dengan seringai liciknya.


"Seneng banget, banget. Bisa liat muka lo tegang setengah mati." Aretta menahan tawanya.


"Awas lo nanti!" Ucap Leo lirih.


Aretta hanya cekikian sendiri melihat tingkah Leo.


Tak berapa lama kemudian,datanglah Karin yang baru pulang dari berbelanja.


"Eh, ada tamu." Ucap Karin berubah lembut saat mengetahui ada Aretta dan Leo yang sedang duduk di ruang tamu.


Leo pun bersikap sopan dengan mengajak bersalaman dengan Karin. Namun tidak dengan Aretta yang masih merasa kesal, mengingat kalau Karin hampir saja menjodohkannya dengan Ken.


"Siapa ini?" Karin masih berucap lembut.


"Saya Leo, tante." Leo memperkenalkan dirinya.


"Oh, namanya Leo. Darimana?"


"Saya dari kota B, tante."


"Dari kota B kesini pake motor butut didepan itu?" Karin mulai mengeluarkan jurus sindirannya.


"Iya, tante."


"Oh, ya udah tante mau ke belakang dulu ya?" Karin beranjak dari posisinya dan beralih mendekati Aretta.


"Kok kamu mau sih, Aretta? Pake motor butut itu, jarak jauh pula?" Karin berbisik pada Aretta, namun hal itu masih bisa didengar oleh Leo.


Aretta sudah mengepalkan tangannya kesal, mencoba bersabar dengan ucapan Karin. Namun Leo menahan Aretta dengan menggenggam tangan yang dikepalnya erat, setelah kepergian Karin.


"Nggak usah dilawan. Gue nggak pa-pa kok!" Ucap Leo mencoba menenangkan Aretta yang sudah mulai tersulut amarah.

__ADS_1


"Lo tenang aja, Aretta. Gue pastiin akan bikin ibu tiri lo benar-benar menanggung malu! Gue mau tau aja, sampai dimana matrenya itu!" Ucap Leo dalam hati.


"Dia harus diberi pelajaran sepertinya!"


"Nggak usah dipikirin. Eh, kita jalan-jalan yuk! Mau nggak?" Leo berusaha mengembalikan mood Aretta.


Aretta hanya mengangguk menyetujui tawaran Leo.


Mereka pun akhirnya pergi menuju pantai yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah ayah. Setelah berpamitan tentunya.


Motor sudah diparkirkan di dekat warung yang terletak di pesisir pantai. Aretta segera berjalan menyusuri pantai tanpa alas kaki yang sengaja ditinggalkannya dekat motor tadi.


"Lo masih kesel?" Leo menyusul Aretta yang sudah berjalan telebih dulu.


"Gimana nggak kesel, Karin bener-bener keterlaluan kali ini!" Aretta membenarkan rambutnya yang terseka angin pantai.


"Nggak usah dipikirin kenapa? Nanti cantiknya ilang, lho!" Leo mencoba menggoda Aretta.


"Bodo amat!" Aretta masih menyimpan kekesalannya.


"Gimana kalau gue nggak jadi aja ngomong sama bokap lo nya?" Leo menggoda Aretta.


"Maksud lo?"Aretta menghentikan langkahnya dan menatap Leo tajam.


"Hahahaha! Lo lucu kalau lagi ngambek!" Leo merangkul bahu Aretta dan mencubit hidung Aretta.


"Kebiasaan!"


"Lo tenang aja, nanti malem gue ngomong sama bokap lo. Tapi kalau bokap lo nggak ijinin, gue bakal culik lo!" Ucap Leo.


"Coba aja kalau berani?" Aretta melepaskan tangan Leo dari bahunya dan berlari meninggalkan Leo.


"Dasar Aretta! Lo bener-bener udah bikin gue gila!" Leo tersenyum sendiri dan berusaha mengejar Aretta.


Aretta pun menghentikan langkahnya dan duduk ditepi pantai dengan membiarkan kaki indahnya tersentuh ombak.


"Jangan pernah lari dari gue!" Ucap Leo saat duduk disamping Aretta dengan memandang laut lepas.


"Hah?" Aretta merasa tidak terlalu mendengar ucapan Leo.


"Jangan pernah lari dari gue! Karena itu bisa bikin gue gila. Gue mohon!" Leo menatap Aretta dan memegang erat tangan Aretta.


Aretta hanya terdiam mendengar ucapan Leo. Rasanya, Ucapan Leo tersebut bagaikan ribuan ember es yang disiramkan ke hatinya, dingin dan membeku.


Matahari yang hampir tenggelam dan angin laut yang berhembus menjadi saksi bisu penyatuan dua hati yang tidak saling mengungkapkan. Namun mereka sudah saling tau, kalau cinta memang memilih jalannya sendiri.


Jejaknya ya readers, . .😍😍😍


Like, komen, rateβ˜†5 dan vote.


Semoga kalian semua selalu dalam lindungan-NYA

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2