ARETTA

ARETTA
DIJEMPUT


__ADS_3

Aretta masih tertegun di ambang pintu melepas kepergian bu Tami. Ia masih tidak percaya dengan kedatangan bu Tami yang memperlakukannya sebegitu baik. Berbeda dengan Nino yang saat terakhir bertemu, menampakkan sikap yang tidak begitu baik.


"Aretta!" Ibu memanggil, menyadarkan Aretta dari lamunannya.


"Iya bu!" Aretta mendekat pada ibu yang masih duduk dikursi.


"Ibu boleh nanya sesuatu sama kamu?" Tanya ibu.


"Iya, bu. Mau nanya apa?"


"Apa kamu masih punya perasaan sama Nino?" Tanya ibu yang sontak membuat Aretta terkejut.


"Sama sekali Are sudah nggak punya perasaan apa-apa sama Nino, bu. Sekarang, semua perasaan Are sudah seutuhnya untuk Leo. Apalagi, sekarang Leo sudah jadi suami Are." Aretta menjelaskan pada ibunya.


"Syukurlah, ibu lega mendengarnya." Ucap ibu mengelus dada.


"Ya sudah, sekarang Are mau beres-beres dulu ya, bu." Ucap Aretta yang hanya dibalas dengan senyuman oleh ibunya.


Aretta pun bergegas menuju dapur dan mulai membereskan beberapa perabotan yang tidak terawat, karena ibu sedang sakit. Ia juga tidak lupa membersihkan semua ruangan rumah tanpa terkecuali. Maklumlah, ibu tinggal sendiri. Dan semua pekerjaan, dikerjakan juga oleh ibu sendiri. Jadi, saat ibu sedang sakit, semuanya terbengkalai.


Aretta kini sudah merebahkan diri pada kursi panjang yang ada di ruang keluarga. Setelah semua pekerjaan dirasa sudah diselesaikannya.


Ibu juga sudah dimintanya untuk istirahat dikamar, setelah tadi sudah diberinya obat. Jadi sekarang Aretta bisa sejenak bersantai di ruang serbaguna, dengan pintu depan yang dibiarkan terbuka, agar angin bisa masuk kedalam ruangan.


Hingga matanya mulai berat tak tertahan dan tak lama kemudian sudah masuk kealam bawah sadarnya.


***


Sebuah mobil berhenti didepan rumah ibu Aretta. Sang pengendarapun keluar dari dalam mobil.


"Assalamu'alaikum." Ucap si pengendara yang sudah berada didepan pintu.


Namun karena pintu terbuka, dan melihat orang yang dikenalnya tengah tertidur di kursi, ia pun akhirnya masuk.


Cup, cup, cup


Si pengendara tersebut menghujani wajah Aretta dengan ciuman. Arettapun yang telah menyadari ulah si pengendara, bergegas bangun dari tidur lelapnya.


"Leo?!" Ucap Aretta yang sudah terbangun dari tidurnya.


"Nyenyak banget tidurnya?" Tanya Leo mengambil posisi duduk disamping Aretta.


"Gue bikinin minum dulu ya?" Aretta tidak menjawab pertanyaan Leo, ia justru hendak beranjak saat menyadari sang suami telah datang.


"Nggak usah! Lo disini aja! Ibu mana?"


"Ibu lagi tidur! Tadi udah gue kasih obat."


"Oh gitu, pinter banget sih buat tidur orang?" Leo menatap Aretta.


"Maksud lo?" Aretta tidak mengerti arah pembicaraan Leo.


"Ya udah, gue juga mau tidur, capek!" Leo malah merebahkan kepalanya pada pangkuan Aretta.

__ADS_1


Aretta hanya bisa pasrah mendapati tingkah sang suami.


"Mau gue bikinin minum dulu nggak?" Tanya Aretta membelai lembut kepala Leo.


"Nggak! Gue mau tiduran dulu dipangkuan lo." Leo mulai memejamkan matanya.


"Leo!" Tanya Aretta yang masih membelai lembut kepala Leo.


"Hmmm," jawab Leo.


"Lo cape ya?"


"Hmm."


"Pulang kerja langsung kesini?"


"Hmm."


Kebetulan karena mengendarai mobil, jadi jarak antara kota C dan kota A tidak memakan waktu terlalu lama. Karena bisa dipersingkat dengan melewati jalur tol.


"Leo?"


"Hmm."


"Dari tadi jawabanya hmm terus?!" Ucap Aretta mulai menghentikan tangannya dan tidak lagi membelai kepala Leo.


"Jangan berhenti!" Ucap Leo membuka matanya.


"Apanya?" Aretta balik bertanya.


Sementara Aretta sepertinya mengerti keinginan suaminya itu. Ia melanjutkan gerakan tangannya membelai kepala Leo.


"Eh, ada Leo?" Ucap ibu yang tiba-tiba sudah berada diantara mereka.


Sontak saja Leo yang sedari tadi merebahkan dirinya, kini bangkit saat menyadari ibu sudah duduk dihadapannya.


"Iya, bu. Baru saja nyampe." Tegas Leo.


"Lho, Aretta! Suami datang kok bukannya dibikinin minum, malah dibiarkan begitu saja?" Ucap ibu yang melihat tidak ada suguhan diatas meja.


"Nggak pa-pa, bu. Lagian, saya baru juga sampe."


"Aretta!" Ibu memicingkan matanya, seolah memberi isyarat pada Aretta. Dan untungnya, Aretta mengerti benar maksud ibu.


Aretta pun bergegas menuju dapur dan membuatkan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya. Tidak lupa juga dengan beberapa makanan ringan.


Karena menurut ibu, melayani suami adalah suatu kewajiban. Jadi, sebisa mungkin kita memperlakukan suami layaknya raja, meski tanpa diminta sekalipun.


Jadi wajar saja, kalau ibu memberikan isyarat pada Aretta, saat mengetahui kalau anaknya belum memberikan suguhan untuk suaminya.


"Gimana keadaannya, bu?" Tanya Leo yang ikut khawatir dengan keadaan ibu mertuanya itu.


"Ibu baik-baik saja, Leo. Hanya sedikit pusing, tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok. Mungkin ibu cuma kangen saja sama Aretta." Ibu tersenyum hangat sambil menatap Leo.

__ADS_1


"Apa perlu saya anter berobat, bu?" Tanya Leo.


"Nggak usah, Leo! Tadi Aretta sudah membelikan ibu obat, dan sekarang juga sudah mendingan. Mungkin besok, ibu sudah mulai jualan lagi!" Jawab ibu meyakinkan menantunya.


"Jangan terlalu memaksakan, bu! Kalau ibu masih kurang enak badan, lebih baik istitahat dulu!"


"Iya, Leo!"


"Duuh, seru banget sih. Lagi pada ngomongin apa gitu?" Aretta datang dengan membawa secangkir kopi dan cemilan.


"Ini nih, ibu. Masa, besok mau mulai jualan lagi katanya?" Jawab Leo.


"Bener bu?" Tanya Aretta.


"Iya, kan sekarang ibu udah baikan!" Ucap ibu bersemangat.


"Pokoknya, ibu nggak boleh jualan dulu! Sampai ibu benar-benar sehat!!!" Ucap Aretta.


"Tapi kan, . ." Ucapan ibu terputus.


"Nggak ada tapi-tapi!" Aretta kembali menegaskan ucapannya.


"Ya sudah, ibu nurut sama kalian! Tapi kalian harus janji!" Ucap ibu yang berhasil membuat Aretta dan Leo saling tatap.


"Janji apa, bu?" Tanya Aretta.


"Kalian harus cepet kasih ibu cucu!" Jawab ibu yang lagi-lagi membuat orang yang ada dihadapannya saling pandang keheranan.


"Kalau soal itu, ibu tenang aja! Ibu mau berapa cucu? Dua, tiga, empat atau sepuluh?" Ucap Leo.


Aretta yang melihat tingkah Leo, langsung mencubit perut Leo. Sontak saja membuat Leo meringis kesakitan.


Sementara ibu hanya tersenyum menyaksikan tingkah anak dan menantunya itu. Yang terlihat harmonis, meski dengan tingkah yang kadang kekanakan.


"Sudah, sudah! Kalian mau berangkat kapan? Jangan sampai kemaleman!" Ucap ibu melerai candaan anaknya itu.


"Bentar lagi, bu!" Jawab Aretta.


"Ya sudah, ibu tinggal kebelakang dulu ya?"


Sementara Aretta masih melanjutkan aksinya mencubit perut Leo.


"Lo pikir bikin anak semudah bikin pisang goreng apa? Pake nawarin ibu mau sepuluh cucu lagi!"


"Ampun, ampun!" Leo menahan sakit karena Aretta yang terus menghujani perutnya dengan cubitan.


"Awas aja kalau lo berani ngomong kaya gitu lagi!!!" Ancam Aretta.


"Tapi lo mau kan? Hahaha!" Leo sampai terbahak mengetahui ekspresi Aretta yang kembali memasang wajah garangnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, saatnya Aretta dan Leo harus berpamitan dengan ibu. Meski dengan berat hati, namun kewajiban tetaplah kewajiban yang harus dijalankan.


Hai, hai, haai!

__ADS_1


Maafkan author yang baru sempet up lagi. Dikarenakan author yang sedang kurang fit. Jadi, tolong bantu semangatin author dengan selalu like, komen dan vote ya😍😍😍


I love you all 💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2