
Willy menerima laporan dari salah satu orang yang ikut masuk kedalam ruang persidangan, berkas tersebut dari Pak Frans, Meidina tersenyum, sedikit demi sedikit borok keluarga korban terkuak.
Willy tersenyum dan langsung memberikan pada Hakim, sehingga Hakim pun membaca dan mengumpulkan bukti, bahkan datang lagi saksi korban dari Stevan.
Satu persatu saksi menjelaskan dan membeberkan tentang kejahatan Stevan bahkan Ayah dan pengacara nya.
"Setelah bukti sudah terkumpul, dan ada beberapa saksi yang memperkuat, bahwa tersangka tidak bersalah, dan korban lah tersangka sebenarnya, saya memutuskan saudara Meidina bebas tidak bersalah, dan Saudara Stevan kasus akan berlanjut, dan saudara status nya di naikan sebagai tersangka. "
Tok.. tok..
"Nggak, nggak bisa, ini tidak adil. Ayah bantu saya Ayah, Tante Meli kamu kan ahli nya. "
Meidina langsung memeluk tubuh Mami Rosa, dan Pak Frans. Bagas hanya tersenyum dari jauh dan langsung keluar dari dalam ruang Sidang.
Meidina mencari Bagas, namun Bagas tidak ada , teman - teman yang hadir pun langsung memeluk tubuh Meidina.
*****
Tiga hari setelah dirinya di nyatakan bebas, Meidina datang ke Polsek dengan mengenakan pakaian mini nya, dengan keranjang buah yang dia bawa kedalam kantor.
"Selamat siang, ada yang bisa di bantu? " Tanya seorang anggota Polisi.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Kapolsek, ada di dalam? " Jawab Meidina kembali bertanya.
"Ada nanti saya kasih tahu, mba duduk saja."
Meidina pun duduk di ruang tunggu, lalu Bagas datang dan duduk berseberangan dengan dirinya.
"Hi... Pak, ini saya bawakan buah untuk Bapak."
Bagas hanya menatap buah tersebut, dan langsung mengalihkan pandangan nya, saat melihat Meidina menggunakan pakaian seksi.
"Apa kamu, disaat diluar jam kerja cara pakaian kamu begitu? "
"Maaf Pak, saya terbiasa begini. "
"Kamu ada apa kesini? "
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena bantuan Bapak saya bisa bebas. " Ucap Meidina.
"Saya hanya ingin, keadilan berpihak pada orang yang tidak bersalah, dan seharusnya kamu juga bisa belajar dari kejadian kemarin."
"Saya banyak belajar, karena masih ada orang yang peduli pada saya."
"Hukum tidak akan memandang siapa itu orang nya, selagi orang itu benar. Saya hanya membantu kamu, tidak ada niat apa - apa. "
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. "
"Iya sama - sama. "
__ADS_1
Meidina keluar dari Polsek, dan langsung masuk kedalam sebuah mobil mewah, Ilham berdiri di samping nya saat Bagas menatap Meidina pergi di bawa oleh seseorang.
"Dia sudah kembali ke dunia nya, dunia malam, bekerja menebar senyum hanya demi sesuap nasi. " Ucap Ilham.
*****
"Kamu mau beli apa? " Tanya Pak Frans, sambil memeluk tubuh Meidina.
"Apa ya Om, kayak nya lagi nggak ingin deh." Jawab Meidina.
"Ayolah, Om ingin kamu belanja, kamu kan biasa minta sesuatu sama Om, ada tas branded keluaran terbaru loh. "
"Pasti Tante Zahra istri Om, habis beli ya? "
"Iya, Om kan mana tahu barang keluaran terbaru dan lama. "
"Mentah nya saja ya. "
"Ok, nanti om transfer. "
Meidina langsung mengecek ponsel nya, terlihat notifikasi transfer uang masuk, Meidina tersenyum saat masuk sejumlah nilai uang dengan total 50 juta.
"Om yang ter the best deh. "
*****
"Mei." Panggil Anisah.
"Ada apa sih? " Ucap Meidina menangkis tangan Anisah.
"Kamu kemana saja? "
"Kemana saja nya saya, nggak ada urusan nya sama kamu. "
"Ini saya photo copy kan buat tugas. "
Dengan memutar bola matanya dengan malas, Meidina mengambil bahan untuk tugas kuliah nya.
"Makasih." Ucap Meidina langsung melanjutkan kembali langkah nya, Anisah kembali mengejar Mei, hingga Mei merasakan risih.
"Kamu kenapa sih, kejar - kejar saya terus. Nggak ada kerjaan apa? "
"Saya hanya ingin jadi teman kamu. "
"Teman itu banyak, kenapa harus saya. "
"Kamu itu beda dari yang lain nya. "
"Beda karena saya wanita malam, beda karena saya ini pekerjaan nya yang memberikan hiburan pada pria - pria kesepian, harus senyum, harus siap melayani walau lelah tubuh ini. Kalau hanya tujuannya buat bahan Dakwah kamu, atau meminta saya untuk insaf, cara kamu salah. "
__ADS_1
"Saya tidak mau berdosa membiarkan teman saya, jatuh kedalam neraka, sedangkan saya yang tahu hanya diam saja. "
"Sekali lagi terima kasih. " Ucap Meidina langsung melanjutkan lagi langkah nya, dan menghampiri Roki yang sedang membuka Laptop nya.
*****
"Yah.. motor nya mogok. " Ucap Roki.
"Kamu gimana sih, motor bagus gini malah mogok lagi, servis dong. " Ucap Meidina kesal.
"Sorry, ini motor emang lagi ngadat aja. "
Saat sedang duduk di trotoar jalan, terdengar suara Adzan Ashar, Meidina mendengar nya begitu sangat merdu, Meidina bangun dan tubuh nya menatap ke arah Masjid besar.
"Kenapa kamu? "
"Suara Adzan nya, seperti saya kenal, bahkan merdu sekali. "
"Tumben kamu, ingat suara Adzan, biasa nya nggak ingat panggilan dari atas. "
Meidina berdiri menatap Masjid di seberang nya, bahkan samping Masjid adalah sebuah pesantren.
"Mei, sudah jalan nih. "
Meidina langsung naik ke atas motor, dan melanjutkan kembali perjalanan nya. Namun Meidina masih menoleh ke arah Masjid.
****
"Umi apa salah, kalau saya mengingat kan seseorang untuk melangkah di jalan yang benar? " Tanya Anisah.
"Nggak kok, kan kita sebagai umat muslim harus saling mengingatkan. Memang nya kenapa? " Tanya Umi Aminah.
"Saya punya teman Umi, dia itu sudah salah jalan. Saya ingin dia bertaubat. " Jawab Anisah.
"Kamu pelan - pelan, jangan terlalu memaksa. Kalau kamu terlalu memaksa yang ada, dia akan merasakan risih sama kamu. "
"Pantas saja Umi, dia sering kesal sama Anisah, kayak musuh lihat Anisah. Tapi Anisah nggak pernah menyerah, Anisah terus dekati dia. "
"Tujuan kamu kan baik, belum tentu kata dia itu baik. Makan nya harus pelan - pelan ya. "
*****
Suara musik menggema, semua pengunjung bergoyang mengikuti alunan musik Dj, Meidina dan bersama teman - teman nya, berpesta atas kebebasan Meidina.
"Untuk sebuah keadilan....!! " Ucap Meidina sambil mengangkat gelas berisi anggur putih.
"Selamat bergabung kembali Meidina. " Ucap Mami Rosa.
Mereka pun bersulang, dan lalu bergoyang bersama, Roki yang malam ini menjadi DJ di Club Casablanca.
__ADS_1
Meidina, terus berjoget sambil membawa botol minuman keras, dan rokok yang dia hisap dengan bergantian dengan Roki.
"Pokok nya, malam ini kita pesta..!! " Teriak Meidina.