
"Sayang, nanti kamu siapkan berkas buat kita pengajuan nikah ya. " ucap Radit, waktu berada di rumah nya.
"Siap Bang, ehm.. Ibu sama Ayah sudah sore kok belum pulang? "
"Ayah sedang perjalanan dinas ke luar kota, kalau Ibu sedang ada urusan ke luar kota juga. "
"Tapi suruh Mei kesini, Ibu sama Ayah nggak ada. "
"Kenapa? takut sama Abang di apa - apakan?"
"Ih ya nggak Bang, nggak enak aja kita berdua. "
"Tenang saja, Abang nggak akan aneh - aneh sama kamu. "
"Abang, kalau Om Edwin itu adik nomer berapa? "
"Dia bungsu, hanya dia yang dekat sama kami. Kan yang lain nya, pada jauh - jauh."
"Oh."
"Sayang, setelah nikah mau tinggal dimana? "
"Saya akan ikut Abang, tapi masih boleh kan kerja bareng di catering sama Mami Rosa dan lain nya? "
"Boleh sayang, boleh banget. Mereka juga keluarga kamu, dan kamu kan pencetus nya. Apalagi kamu, itu juru masak utamanya.Kalau perlu, Abang modal kan perbesar usaha nya."
"Serius Bang, ih makasih banget."
"Sama - sama sayang."
*****
"Hallo Bang. "
"Kenapa Mei? "
"Saya boleh curhat sama Abang. "
"Curhat apa Mei? "
"Bang, Om nya Bang Radit itu, pernah pakai jasa Mei. " ucap Meidina dengan menahan sesak.
"Siapa Mei? "
"Om Edwin, dia pernah pakai Mei. "
"Terus, Radit tahu? "
__ADS_1
"Jangan sampai Bang, jangan sampai merusak semua nya. Jujur Bang, ini yang saya takut kan, mulut pernah berkata, saya siap di tinggalkan tapi fakta nya saya nggak sanggup. Saya takut, dia merusak semua nya."
"Apa dia mengancam kamu? "
"Iya Bang, kalau tidak mau di bongkar, saya harus layani dia. "
"Kurang ajar banget, Abang akan kasih pelajaran sama dia. Tunjukkan alamat nya dimana, biar Abang kasih pelajaran."
"Jangan Bang, jangan. Saya mohon jangan, saya akan hadapi sendiri. "
"Apa kamu , mau menuruti keinginan dia?"
*****
"Jadi kamu mau menikah? "tanya Abi Mulia.
" Iya Abi, nanti calon suami Meidina, akan kemari menemui Abi, terus bawa orang tua nya kesini. "
"Alhamdulillah, Abi senang kamu akhirnya ada yang melamar. Dan mau menerima kamu apa adanya, semoga dia pilihan terbaik kamu."
"Amin, makasih Abi sudah merestui hubungan kami. Makasih Abi. "
"Sama - sama nak."
*****
"Kenapa? Anaknya baik. " ucap Pak Halim.
"Mas, pacar Radit wanita malam, jangan terkecoh dengan hijab nya. Dia itu tidak benar, untuk hijrah. Jangan tertipu, karena saya tahu betul wanita seperti dia. Dan Mas apa tidak takut, Radit terkena penyakit? penyakit menular. "
"Edwin, saya paham dunia kamu. Tapi saya yakin, calon istri Radit sehat, dan sudah benar - benar hijrah. Jadi tolong, kamu jangan menghasut saya. "
"Mas ini aneh, bagaimana kalau rekan Radit tahu, bahkan masyarakat tahu, kalau istri dari Kapolsek mantan wanita malam."
"Cukup yang tahu saja, dan tidak membicarakan nya terus. Aman kan, nggak akan ada yang tahu. "
"Terserah Mas, tapi itu saran saya. Tolong, Mas pikir seribu kali." ucap Pak Edwin langsung berdiri dari duduk nya.
"Ingat Mas, walau dia terlahir dari orang beragama, tapi memiliki masa lalu yang mungkin akan merendahkan nya, dan Radit akan terbawa karena telah memungut sebuah sampah. "ucap Pak Edwin kembali.
"Radit sudah dewasa, bisa memilih mana yang baik, dan mana yang buruk. Kalau Radit memilih, berarti itu yang terbaik buat nya. "
****
"Abi nggak galak kan? " tanya Radit.
"Nggak Bang, nggak galak. " jawab Meidina tersenyum.
__ADS_1
"Deg - deg an loh. " ucap Radit memegang dada nya.
"Jangan lebay. " ucap Meidina.
"Nggak bener loh sayang. "
"Udah yuk buruan masuk, Abi sudah menunggu di dalam. "
Meidina dan Radit masuk kedalam rumah Abi Mulai, tak lupa mereka mengucapkan salam, dan mencium punggung tangan nya.
"Jadi ni calon menantu Abi? " ucap Abi Mulia.
"Gimana Abi? ganteng kan? "
"Ganteng, nama kamu siapa? "
"Radit Abi. "
"Abi, masih tanya nama. Kan pernah sama Mei, di kasih tahu."
"Abi lupa. " ucap Abi Mulia, pada Mei.
"Gimana nak Radit, pasti ada yang ingin, disampaikan. " ucap Abi Mulia kembali.
"Benar Abi, saya kesini pribadi, dan belum secara resmi. Hanya ingin, minta ijin dan restu, kalau saya ingin meminang putri Abi, Meidina. Sebenarnya, kedatangan ini kalau di restui nanti saya akan melamar putri Abi, bersama kedua orang tua saya. "
"Abi, serahkan pada Meidina. Abi akan ikut menerima, kalau Meidina benar - benar mencintai nak Radit. Kalau Mei, tidak suka ya Abi, ambil keputusan apa yang Meidina putuskan. Masa Abi, kan yang jalani itu Meidina. Sekarang, gimana sama kamu nya? mau di terima atau di tolak? " ucap Abi Mulia.
"Bismillah Abi, saya mau. " ucap Meidina.
"Alhamdulillah." ucap Radit.
"Nah, itu jawaban nya Abi. Jadi kapan? orang tua kamu datang kesini? "
"Insya Allah secepatnya, nanti saya kabari lagi."
"Sekali lagi, terima kasih ya. Sudah memilih , putri Abi. Mau menerima kekurangan nya, mau menerima masa lalu nya. "
"Karena, saya itu ingin menikahi Mei, bukan untuk di ajak kembali ke masa lalu. Tapi menuju, ke masa depan. Saya tidak akan, melihat bagaimana masa lalu nya, kalau orang ingin serius, tidak akan pernah memandang keburukan dan kelemahan nya. "
"Terima kasih Bang, terima kasih. " Ucap Meidina.
"Sama - sama, sayang."
"Sarah, kalau kamu masih hidup, kamu akan merasakan bahagia. Akhirnya anak kita, mendapatkan kebahagiaan nya. " ucap Abi Mulia dalam hati nya.
.
__ADS_1
.