
"Cepat kamu, lakukan apa yang kamu lakukan sama dia. " Bentak Pak Frans, dengan menarik paksa rambut Meidina.
"Om, dengar kan saya dulu om. " Ucap Meidina sambil memegang tangan Pak Frans yang sedang menjambak rambut nya.
"Saya sudah bilang, jangan kamu mau di pake orang, selain saya. "
"Om, saya sudah menolak Om Roy atau Om Tedi, tapi mereka selalu memaksa.Ini terakhir Om. "
"Bagaimana dengan klien yang lain nya, apa kamu masih? "
"Om, itu pekerjaan saya Om, Om itu hanya pelanggan setia, hanya uang Om yang saya inginkan, Om memang baik tapi saya bukan milik Om. "
Aaaaaa
"Kamu tahu, saya seperti ini, ingin kamu jadi milik saya. "
"Kalau Om sayang sama saya, jangan kasar Om. "
Aaaaawwwww
Pak Frans mendorong Meidina dengan kasar, kondisi Mabok Pak Frans beremosi tinggi, Meidina hanya diam, dengan rambut yang acak - acak an.
"Saya akan tebus kamu, sama Rosa. Agar kamu bisa menikah dengan saya. "
"Sekarang, kamu layani saya. " Ucap Pak Frans.
*****
Pak Frans, terus menggempur Meidina, hingga tubuh Meidina lemas tak berdaya. Tubuh penuh dengan tanda merah, hingga Meidina merasakan sakit di area sensitif milik nya.
"Om.... su - sudah Om, Mei minta ampun. "
"Hah... apa kamu bilang Mei, kamu tahu kan apa hukuman nya, saya ingin kamu sampai hamil anak saya. "
"Aaaahhhhhhh... Om... stop Om... sakit...!!! "
Aaaaaaaaaaa
Pak Frans menyemburkan cairan kental nya, yang ke sekian kalinya, Meidina hanya meringkuk merasakan sakit di sekujur tubuh nya.
Pak Frans mencium punggung polos nya, dan mengusap keringat di kening Meidina. Tangan kekar itu lalu memeluk tubuh wanita, yang sudah menjadi candu nya.
"Maaf kan Om, Om tidak mau kehilangan kamu. "
Meidina hanya diam, lalu memejamkan kedua mata nya, namun tangan Pak Frans terus menjelajahi lagi milik nya, dan merasakan kembali tegak berdiri milik pria setengah abad ini, yang masih perkasa dalam urusan ranjang.
"Om akan transfer 300 juta, ke rekening kamu. Setelah permainan ini di mulai lagi. "
*****
Tubuh Meidina sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan, namun hari ini harus mengikuti kuis di kampus nya.
Jalanan macet membuat Meidina merasakan sangat pusing, di atas motor yang di kendarai nya.
Tubuh yang belum di istirahat kan, Pak Frans memulangkan nya, pukul 5 pagi, dan belum istirahat semenit pun. Motor pun Meidina hentikan di tepi jalan, Meidina langsung memuntahkan isi perut nya, karena Pak Frans, agar dirinya tetap terjaga mencekoki dengan minuman beralkohol.
Hoek.. hoek..
"Ini tissue. "
__ADS_1
Meidina mendongak ke atas saat dirinya berjongkok, Bagas kini berdiri di samping nya dengan tangan memegang sebungkus tissue.
"Terima kasih. " Ucap Meidina mengambil nya.
"Kamu sakit? pucat. "
"Nggak apa - apa, hanya capek saja. Saya harus ke kampus, ada kuis. "
"Kamu yakin? kedua bawah mata kamu hitam. Dan kamu pun, seperti nya masih dalam kondisi mabuk. "
"Saya bisa kok, sudah biasa. " Ucap Mei, tak sengaja mata Bagas melihat banyak tanda merah, di dada nya, syal yang menutupi nya turun kebawah, lalu Meidina membetulkan Syal nya.
"Saya antar kamu, nanti motor nya biar anak buah saya yang ambil. "
"Terima kasih Pak, saya bisa jalan sendiri. "
"Saya antar. "
"Terima kasih. "
Didalam mobil, Meidina dan Bagas hanya diam, tak bicara sepatah kata pun. Namun sesekali Bagas melirik Meidina, yang seperti hendak muntah.
"Saya antar kamu ke rumah sakit. "
"Ja - jangan Pak, jangan. Saya tidak apa - apa."
"Dari pada nanti kamu di kampus pingsan, lebih baik saya antar kamu ke rumah sakit."
"Nggak Pak, jangan ini efek mabuk. "
"Kamu yakin? "
"Yakin, ehm.. Pak boleh kaca mobil nya di buka? "
"Saya mau merokok, biar nggak mual."
"Silahkan."
Meidina mengambil rokok nya, dan merokok di perjalanan menuju kampus, Meidina merasakan lebih baik, dan mual sedikit hilang.
"Kamu berapa bungkus sehari? "
"Tergantung."
"Hampir setiap hari ya kamu mabuk? "
"Tergantung juga. "
"Berapa tarif perjam nya? "
"Tidak pakai jam, hanya temani minum 1 juta, kalau sampai chek in hotel paling sedikit 5 juta. Kadang bisa lebih, saya ini mainan nya Om - Om berdasi, duit nya banyak. Kalau sekelas yang muda, paling berapa sih. "
"Apa kamu tidak takut penyakit? "
"Jangan sampai lah. "
Mobil pun sampai di depan kampus, namun Meidina melihat Anisah yang baru sampai. Begitu juga dengan Bagas, namun mobil tetap berjalan masuk ke area kampus.
"Stop, jangan terlalu maju. "
__ADS_1
"Kenapa? "
"Tunangan Pak Polisi di depan tuh. "
"Saya akan jelaskan. "
"Jangan, takut dia cemburu sama saya. "
"Apa dia tahu, kamu suka sama saya? "
Meidina diam dan menundukkan kepala nya, sambil memainkan jemari nya, Bagas pun ikut diam .
"Maaf ya kalau saya suka sama Bapak, tapi saya sadar diri kok. Siapa saya, dan saya tidak akan jadi orang ketiga kok, jangan samakan saya sebagai wanita yang seperti itu. "
"Terima kasih kamu sudah menyukai saya, itu hak kamu. Tapi satu hal, untuk kamu bukan untuk saya. Jadilah seorang wanita yang bernilai tinggi, bukan wanita yang bernilai rendah, kelak akan di pertanggung jawabkan. Kamu mau kan, menikmati indah nya surga, mau kan, selalu dekat sama yang di atas? "
Meidina terdiam, dadanya terasa sangat sesak, karena menahan tangis. Hati nya tersentuh kesekian kalinya, kedua pasangan kekasih yang memberikan nya sebuah nasehat namun teguran yang halus.
"Saya akan berhenti, di saat saya menemukan pria yang memp*****ksa saya. "
"Kalau sudah waktu nya, insya Allah pasti kamu akan di pertemukan. Dan kamu setelah itu mau apakan dia? "
"Saya ingin, buat dia hidup nya hancur. "
"Jangan kamu selipkan terus dendam itu, biar Allah yang akan membalas nya. Kamu tahu, kamu kan cantik, dan enak di pandang dengan penampilan yang sopan, tidak baik kamu umbar aurat kamu seperti ini. Kamu wanita, bagaimana nanti, anak kamu kalau tahu, ibu nya seperti ini. "
"Terima kasih pak, saya akan ingat itu. " Meidina keluar dari mobil Bagas, Bagas hanya menatap dari dalam mobil, dan langsung melanjutkan perjalanan nya lagi.
*****
"Komandan, itu motor Meidina? "
"Kamu bawa pulang, kasih tahu dia motor nya di kamu. "
"Komandan, apa tadi terjadi sesuatu? "
"Dia seperti nya kurang sehat, saya temukan dia di pinggir jalan sedang muntah. Kasihan takut kenapa - napa saya antar di sampai kampus nya. "
"Nanti saya beritahu Meidina. "
*****
"Om Frans..!! "
"Masuk, om ingin ajak kamu ke suatu tempat."
"Saya ingin istirahat Om, saya belum tidur sejak malam. "
"Jangan tolak Om, kamu mau uang dan shoping kan? "
"Tapi saya capek Om. "
"Masuk, jangan bantah. "
Meidina pun masuk, namun saat mobil Pak Frans melaju, stella melihat seperti mobil milik Papi nya.
"Guys, kita ikuti mobil itu. "
.
__ADS_1
.
.