
"Kamu pulang kuliah, langsung temui Om Frans. " Ucap Mami Rosa sambil meletakkan sebuah amplop warna cokelat.
Meidina mengambil uang tersebut, dan menghitung nya. Meidina tersenyum, saat melihat isi uang di dalam amplop tersebut.
"Om Frans marah, melihat kamu di pakai sama Om Edwin. "
"Pantas saja, lihat wajah nya seperti gimana gitu. "
"Makan nya, kamu tenangin hati nya, jangan sampai dia marah besar. "
"Om Frans itu, beberapa kali mengajak saya nikah, tapi saya tidak mau. "
"Apa karena mau di jadikan istri kedua? yang penting itu duit nya. "
"Saya tidak mau, saya hanya jadikan dia ladang uang, tidak ada niat lain nya. "
"Kalau ada pria muda, yang mau menikahi kamu secara serius, apa kamu mau? "
"Kalau dia mau menerima saya apa ada nya, tapi mana mungkin. "
"Tapi kamu, punya rasa kan pada seorang pria? "
"Ada Mam, dia itu pria yang sangat luar biasa, tapi saya tidak akan mungkin bisa meraih nya. Karena saya tidak pantas, saya terlalu kotor. "
"Orang yang mencintaimu kelak, tidak melihat dari mana kamu berasal, atau melihat sisi buruk kamu. Dia akan melihat dari sisi baik nya kamu. "
"Sisi baik nya yang mana Mam, saya ini hanya seorang peliharaan atau mainan pria hidung belang. Saya seperti ini karena dia, saya akan terus cari dengan cara seperti ini. "
"Kalau kamu bertemu dia, apa yang akan kamu lakukan? "
"Saya akan buat hidup nya menderita, saya akan siksa dia sampai puas. Setelah itu, saya akan pergi Mam, pergi memperbaiki diri dan merubah nasib, orang yang tidak akan pernah tahu saya ini wanita seperti apa."
******
Awwww
Meidina terdorong kasar, saat Stella mendorong nya dengan sengaja. Hingga Meidina merasakan sakit di punggung nya karena membentur sudut meja.
"Ups, sorry. " Ucap Stella langsung pergi begitu saja, bahkan Susan meludah sambil membuang permen karet nya.
Meidina diam tidak membalas, dan langsung melanjutkan langkah nya, duduk dengan kasar, Meidina langsung membuka buku pelajaran nya, menata rapih di atas meja, siap untuk mendengar materi dari dosen.
Dosen pun masuk, dan langsung memberikan materi mata kuliah, Meidina tidak melihat Anisah, bahkan Roky. Meidina hanya duduk sendiri, tanpa ada yang mau teman nya duduk bersebelahan dengan nya.
"Kalian maju duduk nya, ada dua kursi kosong ." Ucap Dosen.
"Maaf Pak, kami disini saja. Kalau sama dia, takut nya kita di goda nya. " Celetuk salah satu Mahasiswa pria.
"Lagian, kenapa sih Pak. Ayam kampus masih di boleh kan kulihat disini? " Ucap Meli.
__ADS_1
"Dia bukan Ayam kampus, hanya kerja nya di Club sebagai pelayan minuman. " Ucap Pak Muji, Dosen mata kuliah Manajemen.
"Iya pelayan minuman bahasa halus nya, bahasa keren nya dia wanita tuna susila. "
"Sudah stop - stop, jangan ribut, dia niat nya baik ingin belajar. Masalah dosa tidak nya, dia yang menanggung. "
"Maaf Pak, saya ijin saja. " Ucap Meidina.
"Mei, kamu jangan izin Mei. " Ucap Pak Muji memanggil, saat tahu Meidina langsung keluar dari kelas.
"Kalian ini bagaimana sih, dia mahasiswa terbaik, dia niat belajar. Kalian kalau tidak suka, diam saja. "
"Apa bapak salah satu pelanggan nya? " Celetuk Stella.
*****
Meidina menghisap rokok nya, di tepi jalan. Sambil melihat laju kendaraan yang hilir mudik, duduk di halte.
Mobil polisi berhenti tepat di depan Meidina, Ilham turun dan langsung duduk di samping Meidina.
"Tumben udah pulang. "
"Nggak kuliah, Abang lagi ngapain? "
"Patroli, teman Abang ada di dalam. "
"Sana, lanjut Patroli nya. Nggak enak, di kira apa kita. "
***
"Bang, kayak kenal? "
"Dia kan yang pernah di tahan di Polsek, karena tidak bersalah dia keluar. "
"Oh yang itu, iya saya ingat. " Ucap Bayu.
*****
Pak Frans, membuka pintu yang tidak terkunci, senyum mengembang saat tahu siapa yang ada di dalam nya.
Melepaskan jas, dan melemparkan nya ke sembarang, serta melepaskan dasi nya. Saat masuk ke dalam kamar, melihat Meidina dengan posisi yang membuat Pak Frans naik darah dengan posisi yang sudah siap di terkam.
"Gadis nakal, kamu buat Om Marah. "
"Sebagai hukuman, saya siap di hukum sama Om. "
"Oh iya, bagus kalau begitu. " Pak Frans melepaskan ikat pinggang nya, dan langsung mengikat kedua tangan Meidina, dan hanya kedua kaki nya yang terbebas.
"Apa dia begini sama kamu? " Pak Frans mencolok area sensitif nya dengan satu jari.
__ADS_1
"Ah... iya, Om. " Ucap Meidina sambil memejamkan kedua mata nya.
"Dan apa begini? " Pak Frans, menggigit bagian kedua dada nya.
"Iya Om. "
"Kamu benar - benar, buat Om kecewa. Kamu rasakan rudal Om akan menerobos masuk, hingga kamu tidak bisa jalan. "
"Mei pasrah Om. "
******
Bagas bangun dari tidur nya, setelah shalat Ashar Bagas merasakan kantuk yang sangat berat hingga tertidur di dalam mushola tempat nya berdinas.
Waktu menunjukkan maghrib, langsung mencuci mukanya dan mengambil air wudhu. Bagas pun siap menunaikan shalat maghrib berjama'ah, saat selesai shalat, Bagas berdoa, namun sekilas bayangan Meidina hadir.
Bagas dengan segera mengucapkan istighfar, dan langsung melanjutkan membaca Ayat suci Al Quran.
Sedangkan Meidina yang masih berbalut selimut, untuk menutupi tubuh nya yang polos, sambil merokok, dan minum anggur putih langsung dari botol nya.
"Om sudah transfer, Om ingat kan lagi. Jangan lagi - lagi, kamu di pakai orang, cukup sama om saja. "
"Itu pekerjaan saya Om, dan Om tahu kan misi saya itu. "
"Om akan bantu kamu, yang penting kamu hanya melayani Om. Atau kamu mau menikah sama Om?"
"Nggak Om, saya menolak untuk beberapa kali nya. "
"Kalau kamu menikah sama Om, kamu akan hidup enak dan bahagia. Kamu tahu kan, Zahra sudah tidak bisa puaskan Om. "
"Bagaimana juga, Tante Zahra itu ibu dari anak nya Om, cinta pertama Om dan sejati nya Om. Sedangkan saya, hanya sebagai pemuas saja. Jadi lebih baik kita seperti ini, Om puas saya pun puas. "
"Kamu itu, ini yang Om suka. Tidak neko - neko, dan tidak pernah memoroti Om. Tidak seperti pe*****cur lain nya. Sudah jadi simpanan malah habisin uang. "
"Apa Om, di luar punya selain saya?"
"Itu dulu, sekarang tidak. Karena hanya kamu, yang bisa buat Om bahagia lahir dan bathin. "
Saat berada di lampu merah, Bagas melihat Meidina menaiki motor nya, pukul 10 malam Meidina masih berkeliaran sendiri.
"Dasar, wanita malam. " Ucap Bagas.
Lampu pun hijau, Bagas berada di belakang moto Meidina, motor nya di ikuti, Meidina melirik ke arah spion. Meidina tahu siapa yang mengikuti nya.
"Baby, kamu nakal. "
.
.
__ADS_1
.