Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Musuh Masa Lalu


__ADS_3

"Ceritakan kondisi Pasien sekarang. " Pinta Bagas pada sambungan telepon nya, saat menghubungi Ilham.


"Komandan, korban nya adalah Meidina. " Jawab Ilham dari seberang.


Bagas terdiam, tak percaya. Ilham terus memanggilnya dan langsung mematikan ponsel nya. Bagas langsung keluar dari Polsek dan menuju ke arah rumah sakit.


Dalam perjalanan, hati Bagas tidak menentu, dan pikiran nya semakin sangat kacau. Hingga sampai lah di rumah sakit.


Bagas langsung berlari, saat setelah menanyakan nama Meidina. Sampai di depan pintu kamar rawat, masih ada beberapa anak buah nya, terlihat Ilham yang sedang mengobrol dengan Mami Rosa.


"Mei." Ucap Bagas pelan.


"Bagas, Meidina kehilangan anak nya. "


Bagas berjalan, mendekat saat melihat Meidina tengah tertidur. Tubuh nya penuh luka, hati Bagas semakin sakit.


"Pelaku sedang kami cari, seperti nya ini bukan kecelakaan biasa. "


"Saya sudah mendapatkan sedikit informasi, dari plat nomer mobil nya. "


"Maksud komandan? "


"Saya akan ceritakan nanti di kantor. "


***


Bagas duduk di depan ranjang, dimana Meidina berbaring, mata nya membuka saat pertama yang di lihat adalah Bagas.


Meidina terisak sambil memegang perut nya, Bagas mengusap air mata nya dan memegang tangan Meidina.


"Hiks.. hiks.. hiks..


" Salah Mei apa Bang, hiks... hiks... kenapa sejak kecil hingga dewasa, Mei selalu di siksa. Dari di buang, dari di per******sa sampai anak Mei harus jadi korban nya. Hiks.. hiks.. kenapa, tidak sekalian saja nyawa Mei di cabut. "


"Abang tidak bisa bilang apa - apa, dan Abang pun masih hitam dan putih siapa kamu sebenernya. Dari awal , mendengar siapa kamu, kejadian nya apa kita adalah orang terdekat.


Hiks... hiks.. hiks..


" Mereka tidak bisa kembali kan, masa depan Mei, tidak bisa kembalikan kebahagiaan Mei bahkan anak Mei, hiks.. hiks.. hanya dia Bang, harta yang masih di miliki oleh Mei, tidak ada lagi. "


"Abang mengerti, perasaan kamu. Abang tahu, sakit nya kamu. Dan kamu juga harus tahu, bagaimana rasanya hati Abang, saat melihat kamu. "


"Hiks.. hiks.. Abang selalu ada buat Mei, tapi Mei tidak bisa selalu ada buat Abang. Disaat seperti ini, Abang memang datang tapi Mei tidak bisa terus meminta untuk tetap disini. "


*****


"Jangan ngaco kamu Bagas. "


"Itu mobil milik Anisah, kita tunggu saja laporan siapa pemilik mobil tersebut. "


"Tapi masa Anisah tega. " Ucap Ilham.


"Saya juga tidak percaya, apa Anisah ada yang pinjam mobil nya. Tapi siapa, dan kalau memang orang suruhan Anisah, kayak nya nggak akan mungkin. Anisah bukan tipe yang seperti itu. " Ucap Bagas.


"Berarti, dari sini kita sudah sedikit, menggali informasi. " Ucap Ilham.


Ponsel Bagas berdering, membaca sebuah pesan dari Meidina. Bagas langsung membalas, pesan yang di kirimkan oleh Meidina.


"Saya ke rumah sakit dulu, Meidina meminta saya untuk kesana."


"Iya, hati - hati. "


****


"Ini kunci mobil nya. " ucap Pak Daus.


"Mobil nya, gimana Om masih enak? " Tanya Anisah.


"Masih, kamu sering bawa service ya? "


"Iya Om, walau jarang di pake, saat hamil. "


Anisah melihat, ada sebuah secuil kain, dan lalu Anisah mengambil nya.

__ADS_1


"Om, ini kain apa? " Tanya Anisah dan melihat depan mobil Meidina yang tergores.


"Mobil nya, habis nabrak ya? "


"Oh tadi, itu menabrak gerobak. "


"Orang nya? "


"Nggak apa - apa. "


"Tapi ini kain apa? "


"Gerobak orang jualan, pakaian tadi om kantuk. "


"Tapi nggak apa - apa kan? "


"Nggak apa - apa. "


"Syukurlah."


"Om tidak tahu, mobil nya tergores nanti Om besok bawa ke bengkel. "


"Nggak apa - apa Om, jangan lagi. Nanti biar Anisah saja atau suruh Mas Bagas. "


****


"Abang."


"Ada apa Mei? "


"Saya ingin katakan sesuatu. "


"Apa? "


"Orang yang menabrak saya itu, adalah orang yang per****sa saya. "


"Apa Mei!!!


" Bang, saya tidak tahu ini , motif nya seperti nya dendam orang tua. "


"Samar - Samar. "


*****


Ryan menggambarkan sketsa wajah dimana ciri - ciri nya, sudah di dapat. Bagas meneliti dengan seksama, wajah yang di maksud oleh Meidina.


"Iya ini orang nya." Ucap Meidina.


Mami Rosa mengambil secarik kertas bergambar sketsa wajah pria yang memper*****sa Meidina.


"Mami kenal? " Tanya Bagas.


"Tidak Mami tidak kenal, dan tidak pernah melihat pelanggan itu atau pengunjung. Tapi mungkin, dia pernah mampir tapi Mami nggak tahu. "Jawab Mami Rosa.


" Dia katakan, salah umi saya. Maksud nya, apa mungkin orang tua saya. "


****


"Mas Bagas mana ya, ponsel malah nggak aktif. Sudah jam 12 malam lagi, istri di rumah khawatir, suami malah nggak ada kabar. "


Tak lama, mobil Bagas sampai, Anisah langsung menyambut suami nya. Senyum Anisah melebar lega, suami yang di nanti pulang.


"Ya Allah Mas, saya itu khawatir. " Ucap Anisah langsung mencium punggung tangan Anisah.


"Mobil kenapa? " Tanya Bagas melihat bagian depan tergores.


"Di pinjam sama Om Daus, katanya nabrak gerobak penjual pakaian. "


"Gerobak, kok bisa? "


"Nanti kalau sempat Mas, bawa ke bengkel ya. "


"Anisah..!!

__ADS_1


" Iya, Mas mau tanya. "


"Tanya apa? "


"Anak Umi Sarah yang hilang , kamu tahu motif nya apa? "


"Hanya tahu hilang saja. "


"Tidak pernah curiga ke seseorang? "


"Selama ini, keluarga saya dah keluarga Abi baik Umi juga tidak ada musuh. "


"Umi Sarah kan, istri kedua. Mungkin saat dulu pernah, terjadi sesuatu. "


"Umi pernah tidak setuju Abi menikahi Umi Sarah, tapi Umi mengalah, saat Abi ambil keputusan dan berusaha untuk adil."


"Apa Umi Sarah dan Umi Salmah, pernah bermusuhan setelah menikah? "


"Tidak, tapi itu terjadi sebelum menikah. " Ucap Anisah.


"Kenapa Mas? "


"Tidak apa - apa, hanya ingin tahu saja. "Ucap Bagas.


" Apa, Meidina itu anak Umi Sarah yang hilang 23 tahun yang lalu. "


*****


"Ini bayaran kamu, setelah ini kamu pergi jauh." Ucap Pak Daus pada Toni, sambil memberikan amplop berwarna cokelat.


Toni menghitung nya, dan tersenyum pada Pak Daus, raut wajah Pak Daus begitu sangat puas namun seperti masih ada yang mengganjal.


"Tapi saya masih belum puas sekali Toni. "


"Apa itu Bos? "


"Anak itu masih hidup. "


"Apa perlu saya, habisi sekalian? "


"Boleh, tapi yang rapih. "


*****


"Kenapa kamu Sarah? "


"Mba Salmah, saya nggak tahu akhir - akhir ini gelisah sekali. Dan entah sakit sekali dada nya sakit sekali. "


"Apa perlu ke Dokter? "


"Nggak, tapi kenapa saya tiba - tiba ingat sama Meidina. "


"Meidina? "


"Iya, bayangan wajahnya tampak begitu sangat jelas. "


"Mungkin kamu, sedang kangen dia. "


"Mba, kalau boleh jujur. Entah hati saya ini, merasakan kalau Meidina itu adalah Sahara."


"Jangan mengada - ngada, kalau sampai tahu Meidina bisa tersinggung. "


"Tanda lahir nya, di punggung tangan ada tanda hitam, sama seperti Sahara. "


*****


"Jadi tadi malam itu, Mas di rumah sakit. Meidina kecelakaan, dan keguguran. "


"Iya, seperti nya ini berhubungan dengan kisah masa lalu keluarga nya. " Ucap Bagas.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2