
Meidina di ajak oleh Radit, untuk bertemu keluarga besar nya, kini tempat pertemuan di rumah Pak Edwin.
Meidina merasakan tak nyaman, saat pertama datang. Karena Pak Edwin, sesekali menatap ke arah nya. Bahkan Ibu Stefani, tiba & tiba berubah dan seakan sinis ke arah Meidina.
Tak mau jauh dari Radit, Meidina terus memepet tubuh nya, hingga tubuh nya merasakan keringat dingin.
"Yank, kamu kenapa? sakit. " tanya Radit saat memegang punggung tangan nya.
"Masih lama nggak? " tanya Meidina pelan.
"Kenapa? kita belum lama datang. "
"Nggak apa - apa. "
"Nggak enak badan? istirahat dikamar tamu ya. "
"Nggak, saya ingin dekat sama Abang."
"Kenapa? " tanya Ibu Mira.
"Meidina, seperti nya tidak enak badan." jawab Radit.
"Istirahat saja Mei, atau mau pulang dulu. "
"Nggak Bu, nanti saja." ucap Meidina.
Saat semua nya, mengambil makanan, Ibu Stefani menarik tangan Meidina menjauh. Tatapan nya, seolah seakan ingin menerkam.
"Berapa kali, kamu layani suami saya? "
"Kata siapa? "
"Katakan, atau saya akan katakan sama Radit."
"Jangan Tante, jangan rusak kebahagiaan saya. "
"Katakan..!!! "
"Su - sudah tiga kali." ucap Meidina, hingga membuat Ibu Stefani menarik nafas panjang.
"Tiga kali, dimana? "
"Hotel."
"Kamu menikmati? "
"Saya tidak pernah menikmati, tapi klien saya termasuk Om Edwin sangat menikmati nya." ucap Meidina jujur.
"Kenapa, kenapa harus keponakan saya, yang kamu sukai, kenapa bukan orang lain."
"Maaf Tante, saya tidak tahu. Saya minta maaf, saya tidak tahu, kalau Om Edwin ktu paman nya Bang Radit. "
__ADS_1
"Apa bisa, kamu pergi jauhi Radit, sebelum pernikahan itu terjadi. Apa kamu bisa, agar suami saya tidak mengejar kamu."
"Maaf Tante, saya tidak bisa."
"Saya yang akan bertindak, bertindak menjauhi kalian. "
"Saya mohon Tante, jangan pisahkan saya."
"Saya tidak bisa, melihat mainan suami saya." ucap Ibu Stefani pergi meninggalkan Meidina.
Meidina berkaca - kaca, bahkan dada nya begitu sangat sesak. Hingga dia, ingin menangis tapi di tahan nya. Meidina pun lalu, duduk di samping Radit, tang sedang mengobrol sambil makan bersama para sepupu nya.
"Nggak makan? "
"Nggak Bang, saya tidak nafsu makan."
Radit menaruh piring nya, dan memegang kening Meidina yang terasa sedikit demam.
"Kita pulang ya, kamu juga pucat."
"Iya."
Radit mengajak Meidina untuk pulang, dan berpamitan pada semua keluarga nya. Meidina langsung masuk kedalam mobil nya.
"Kita pergi ke dokter dulu ya, jam segini masih ada yang buka."
"Bang, ajak saya ke sebuah tempat. "
"Ajak saya, ke tempat dimana hanya kita berdua. "
"Kamu kenapa? katakan sama Abang? kamu sakit, atau punya masalah. "
"Bawa saja saya kemana, mau Abang bawa."
Radit menuruti keinginan Meidina, Radit lalu membawa nya, ke sebuah rumah. Rumah, kosong, namun tampak begitu sangat rapih.
"Bang, rumah siapa? "
"Ini rumah kita, nanti kita akan tinggal disini. "
Meidina tersenyum, dan Radit langsung membawa Meidina masuk ke dalam nya. Meidina tersenyum menatap isi nya, begitu juga dengan Radit.
"Bagaimana? suka? "
"Suka Bang, makasih."
Radit memegang tangan Meidina, dan menarik nya hingga tubuh nya kini sama - sama saling berhadapan.
Radit melihat kedua mata Meidina berkaca - kaca, hingga butiran bening jatuh ke pipi nya. Radit yang kaget, langsung mengusap air mata nya.
"Bang, apakah Abang akan tetap bersama saya, misal suatu saat Abang mendengar cerita tentang kisah saya, yang membuat Abang tidak akan pernah menyangka? "
__ADS_1
"Abang kan sudah bilang, akan tetap bersama kamu. Abang tidak akan pernah, mau tahu masa lalu kamu. Cukup disimpan dan tidak akan pernah di ingat lagi."
"Bang, saya ingin menikmati wajah ini, wajah yang entah sampai kapan saya akan terus melihat nya. Dan, saya hanya ingin merasakan bahagia, walau hanya sebentar. Cinta yang Abang berikan, adalah cinta yang tulus. Doa saya, semoga kita berjodoh, tapi bila tidak, jadilah sahabat untuk saya."
"Kata siapa kita tidak berjodoh, kita berjodoh hingga maut memisahkan kita.Selamanya, kita akan bersama."
"Bang, boleh hari ini saya minta untuk memeluk tubuh Abang? " ucap Meidina, dan Radit menganggukkan kepala nya.
Radit menarik tubuh Meidina, memeluk nya sangat erat, Meidina membalas nya memeluk tubuh Radit.
Bau harum perfume, Meidina terus rasakan, dan untuk mengingat bau nya. Tak terasa, air mata kembali membasahi kedua pipi nya.
"Bang, jangan tinggal kan saya. "
"Abang tidak akan tinggal kan kamu, apapun itu yang terjadi. "
"Janji ya Bang, jangan tinggal kan saya."
"Abang janji sayang." ucap Radit mengecup pucuk kepala nya
Meidina langsung melepaskan pelukan nya, dan mengusap kedua air matanya. Radit membatu mengusap nya, bahkan Radit masih bertanya - tanya, kenapa Meidina tampak sedih.
"Kita pulang Bang. "
"Iya, kita pulang."
*****
"Meidina kenapa ya, kok dia melow gitu." ucap Radit.
"Kenapa? " tanya Ibu Mira.
"Ah.. nggak apa - apa Bu, hanya sedang memikirkan Meidina." jawab Radit.
"Kenapa dia? "
"Dia kenapa melow Bu, dia itu seakan tidak mau kehilangan Radit."
"Mungkin, dia saking sayangnya dan cinta sama kamu. Apa dia tidak menjelaskan kenapa - napa nya? "
"Nggak Bu, dia hanya bilang jangan tinggal kan saya."
"Dia mungkin saking sayang dan cinta sama kamu, apalagi Meidina itu butuh kasih sayang. Dia pasti merasakan kasih sayang kamu, dan kamu jangan sekali sakiti hati dia. Berikan dia kebahagiaan."
"Radit akan bahagiakan dia bu, itu janji Radit."
.
.
.
__ADS_1
.