Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Menutup Kisah Lama


__ADS_3

Meidina duduk melamun, Mami Rosa datang dan ikut duduk di samping nya. Meidina menoleh ke arah nya, dengan tersenyum.


"Anak Mami, kenapa melamun? "


"Nggak apa - apa Mam, hanya ingin sendiri saja. "


"Kenapa? kamu boleh curhat sama Mami."


"Ehm.. Mam, waktu kemarin di rumah sakit. Bang Radit datang, dia bilang mau jadikan Mei itu pendamping hidup dia, dan keluarga nya pun mau, menerima Mei. "


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak terima dia? "


"Mam, masalah nya saya nggak cinta sama dia. "


"Cinta bisa tumbuh belakangan, kamu coba saja jalani dulu. Menurut kaca mata Mami baca, dia itu pria baik sama seperti Bagas. Beda nya, dia masih single. "


"Jujur Mam, saya takut kecewa."


"Kamu kan belum coba, jalani dulu."


"Tapi perasaan saya Mam. "


"Mami bilang apa, coba. Mungkin ini jodoh kamu, ada pria tak beristri yang mencintai kamu. Dari pada kemarin, bikin sakit hati mencintai malah pria beristri. Sama - sama suka, tapi nggak bisa memiliki."


"Makasih Mam, buat saran nya. "


*****


"Makan ya? " ucap Bagas.


"Saya tidak mau makan Mas. " ucap Anisah.


"Kamu jangan menyiksa diri, anak kita sudah nggak ada. Bagaimana pun, kamu lakukan tidak akan bisa hidup lagi. "


"Mas, saya mengandung nya. Saya berharap dia akan tumbuh bersama kita, menemani hari - hari tua kita, bagaimana perasaannya tiba - tiba tidak bergerak dan pergi untuk selama nya. "


"Mas paham, mas juga merasakan. Karena anak Mas, tidak kamu saja. Kamu yang ikhlas, jangan terus begini. Kalau terus begini, Mas takut kondisi kamu sayang."


Hiks.. hiks.. hiks..


"Saya takut, kalau hamil lagi takut seperti ini lagi. "


"Insya Allah tidak, kita nanti coba lagi ya."ucap Bagas menenangkan.


Anisah pun mengangguk kan kepala nya dan mau menerima suapan dari Bagas, sedangkan dari arah pintu Meidina melihatnya dan saat akan di menutup pintu Anisah melihat Meidina.


" Mei. "


Bagas menoleh, kebelakang saat Anisah memanggil Meidina, dan Meidina masuk lalu menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Bagaimana keadaan kamu? " tanya Meidina sambil menaruh parsel buah.


"Alhamdulillah sudah baik kan." jawab Anisah.


"Alhamdulillah."


"Anisah, nggak mau makan, ini masih banyak." ucap Bagas.


"Makan dong, nanti kalau kamu tambah sakit, kasihan suami kamu. "

__ADS_1


"Makasih ya, sudah mau semangatin saya. "


"Anisah, kamu harus kuat. Jangan lemah, kehilangan itu bukan berarti harus kehilangan semua nya. Kamu kan tahu, raga nya telah tiada tapi jiwa nya masih ada. Anak kamu, sudah bahagia di Surga, sama seperti anak saya. Kamu harus tahu, mereka kini sedang bersama dengan para bidadari. Tertawa, tersenyum dan mereka menunggu kita. Hingga waktu kita tiba, mereka akan menyambut kita di pintu. "


"Mei, kamu memang benar - benar wanita kuat, saya harus banyak belajar dari kamu. " ucap Anisah dengan mata berkaca - kaca.


"Semangat ya, ada Bang Bagas di samping kamu. Pria yang sangat mencintai kamu, pria yang setia sama kamu. Walau hati nya pernah goyah, tapi dia tetap pertahankan kamu. Karena kamu, wanita pertama dan selalu ada di hati nya. "


****


"Makasih Mei, kamu sudah memberikan semangat dan nasihat untuk Anisah. Dia itu tidak sekuat kamu, dia itu lemah Mei, kadang saya suami nya harus sabar, kalau tidak sabar ya itu, dia akan marah timbul nya pertengkaran. "


"Abang untung orang nya sabar mengendalikan emosi. "


"Kalau tidak begitu, bisa - bisa kita nggak tahu lah, bagaimana rumah tangga kami."


"Bang, boleh saya minta saran? "


"Saran apa? "


"Bagaimana menurut abang tentang Bang Radit? "


"Kamu suka dia nggak? "


"Entah Bang, saya belum memiliki rasa."


"Cinta bisa tumbuh di belakang, kalau kamu mau menjalani nya. "


"Abang ikhlas kan, kalau saya jadian sama Bang Radit? " ucap Meidina dan Radit pun tersenyum.


"Ikhlas, Abang ikhlas Mei. Walau Abang sayang sama kamu, cinta sama kamu. Tapi kamu berhak bahagia dan hanya pemilik satu - satu nya. Dan bukan nya, kita ini sedang belajar untuk membuang rasa nya. Kamu sekarang rasa nya bagaimana? "


"Pelan - pelan Mei, dari 100 sisa 40 persen, Abang juga sama. "


"Makan nya, kita jaga jarak. Saya begini sama Abang kan, karena Anisah sedang dirawat. "


"Kamu coba, buka hati kamu. Insya Allah 40 persen itu, akan hilang cepat. "


"Iya Bang, saya akan buka hati ini."


"Radit pria baik, saya tahu dia. Dia akan membahagiakan kamu, percaya sama Abang."


****


"Bang Radit, kok ada di parkiran rumah sakit?"ucap Meidina saat mau keluar dari pelataran rumah sakit.


" Abang tadi ke rumah katanya kamu disini, jadi Abang jemput. Ehm.. istri nya Bagas bagaimana? "


"Alhamdulillah sudah mendingan, Abang mau nengok? "


"Boleh, antar Abang masuk lagi ya. "


"Baik Bang. "


Di dalam kamar rawat, Bagas mengobrol dengan Radit. Anisah tersenyum ke arah Meidina, dan berbisik pada nya.


"Jadi kapan resmi nya? "


"Apaan sih Anisah. "

__ADS_1


"Resmi nya, kenapa nggak secepatnya."


"Jadian saja belum. "


Langsung nikah saja, ngapain lama - lama."


"Ih.. apaan sih. " ucap Meidina sambil tersipu.


****


"Mei, kita ke rumah Abang ya. "


"Ngapain Bang, nggak akh. "


"Kenapa Mei, kita nanti ketemu sama orang tua Abang. "


"Nggak Bang, saya tidak mau."


"Mei, Abang ingin kamu kenal sama mereka lebih dekat. Mereka welcome sama kamu, kamu mau ya. "


"Bang, please jangan sekarang ya, saya masih belum siap. "


"Ok kalau begitu, Abang nggak maksa. Tapi Abang ingin ajak kamu, ke suatu tempat. Kamu mau ya? "


"Kemana? "


"Abang ajak kamu ke pantai, mau kan? "


"Boleh."


Semilir angin laut, membuat kerudung Meidina bergerak, kedua nya berjalan di tepi pantai dengan hamparan pasir putih.


Saat terdapat batang pohon kelapa tumbang, mereka duduk di batang kayu nya, sambil menikmati ombak kecil.


"Mei, bagaimana tentang perasaan itu? kamu sudah ada jawaban nya? "


Meidina diam, Radit menoleh ke arah Meidina yang sedang memandang lurus, ke arah pantai.


"Mei."panggil Radit dan Meidina menoleh, senyum dari bibir Meidina di sambut Radit dengan senyuman nya.


" Bismillah, kita jalani ya Bang. "


"Alhamdulillah, makasih ya Mei. " ucap Radit sambil memegang tangan Meidina.


"Sekarang, saya mungkin belum ada rasa. Tapi saya akan belajar, untuk mencintai Bang Radit. "


"Abang akan selalu menunggu cinta kamu, Abang janji akan bahagia kan kamu. "


"Terima kasih Bang, sudah mau menerima semua nya, terutama menerima masa lalu saya yang tidak enak untuk di ceritakan."


"Abang mencintai kamu, tulus. Dan bukan untuk di bawa mengingat masa lalu, tapi untuk di bawa ke arah masa depan. Abang akan menutup kisah kamu, dan mengganti dengan kisah kita sekarang. "


"Terima kasih Bang. "


"Kamu bagi Abang, adalah bidadari. Kamu bagi Abang, adalah ratu di hati. "


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2