Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
mengorek Informasi


__ADS_3

"Mas, ikut apa kata kamu saja dek. " Ucap Bagas melalui telepon nya.


"Makasih ya Mas, sudah mengijinkan Adek, untuk fokus ke satu dulu. " Ucap Anisah dari seberang.


"Mas nggak mau, kamu terganggu oleh persiapan pernikahan kita, kita tentukan tanggal nya saja yang di rubah tapi acaranya nanti, setelah kamu pulang MTQ di luar negeri. "


"Minta doa nya Mas, biar Adek menang. "


"Mas pasti doa kan, semoga sukses ya. "


"Amin, makasih Mas. "


"Sama - sama, Mas akan selalu dukung kegiatan calon istri Mas. Dan sudah menikah nanti, Mas tidak akan menyempitkan ruang gerak kamu. "


"Tapi Anisah sudah putus kan, untuk tidak bekerja. Anisah, akan fokus menjadi ibu rumah tangga. "


"Jarang - jarang, ada seorang wanita yang melepaskan gelar nya, hanya buat jadi seorang ibu rumah tangga. "


"Lepas tidak nya, tetap akan menjadi ibu rumah tangga. Hanya saja, saya ingin fokus menjadi istri Pak Kapolsek. "


******


"Bang, Pak Kapolsek mana? " Tanya Meidina.


"Di rumah nya, kenapa? " Tanya kembali Ilham.


"Kangen, nanti jangan dulu di pindahkan di Polres ya, udah mau 3 hari disini. Takut nya besok di pindah ke Polres. " Jawab Meidina.


"Seperti nya begitu. "


"Jangan dulu dong Bang. "


"Yeee ini tahanan malah nego, besok di pindahkan. "


Meidina menunjukkan wajah kecewa nya, dan duduk menjauh dari Ilham. Ilham menatap sedih ke arah Meidina.


"Kami sedang mencari bukti, kalau sudah terkumpul kamu bisa bebas. "


"Bang, saya itu jatuh cinta sama dia. Bahkan saya mau lebih lama di sini, tanpa harus di pindah. "


"Nggak bisa Mei, sudah aturan. Lagian kamu itu bukan tipe Bagas, Abang yang sudah tahu dia dari kecil. Kamu seharusnya berkaca. "


"Tapi apa salah nya Bang, wanita seperti saya mencintai orang berpangkat."


"Itu hak kamu, tapi Abang saran kan. "


"Apa dia sudah menikah? "


"Sudah punya calon istri. "


"Baru calon istri Bang, belum terikat. "


*****


"Loh kesini lagi? " Tanya Ilham.


"Kamu piket malam ini? " Tanya Bagas.


"Iya, ada kerjaan kah kemari lagi? "

__ADS_1


"Tidak, saya hanya ingin bermalam disini saja." Ucap Bagas sambil tatapan nya ke arah sel.


"Besok, dia di pindah kan ke Polres."


"Jam berapa? "


"Jam 10 siang. "


"Bukti masih belum terkumpul? "


"Tim sudah terjun ke lapangan, dan tinggal menunggu hasil. "


"Jangan sampai, orang - orang seperti mereka bergerak bebas. "


"Bagas."


"Iya."


"Kamu tahu kan Meidina itu siapa? "


"Iya, kenapa? "


"Saya berharap, perhatian nya kamu bukan menaruh hati padanya. Saya hanya ingin, tidak mau di kemudian hari harus menerima cacian lagi. "


"Maksud kamu? "


"Saya harap, kamu tidak jatuh hati sama Meidina. " Ucap Ilham,Bagas tersenyum dan menepuk pundak sahabat nya itu.


"Kamu pikir, perhatian saya ini karena saya jatuh cinta. "


*****


"Ini buat dia disana. " Bagas memberikan paper bag besar berisi bantal dan selimut.


"Ini buat Meidina? " Ucap Ilham.


"Kamu kan, yang ikut antar dia. "


"Iya sih. "


"Kasih ke dia kalau sudah sampai sana."


"Siap." Ucap Ilham sambil tersenyum.


"Mami, berharap kasus nya hanya sampai Polres, kamu bebas. " Ucap Mami Rosa sambil merapikan anak rambut Meidina.


"Makasih, untuk selalu ada buat Mei. "


"Kamu anak Mami satu - satunya, ibu mana yang tega membiarkan anak nya tersangkut masalah berat seperti ini. "


"Makasih Mami. "


Meidina masuk kedalam mobil Polisi, Mami Rosa hanya melihat anak angkat nya pergi di bawa. Mami Rosa mendekati Bagas, yang menatap mobil dari jauh hingga tak terlihat.


"Pak Kapolsek, tolong bantu Meidina. Hukum adil untuk dia. "


"Kami sedang berusaha, Ibu berdoa saja. "


*****

__ADS_1


"Apa ini? " Ucap Meli membaca surat peintah pemeriksaaan dirinya.


"Kami dari pihak kepolisian ingin memeriksa Ibu dan meminta beberapa keterangan tentang kasus yang ibu tangani di keluarga Pak Mario. " Ucap Bowo.


"Maaf, kasus apa ya? karena saya menangani kasus nya juga, karena saya membantu membela kebenaran untuk Pak Mario. "


"Benar , Ibu tidak bermain curang? "


"Maksud nya apa ya, jangan sembarang kalau bicara. Saya bisa tuntut balik anda, dan kedua teman anda. "


"Bu, kalau Ibu tidak merasa bersalah, Ibu tidak akan keberatan tentang pemeriksaan ini. Apa ibu takut, ketahuan? " Ucap Bayu.


"Sekarang saya ingin mengorek beberapa keterangan, dari ibu. "


*****


"Maaf Pak Polisi, ada perlu apa? "


"Maaf sebelumnya, mungkin kamu kaget kenapa saya menemui kamu. Kamu masih ingat Steven? " Tanya Bagas menemui korban dari Steven, dari beberapa informan yang memberikan informasi tetang korban Steven.


"Bapak mau, melanjutkan kasus nya? percuma Pak saya hanya orang kecil, tidak bisa berbuat apa - apa. "


"Wanti, nama kamu Wanti kan? "


"Bapak tahu dari mana? "


"Mudah, bagi saya mencari korban dan pelaku kejahatan. Kamu bisa bantu saya, dan ini juga akan membantu kamu, mendapatkan keadilan."


"Bantu apa Pak? "


"Jadilah saksi, karena ada korban seperti kamu, tapi di penjara sekarang karena korban melawan. "


"Apa bisa jamin, hukum akan adil pada kita, keluarga nya berkuasa, saya yang orang kecil tidak bisa berbuat banyak. "


"Saya turun langsung dalam kasus ini, saya tidak ingin melihat orang yang mempermainkan hukum malah hidup bebas di luar sana, bahagia atas penderitaan orang lain. "


"Kejadian, 5 tahun yang lalu. Tidak akan pernah saya lupa, atas tindakan tidak senonoh hingga saya hamil, dan melahirkan satu anak. " Ucap Wanti sambil menatap ke arah seorang anak kecil laki - laki.


"Dia, anak Steven. Saya minta pertanggung jawaban atas apa yang dia perbuat, dia tidak mengaku malah bilang saya memfitnah nya. Saya lakukan tes DNA, saat anak saya lahir, saya buka kembali kasus nya. Tapi pengacara sialan itu mempermainkan hasil tes DNA, saya tidak bisa berbuat apa - apa, malah saya ditawarin sejumlah uang. Bahkan pihak rumah sakit berani tutup mulut. "


"Baik, terima kasih untuk informasi nya, saya minta kerja sama nya. "


*****


"Hah.... Pak Polisi, akhirnya menengok saya juga. " Ucap Meidina sangat senang saat melihat Bagas menemui nya di Polres.


"Kamu nggak ada wajah sedih ya, orang di penjara itu dimana - mana sedih, takut dapat hukuman berapa tahun, ini malah wajah nya ceria banget. "


"Kan, ada Pak Polisi, kamu tahu, saya itu suka lihat kamu. Apalagi tubuh kamu yang kekar, tinggi dan lihat otot - otot kamu, begitu membuat saya berfantasi saat ini. " Ucap Meidina sambil menggigit bibir bawah nya.


"Saya tidak bisa berlama - lama, saya pamit. " Ucap Bagas yang menatap ke arah lain, dan tidak berani menatap ke arah Meidina.


"Kamu tidak mau menatap saya? "


"Haram bagi saya menatap lama - lama, wanita yang bukan muhrim. "


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2