Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Mencari Sebuah Bukti


__ADS_3

"Mei, saya turut berduka cita, atas apa yang telah terjadi sama kamu. " Ucap Anisah.


"Terima kasih ya sudah, datang kemari." Ucap Meidina.


"Saya, merasakan bagaimana kehilangan. Karena saya juga calon seorang ibu, yang sama seperti kamu. Apalagi, dengan musibah yang bertubi - tubi mengenai kamu. "


"Mungkin, saya memang di takdirkan seperti ini. Tapi kenapa, tidak mati saja. Kenapa, saya masih di berikan kesempatan untuk hidup. Jujur, hidup saya tidak lah sempurna, saya itu memang sudah di di takdir kan untuk disiksa bukan untuk di cintai. Kamu beruntung Anisah, hidup di dalam keluarga yang bahagia, selalu melindungi kamu. Bahkan suami yang sangat, mencintai kamu. "


Bagas berdiri diam, sambil menatap ke arah Meidina, di belakang Anisah. Terlihat Meidina mengusap air mata nya, dan lalu tersenyum ke arah Anisah dan Bagas.


"Terima kasih, untuk selalu ada buat saya. Di kala saya seperti ini, dan buat Bang Bagas, jaga baik - baik istri Abang, jangan sampai dia bernasib sama seperti saya. Jaga anak kalian, jangan seperti saya, tidak bisa menjaga nya."


****


"Sarah, kamu makan. " Ucap Umi Salmah.


"Terima kasih mba. " Ucap Umi Sarah.


"Sarah, kamu dari kemarin belum makan apa - apa, Abang takut kamu sakit nanti nya. " Ucap Abi Mulia.


Pak Daus hanya menatap sinis, sambil mengunyah makanan nya. Sedangkan Umi Sarah, sibuk dengan ponsel nya.


"Kenapa ya, ponsel Meidina tidak aktif. "


Umi Sarah dan Abi Mulia terhenti, tidak dengan Daus yang terus fokus pada makanan nya.


"Jadi kamu masih memikirkan anak itu? " Ucap Abi Mulia.


"Sarah, kamu jangan berlebihan begitu. Meidina itu bukan siapa - siapa nya kamu. " Ucap Umi Salmah.


"Bang, apa Abang tidak memiliki perasaan yang sama terhadap saya? seperti kuat kalau Meidina itu anak kita Bang. Bahkan, perasaan khawatir muncul dari kemarin."


Anisah datang bersama Bagas, dan mereka berdua langsung mencium punggung tangan yang ada di ruang makan.


"Dari mana kalian? " Tanya Abi Mulia.


"Habis menengok Meidina. " Jawab Anisah.


"Meidina kenapa? " Tanya Umi Sarah.


"Kecelakaan!! " Jawab Anisah.


"Inalilahi." Ucap Umi Salmah, Umi Sarah dan Abi Mulia.


"Dia bukan kecelakaan, tapi percobaan pemb****han." Ucap Bagas.


Pak Daus, menghentikan makan nya, dan Bagas melirik ke arah Pak Daus.


"Seperti nya, ada dendam masa lalu, dendam pada orang tua Meidina. " Ucap Bagas.


"Dirawat dimana sekarang? " Tanya Umi Sarah.


"Rumah sakit, Permata Hati.Janin nya, tidak bisa di selamat kan. " Ucap Anisah.


"Ya Allah, saya harus segera kesana. "


"Abi antar. "


***

__ADS_1


"Umi Sarah, menganggap Meidina itu anak nya. Terlihat dari tanda lahir, di punggung tangan nya. Bahkan, rasa cemas nya memang benar, Meidina terjadi sesuatu. " Ucap Umi Salmah.


"Kenapa bisa kebetulan begitu umi, apa Meidina itu adalah saudara Anisah? "


"Umi belum yakin, karena bagaimana juga harus di cek kebenarannya. "


Bagas sesekali menatap Pak Daus, terlihat gerak gerik mencurigakan. Dari gerak tubuh nya, yang tidak biasa.


"Om Daus kenapa? " Tanya Bagas.


"Tidak apa - apa. " Jawab Pak Daus tersenyum.


"Kayak gelisah gitu. " Ucap Bagas.


"Kamu sakit Daus? " Tanya Umi Salmah.


"Tidak, mungkin capek. Saya mau istirahat." Jawab Pak Daus langsung berdiri, dan berjalan ke arah kamar nya.


*****


Hiks.. hiks. ..


"Perasaan Umi, memang benar, kamu terjadi sesuatu. " Ucap Umi Sarah, saat sudah sampai di rumah sakit.


"Umi, hiks... hiks... anak saya sudah tidak ada." Isak Meidina.


"Hiks.. hiks... Allah lebih sayang, dengan anak kamu. Dia sudah bahagia, di surga. Anak kamu, tidak salah apa - apa. Hanya Allah mengambil nya kembali, kamu bisa ambil hikmah nya dari kejadian ini. "


"Umi makasih ya, sudah datang kemari. Jujur, Mei merasakan kalau Umi adalah Ibu kandung Mei, hangat pelukan Umi. "


Umi Sarah langsung memeluk kembali Meidina, Abi Mulia, merasakan apa yang istri nya rasakan. Melihat Meidina, begitu sangat dekat dengan dirinya.


Meidina melepaskan pelukan nya, dan menatap wanita berhijab tersebut dengan mata yang sama - sama sembab.


"Meidina tidak mungkin, terlahir dari keluarga seperti Umi. Mungkin orang tua Meidina itu, adalah sama seperti Mei, mereka sengaja membuang saya "


"Meidina, Abi senang hari ini. " Ucap Abi Mulia.


"Senang kenapa Abi? " Tanya Meidina.


"Karena kamu, Umi Sarah itu sekarang bisa tersenyum, bahkan malam nya tidak pernah banyak diam, atau menangis. Dia sekarang, banyak mengucap rasa syukur, kalau doa kami selama ini terkabul. " Jawab Abi Mulia.


"Semoga, anak Abi dan Umi masih hidup ya. Saya mau, di anggap anak sama kalian. Malah saya senang, kalian mau menerima saya, yang notebane nya seorang mantan wanita malam. Bahkan, saya bukan wanita suci, saya hanya wanita kotor yang menjajakan apa yang harus nya di jaga. "


*****


"Mas kenapa? " Tanya Anisah.


"Nggak apa - apa. " Jawab Bagas.


"Mas, sedang memikirkan Meidina? "


"Mas sudah mengantongi seseorang, yang sudah jadikan target. "


"Maksud nya Mas? "


"Om kamu, dalang di balik semua nya. "


"Mas jangan sembarangan kalau bicara, jangan asal menuduh. "

__ADS_1


Bagas lalu mengambil ponsel nya, dan menyerahkan ponsel milik nya, ke Anisah untuk melihat video yang sedang di putar.


"Itu mobil kamu kan? " Tunjuk Bagas.


"Iya, terus apa hubungan nya sama Om Daus?"


"Kata kamu, mobil kamu di pinjam sama Om kamu. Dan menabrak orang, katanya gerobak dan bukti lecet kan mobil nya. "


Hanin langsung berjalan mengambil sesuatu dan menyerah kan robekan kain, pada Bagas.


"Ada ini, saya belum membuang nya. "


"Ini apa? "


"Menempel pada plat nomer mobil. " Ucap Anisah.


"Tepat sekali. "


"Om Daus, pelaku tabrak lari nya? "


"Bukan Om Daus, tapi pemain lain. "


"Ini yang di maksud Meidina kan? "


"Iya, dendam masa lalu orang tua nya. "


"Apa Mei, saudara kandung saya yang hilang 23 tahun yang lalu? "


"Bisa jadi. "


"Tapi, kalau iya kenapa Meidina? "


"Pasti ada sesuatu dalam keluarga kamu, sehingga Meidina lah yang menjadi target utama nya. Untuk melumpuhkan lawan nya, dan kemungkinan dengan menghabisi nyawa Meidina, untuk menghilangkan jejak. "


"Meidina, dalam bahaya kah?"


"Iya, dari awal saya sudah curiga. Pelaku nya tidak jauh dari sini. "


*****


"Mei, kami ikut sedih. " Ucap Eva memeluk Meidina.


"Mei, kamu yang kuat ya. " Ucap Wulan.


"Makasih ya, kalian sudah datang menengok." Ucap Meidina.


"Kamu itu, termasuk wanita kuat, walau cobaan terus datang. Kita doakan semoga, kamu suatu saat bahagia. " Ucap Wulan.


"Amin.. ! ! "


"Mei, Mami bawakan kamu sup enak. Kamu pasti kangen, masakan Mami. " Ucap Mami Rosa sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk.


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam." Sapa semua nya, yang berada di dalam kamar rawat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2