
"Mei."
"Roky"
"Beneran, kamu di DO?"
"Bukan di DO, kasar nya di usir. "
"Astaga Mei, kok bisa gini sih? Kamu bela diri dong, nggak adil buat kamu, masalah pribadi, di jadikan satu sama kuliah. Seharusnya pihak kampus, tidak mencampur adukan masalah seperti ini. "
"Sudah Roky, nggak apa - apa. Mungkin, jalan saya harus seperti ini, menjadi wanita penghibur selama nya. "
"Kamu kenapa, nggak coba untuk untuk kuliah di tempat lain saja? "
"Saya harus dari awal lagi, karena pihak kampus tidak memberikan surat ijin pindah atau apa. "
"Minta Meidina, masa sih nggak di kasih. "
"Saya sudah nggak berminat lagi, buat kuliah, kamu yang rajin ya, jangan banyak sakau."
"Meidina, kalo kamu keluar, saya pun keluar."
"Jangan Roky, kamu itu anak orang berada. Ayah sama Ibu kamu, memiliki jabatan. Masa kamu mau jadi begajulan, kamu selesai kan kuliah kamu, jangan buat kecewa orang tua kamu."
"Nggak Meidina, saya keluar. "
*****
"Non, ada Polisi. "
"Polisi? " Ucap Stella .
"Stella, Polisi ada apa ya cari kamu? " Ucap Meli.
"Iya, jadi deg deg an nih. " Ucap Susan.
"Kita temui. " Ucap Stella.
Stella, Meli dan Susan menemui 5 orang Polisi dengan seragam preman. Terlihat wajah nya yang sangar, dengan tubuh tinggi besar.
"Ada apa ya Pak? " Tanya Stella.
"Mba Stella, maaf kami dari Polsek Leuwiliang, mengirim surat penangkapan untuk Mba Stella dan dua teman nya. " Jawab salah satu polisi.
"Tunggu, ini kasus apa ya Pak? kami bertiga tidak melakukan tindakan kriminal. " Ucap Stella.
"Benar Pak, jangan main tangkap saja. Kami bisa tuntut balik. " Ucap Susan.
"Kasus, penganiayaan Saudari Meidina di Apartemen Grand Mediterania. "
"Oh, jadi dia yang lapor. Pak, asal tahu aja, yang seharusnya di tangkap itu dia bukan kami. Dia itu pelakor, dia itu masuk jaringan perdagangan manusia. Kenapa kami yang di tangkap, Polisi aneh. " Ucap Stella.
"Maaf mba, bukti CCTV sangat kuat. Karena kalian akan segera di tindak. "
"Nggak bisa, kami akan minta pengacara hebat, yang nanti akan mengurus nya di kantor Polisi. " Ucap Stella dengan sombongnya.
"Maaf, kalian harus ikut kami. Bawa mereka." Perintah nya.
__ADS_1
"Jangan, kalian akan kami tuntut balik. " Ucap Susan mencoba lepas dari tangan kedua polisi yang mencoba memborgol nya karena melawan.
"Mami... tolong Mami...!!! " Teriak Stella.
"Hey.. kalian mau bawa kemana anak saya. " Bentak Ibu Zahra.
"Maaf, bu kami dari Polsek Leuwiliang, menangkap anak Ibu atas kasus penganiayaan bersama kedua teman nya. "
"Tidak , anak saya tidak salah. Dan saya akan bawa pengacara untuk mengurus kasus ini."
"Silahkan Bu, kami tunggu di kantor Polisi."
"Mami... tolong...!!! "
"Mami, akan bebaskan kalian. "
*****
"Meidina." Panggil Lastri.
"Ada Mba? "
"Meidina, kata Bang Ilham. Orang yang sudah menganiaya kamu sudah di tangkap. "
"Di tangkap? siapa yang menyuruh menangkap mereka? "
"Bukan kamu? "
"Saya baru tahu dari mba. "
"Mungkin, pihak Apartemen. "
"Lebih baik kamu cek ke Polsek. "
*****
Meidina pun datang, disana sudah ada Pak. Frans yang di mintai keterangan, dan juga Ibu Zahra.
"Hey.. a*****ing kamu, gara - gara kamu kita ditangkap. "Bentak Stella
" Saudara Stella, jaga tingkah anda. Kalau tidak, masa hukuman kamu kami tambah. "
"Meidina, kamu tega ya, tangkap anak saya. Padahal awal masalah ini gara - gara kamu, dan kamu Mas, lihat wanita yang kamu puja, malah menjadikan anak kita tersangka." Ucap Ibu Zahra.
Pak Frans hanya diam tak berkutik, dan hanya memainkan jari nya di atas meja.
"Anak Tante salah, bukti sudah kuat kan. Bagaimana juga proses hukum harus adil, Om Frans, mana cinta Om? apa Om takut sama istri Om, sehingga Om hanya diam."Ucap Meidina.
"Saya minta, kamu cabut laporan nya. " Bentak Ibu Zahra.
"Maaf, ini kantor polisi. Jangan ada keributan, kalau tidak mau salah satu nya di masukan ke dalam penjara. " Ical Bagas.
"Bukti sudah ada, langsung masukan mereka kedalam sel. " Perintah Bagas.
"Siap Komandan. "
"Mami, Papi tolong. " ucap Stella.
__ADS_1
"Tante, Om tolong , bebaskan kami." Ucap Susan.
"Pak, saya sebagai pengacara nya meminta mereka jangan di masukan ke dalam sel." Ucap Pak Santo, pengacara keluarga Ibu Zahra.
"Maaf Pak, kami tetap memasukan mereka ke penjara. "
Meidina menatap tajam ke arah Bagas, yang sedang menginterogasi Pak Frans, terlihat wajah sedikit emosi, sedangkan Meidina hanya diam, dan lebih banyak yang bicara adalah Bagas.
***
"Kamu puas hah.. kamu puas, sudah hancur kan rumah tangga saya, kamu masukan anak saya ke penjara juga. " Bentak Ibu Zahra.
"Mam, udah ini kantor Polisi kita pulang. " Ucap Pak Frans.
"Kenapa Pap, Papi mau lindungi dia. Silahkan Pap, kalau Papi ingin cerai dari Mami, tapi Papi akan keluar dari perusahaan dan tidak akan dapat apa - apa. "
"Iya, Papi minta maaf. Kita perbaiki hubungan kita Ya Mam. "
"Maaf, telat. Mulai detik ini, Papi tinggal kan perusahaan, semua aset pada Papi, akan Mami tarik. Pak Jaya, tolong urus perceraian saya. " Ucap Ibu Zahra langsung pergi meninggalkan kantor Polisi, namun saat berjalan dengan sengaja menyenggol bahu Meidina dengan kasar.
"Meidina, maaf kan Om. "
"Maaf Om, saya tidak mau sama Om. Karena Om sudah miskin. " Ucap Meidina langsung meninggal kan Pak Frans.
*****
"Meidina, saya kira kamu sudah pulang. " Ucap Bagas.
"Abang kenapa, ikut campur urusan saya? "
"Meidina, mereka salah. Pantas di hukum, apa kamu akan terus di injak - injak. Kamu di keluarkan dari kampus, kamu berlutut tapi apa, dengan sombongnya menendang kamu. Mereka pantas di balas, orang seperti mereka tidak pantas di biarkan. "
"Kalau bertindak itu, bilang dulu sama yang bersangkutan nya, jangan main tangkap - tangkap saja. Apa kamu senang, melihat saya di bentak, di caci maki. Saya capek, saya diam itu tidak melaporkan kejadian kemarin, karena saya salah, dan saya tidak mau di maki - maki ujung nya. Tapi, kamu malah tangkap mereka, saya ikhlas di hina. Karena saya bukan orang suci. "
"Saya tidak tega melihat seorang wanita di injak - injak seperti itu. "
"Saya Wanita malam, sudah kebal di pandang seperti itu. "Ucap Meidina.
"Tolong, kalau terjadi masalah lagi pada saya, jangan ikut campur. " Meidina langsung pergi meninggalkan Bagas.
*****
Meidina mabuk setelah menghabiskan 3 botol minuman beralkohol, hingga satu bungkus rokok telah habis.
"Meidina, ada tamu tuh. " Ucap Eva.
"Saya sedang ingin sendiri, tidak mau terima tamu dulu. "
"Ok, saya tawar kan ke yang lain nya. "
"Silakan."
"Nih, kamu isap, kamu bakalan tenang setelah isap ini. "
Meidina menghisap rokok yang di berikan oleh Roki, rasa tenang dan melayang yang kini di rasakan Meidina.
.
__ADS_1
.
.