Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Menuju Pernikahan


__ADS_3

"Stefani, saya mohon. Kamu jangan larang anak saya, untuk menikahi Meidina. Kamu tega, kemarin hampir menghilangkan nyawa Mei, seharusnya kamu diam saja. " ucap Ibu Mira.


"Mba, bagaimana saya bisa tahan, lihat wanita yang sudah tidur dengan suami saya. Apalagi, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, dia itu bermain dengan Edwin. "


"Stef, seharusnya kamu itu memiliki pikiran yang dewasa. Cemburu boleh, tapi saat kejadian itu, Meidina tidak tahu kalau klien nya itu adalah Om nya Radit. Lagian, suami kamu yang salah, jajan di luar. Sebaiknya, kamu bercermin sebelum bertindak."


"Adik ipar mba itu, hyper sedang kan saya, sudah tidak bisa apa - apa lagi di atas ranjang, makan nya dia sekarang seperti itu. "


"Jadi jangan halangi anak saya, menikah dengan pilihan nya. Karena itu bukan, salah Meidina. "


****


Bagas memeluk tubuh Anisah, di cium nya pundak istri ya, yang memakai pakaian yang terbuka.


"Mau bulan madu nggak? " bisik Bagas.


"Bulan madu kemana? "


"Setelah pernikahan Meidina , kita bulan madu. "


"Boleh."


"Kita sewa villa, di daerah puncak."


*****


"Dikit lagi ya. " ucap Radit menyuapi Meidina.


"Nggak Bang, kenyang. " ucap Meidina menyingkirkan mangkok nya dengan pelan.


"Ya udah, minum dulu. " ucap Radit memberikan segelas air putih , lalu Meidina meminum nya.


Radit membelai wajah Meidina, dan lalu merapikan kerudung nya. Sedang kan Meidina menatap wajah Radit dengan begitu tampak bahagia.

__ADS_1


"Abang nggak dinas? "


"Abang cuti satu minggu, kamu lupa, lusa pernikahan kita di majukan. Resepsi, tetap bulan depan. "


"Lusa ya? "


"Iya, lusa kita menikah. Kamu akan jadi Nyonya Radit, ibu Kapolsek. "


"Saya jadi Ibu Bhayangkari, pakai seragam pink. "


"Iya, kamu akan dampingi suami, kemana dia akan bertugas. Dan kita besarkan, anak - anak kita sama - sama. "


"Bang, makasih. "


"Ucapan terima kasih kamu sudah banyak, Abang sudah kenyang. "


"Saya bahagia Bang, bahagia."


****


"Stefani."


"Kamu sudah pulang. " ucap Ibu Stefani saat melihat Pak Edwin pulang, dengan wajah lesu nya.


"Kamu kenapa? "


"Milik saya, tidak bisa berdiri tegak lagi. " ucap Pak Edwin, dan Ibu Stefani tersenyum sinis.


"Terus, harus bagaimana? apa mau panggil kan Meidina, untuk membuat milik kamu berdiri lagi? saya rasa kamu kena karma."


"Saya benar - benar, tidak hebat lagi di ranjang. "


"Edwin, saya minta cerai. "

__ADS_1


"Maksud kamu apa? "


"Cerai."


"Cerai, saat kamu mendengar saya sudah tidak bisa lagi, beraktrasi di atas tempat tidur, kamu mau tinggalkan saya. "


"Bukan nya, saat tahu saya tidak bisa memuaskan kamu lagi, kamu jajan di luar. Apa ini, bukan nya impas. "


"Apa kamu tidak memikirkan, anak - anak kalau kita bercerai. "


"Saya rasa, anak. - anak sudah dewasa, dan kamu pun seperti itu, tidak memikirkan anak - anak. Jadi tekad saya kuat, kita cerai. "


"Nggak Stefani, saya tidak mau."


"Saya akan tetap minta cerai, saya akan mengurus nya sendiri, jadi kamu angkat kaki dari rumah ini, karena rumah ini atas nama saya. "


****


"Mei, jadi nanti kamu mau nikah di rumah siapa? " tanya Mami Rosa.


Meidina menatap ke arah Abi nya, dan Abi nya seakan tahu, apa yang Meidina akan katakan. Dan Meidina tersenyum, ke arah ke arah Mami Rosa.


"Saya akan menikah, di rumah kita Mami." ucap Meidina sambil memegang tangan Mami Rosa.


"Makasih Abi, sudah mengijinkan saya menikah di rumah Mami. " ucap Meidina kembali.


"Sama - sama nak, Abi paham, kedekatan kalian seperti antara Ibu dan anak. Mami Rosa, tetap Mami kamu. Tidak bisa terganti, karena dalama kondisi apapun Mami Rosa selalu ada untuk kamu. "


"Terima kasih Pak, terima. kasih." Ucap Mami Rosa, pada Abi Mulia.


.


.

__ADS_1


__ADS_2