Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Klien Spesial Masa Lalu


__ADS_3

Meidina bersalaman dengan Pak Edwin, pria yang pernah memakai dirinya dulu. Mata Om Edwin, seakan ingin menerkam nya. Lalu Meidina bersalaman dengan, Ibu Stefani istri dari Pak Edwin.


"Wah, ini pacar Radit. Cantik nya, pantas Radit suka. "ucap Ibu Stefani.


Meidina hanya tersenyum, dan sesekali melirik ke arah Pak Edwin, lalu kedua orang tua Radit Ibu Heni dan Pak Mira, menyambut Meidina.


Meidina mencium punggung tangan, kedua orang tua Radit, terlihat tampak ramah kedua nya.


" Ibu dari kemarin, ini kamu kesini. Dan sekarang, calon mantu Ayah sama Ibu sudah disini. Dan Om sama Tante saya juga ada, gimana? mereka baik kan, ramah kan, asik kan? makan nya, tenang saja. Kata Abang tenang, ya tenang nggak bakalan bikin kamu minder. "ucap Radit.


" Iya, terima kasih sudah menerima saya." ucap Meidina.


"Radit, kamu ketemu dimana? wanita seperti dia? " tanya Pak Edwin.


"Di kantor Polisi Om, saat dia mengantarkan catering, waktu pergantian Kapolsek lama dan baru. " jawab Radit.


"Oh kantor polisi. " ucap Pak Edwin.


"Mei, orang tua kamu bagaimana kabar nya? " tanya Pak Halim.


"Alhamdulillah baik Pak. "


"Panggil Ayah saja, kamu kan calon menantu kami. " ucap Halim, sedangkan Meidina hanya tersenyum.


"Tuh Mei, orang tua Abang kasih kode." ucap Radit.


"Kapan nih, Om sama Tante kawal kamu lamar Mei. " ucap Ibu Stefani.


"Nggak tahu, Tan si Mei nya masih belum jawab saja. " ucap Radit.


"Insya Allah, secepatnya. Abang juga kan, belum ketemu sama Abi." ucap Meidina.


"Jadi kamu, belum bertemu sama orang tua nya Radit? " ucap Ibu Mira


"Belum Bu, kan baru jadian kemarin." ucap Radit.


"Dasar, cepat kamu temui Abi nya. Baru kami, ke rumah Meidina melamar nya " ucap Pak Halim.


***


Saat sedang makan malam bersama, Meidina duduk di samping Radit, dan di depan nya adalah Pak Edwin.


Pak Radit, terus menatap ke arah Meidina saat makan, dan merasakan Meidina tidak nyaman. Meidina tersentak, saat sebuah kaki merayap di paha nya.


Sontak, Meidina menjerit dan membuat semua nya kaget, Meidina langsung mencengkram paha Radit sangat keras.


"Ada Yank? " tanya Radit ikut panik.


"Anu, itu ada kecoa tadi merayap di paha saya." jawab Meidina.


"Kecoa..!! " ucap Radit.


"Aduh Mei, maaf. Nanti suruh si bibi, selesai makan semprot ruangan ini." ucap Ibu Mira.


"Maaf Bu, saya hanya geli saja."


****


"Sini kamu. " ucap Pak Edwin menarik tangan Meidina dengan kasar ke sebuah ruangan.


"Om Edwin. " ucap Meidina gugup.

__ADS_1


"Kenapa Mei? kamu takut ya ketahuan, kalau saya pernah pakai kamu."


"Tolong Om, jangan bongkar aib kita."


"Saya tidak menyangka, kamu sekarang berhijab bahkan akan menjadi calon istri ponakan saya. Tapi boleh juga lah, saya sekali - kali pakai kamu. Atau jangan - jangan Radit juga, pakai kamu. Gratis lagi, kamu pakai jampi - jampi apa? sampai bisa dapat kan ponakan saya. "


"Bang Radit tahu, saya bekas wanita malam, bekas banyak pria. Jadi tidak pakai jampi - jampi, atau semacam nya. Tapi tolong, jangan Om umbar aib kita, saya mohon."


"Baik, tapi ada syaratnya. "


"Jangan aneh - aneh om, saya mohon."


"Puaskan saya, seperti kamu puaskan saya dulu. Kita bertemu , di hotel seperti biasa."


"Maaf om, saya tidak seperti dulu lagi. Saya sudah insaf, saya hanya akan menyerahkan tubuh ini pada pria yang halal, buat saya. Bukan pria hidung belang lagi, dan Bang Radit pun menerima saya apa adanya, walau saya bekas dia tulus mencintai saya. Dan saya mohon, jangan Om hancurkan hubungan kami, walau dengan syarat tapi jangan syarat yang itu, berilah syarat lain."


Hahahaha..


"Kamu pikir saya mau dengan tawaran kamu Mei. ? tetap bekas ya bekas. Jujur saya, tidak rela dengan kamu menjadi calon istri dari ponakan saya. "


"Saus berhak bahagia, tolong jangan hancurkan kebahagiaan saya om. Tolong, jangan buka aib kita. "


"Asal, kamu mau layani saya. Dan rahasia kita, akan tertutup rapat. "


****


"Sayang, kamu dari mana? abang cari kamu."


"Tadi habis dari kamar kecil."


"Kita pulang sekarang ya? "


"Kita pamit dulu sama Ayah Ibu."


Radit dan Meidina berpamitan pada kedua orang tua Radit, Ibu Mira seperti tak ingin berpisah dengan Meidina, bahkan pelukan nya sangat erat.


"Bu, sudah ya. Nanti kalau sudah menikah. Menantu ibu, akan sering kesini." ucap Radit.


"Besok kamu kesini lagi ya. " ucap Ibu Mira.


"Insya Allah Bu, kalau Bang Radit ngajak. Kalau nggak, saya tidak akan kesini."


"Radit, besok kamu bawa Meidina kesini lagi."ucap Ibu Mira.


" Siap Ibu Komandan." ucap Radit.


"Kalau begitu, saya pamit. Tante Om, saya pamit. Assalamu'alaikum. " ucap Meidina.


"Walaikumsalam."


****


"Makasih Bang, untuk malam ini."


"Sama - Sama, gimana? " ucap Radit sembari menyentuh wajah Meidina.


"Senang."


"Kapan, Abang akan ketemu sama Abi? "


"Mau nya kapan? "

__ADS_1


"Secepatnya."


"Saya bilang dulu, sama Abi. "


"Ok, abang tunggu kabar nya. Setelah bertemu, sama Abi. Satu minggu nya, Abang lamar kamu, kita menikah. "


"Iya Bang. "


Radit mendekatkan wajah nya, dan mengecup kening Meidina, lalu kedua punggung tangan nya.


"I love you. "


"I love you too."


"Mimpi indah sayang, bawa Abang masuk kedalam mimpi kamu."


"Insya Allah. " ucap Meidina sambil membelai wajah Radit.


"Hati - hati Bang di jalan nya. "


"Iya Sayang."


"Assalamu'alaikum."ucap Meidina.


" Walaikumsalam. "


****


"Saya ingin bicara. " ucap Ibu Stefani.


"Bicara apa? " tanya Pak Edwin.


"Apakah, Meidina salah satu wanita yang pernah kamu tiduri? "


"Kata siapa? "


"Saya tidak bodoh, kamu masuk bersama Meidina ke ruang baca saat di rumah Mas Halim. Saya tak sengaja, melihat dan lalu mendengar nya. Saya tidak menyangka, keponakan kamu akan menikah dengan wanita bekas kamu. "


"Saya akan larang Radit. "


"Larang bagaimana? kamu akan katakan, kalau Meidina itu pernah kamu tiduri? saya tahu Mas, apa yang kamu lakukan di luar sana. Karena, saya tidak bisa lagi puaskan kamu. Karena kamu, memang hyper. Saya sekarang bukan tandingan kamu, dan tandingan kamu itu Mei, kenapa harus dia?"


"Saya akan gagal kan pernikahan mereka, saya tidak setuju Meidina menikah dengan Radit. "


"Karena bekas kamu? "


"Kenapa? "


"Saya dengar, kamu ingin tidur sama dia lagi. Saya dengar itu Mas, saya dengar. Sakit hati saya sakit, saya bisa apa? karena saya sadar kamu di luar sana jajan Saya sadar."


"Maafkan saya, Stefani. Maafkan saya. "


"Kenapa kamu, masih pertahankan saya? padahal saya sudah tidak bisa apa - apa lagi."


"Karena saya, cinta sama kamu. Sayang sama kamu, di luar saya salah, tapi saya juga butuh kebutuhan biologis."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2