
"Mba Mei, mau ketemu sama komandan ya? " Tanya Bayu.
"Iya, ini biasa nganterin makanan." Jawab Meidina.
"Mei." Sapa Ilham.
"Bang."
"Apa itu? "
"Ini Bang, Pak Radit minta setiap hari saya anterin makan siang buat dia. "
"Malam siang. "
"Iya."
"Tunggu saja ya, soalnya Komandan sedang ada tamu. "
"Iya Bang, saya duduk di situ. "
Meidina pun duduk di kursi tunggu, tak lama Bagas keluar dari ruangan Radit. Meidina tersenyum ke arah Bagas, begitu juga Bagas membalas senyuman nya.
"Makan siang ya? "ucap Bagas.
" Iya Bang. "
"Abang pamit ya, hati - hati di jalan nya. "
"Sama Abang juga, hati - hati. "
Bagas bersalaman dengan ilham, dan Meidina masuk kedalam ruangan Radit. Senyum Radit, mengembang saat Meidina membawakan makan siang untuk dirinya.
"Oh iya, ini uang hari ini. "
"Terima kasih Pak. " ucap Meidina menerima uang bayar makan siang Radit.
"Kalau begitu saya pamit. "
"Nanti dulu, saya ingin bicara serius sama kamu. "
"Mau bicara apa ya? "
"Kamu sudah punya pacar? "
"Kenapa gitu? "
"Ingin tahu saja, kamu sudah punya pacar apa belum? "
"Saat ini sendiri. "
Radit tersenyum dan dalam hati bersorak gembira, dan Meidina menatap ke arah Radit dengan penuh tanda tanya.
"Pak."
"Eh iya, jangan panggil saya bapak dong. Panggil Mas atau Abang. "
"Kenapa? "
"Ya nggak apa - apa, kamu saja tadi panggil Bagas dengan sebutan Abang. Dan sama Ilham juga Abang, ya kamu panggil sama Abang juga boleh. "
"Oh gitu ya. " ucap Meidina menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Kamu di rumah saja kan? "
"Di rumah, saya nggak kemana - mana."
"Boleh saya main? "
"Hah..!! "
*****
"Kamu kenapa Mei? " tanya Mami Rosa.
"Mam, Kapolsek yang baru, minta main kesini." jawab Meidina.
"Nah, cocok kan apa kata Mami. "
"Mami, terus terang saja. Saya ini ingin menjauh dari pria. Mami kan tahu, saya minder sendiri Mami. Saya memiliki masa lalu yang tidak enak, apalagi kalau disukai sama orang yang berpangkat dia tidak tahu cerita masa lalu saya. "
"Tapi kan belum, tentu Mei. Siapa tahu, seperti Bagas. "
__ADS_1
"Nggak Mam, saya tidak mau. Saya tidak mau membuat malu keluarga nya. "
Tak lama suara motor berhenti tepat di depan rumah nya, terlihat Radit turun dari motor nya. Mami Rosa lalu masuk, membiarkan Meidina bersama Radit.
"Assalamu'alaikum." Radit mengucapkan salam.
"Walaikumsalam." Balas Meidina.
"Masuk Bang. "
"Enak Mei, rumah kamu. "
"Bukan rumah saya Bang, ini rumah Mami."
"Lagi nggak ada pesanan ya? "
"Sedang kosong hari ini, rencana sih di depan nanti mau di buat warung makan. Manfaatkan garasi samping. "
"Terus mobil nya, mau kamu taruh dimana? "
"Kan masih ada lahan kosong, pas depan pintu pagar. "
"Oh iya ya, sedang sih, buat parkir motor sama mobil. "
"Abang mau minum apa? "
"Nggak usah repot - repot. "
"Hanya air putih. "
"Nggak usah repot - repot, kembung perut nya dari tadi minum terus. "
"Masa tamu, di anggurin saja."
" Ya nggak apa - apa. "ucap Radit.
" Hem.. Mei, kita jalan yuk. "
"Maaf Bang, saya nggak bisa. Kalau mau ada yang di obrolin boleh disini saja. "
"Gitu ya, tapi nggak enak. "
"Mei, maaf kalau ini terlalu cepat. "
"Apa nya ya? "
"Mei, jujur saya itu suka sama kamu."
Meidina menundukkan kepala nya, lalu menggeleng kan kepala nya sambil mencengkram ujung pakaian nya.
"Jangan Bang. "
"Kenapa Mei? "
"Saya nggak pantas buat Abang. "
"Nggak pantas apanya? "
"Saya, bukan wanita baik - baik. "
"Ya Allah Mei, kata siapa kamu bukan wanita baik - baik, kamu itu sempurna di mat saya. "
"Saya itu, tidak seperti yang Abang kira. Casing bisa saja, membohongi. Maafkan saya Bang, saya tidak bisa. "
"Apa karena kamu memiliki seseorang di luar sana? "
"Tidak ada Bang, tidak ada. "
"Lantas? "
"Maafkan Saya. "
*****
Meidina memotong sayuran, tanpa mengobrol dengan Para Sahabat nya. Sekali di tanya, Meidina hanya diam saja.
"Kenapa sih? " bisik Eva.
"Habis di tembak sama Pak Kapolsek." bisik Wulan.
"Bagus dong. "
__ADS_1
"Bagus apa nya, Meidina nggak mau mengecewakan orang. "
"Meidina, ada paket. " ucap Santi.
"Paket? "
"Lihat saja di depan. "
Meidina lalu bangun, dan berjalan menuju ke arah, pintu depan. Terlihat seorang kurir, membawa kan buket bunga mawar segar.
"Atas nama Meidina? "
"Iya saya. "
"Ada kiriman bunga, dari Pak Radit. "
"Terima kasih Pak. " ucap Meidina menerima buket bunga nya.
"Tolong tanda tangani. " ucap kurir, lalu menandatangani tandan terima nya.
"Terima kasih. "
Meidina lalu menaruh buket bunganya, di atas sofa dan langsung masuk kedalam kamar nya. Mami Rosa, Eva, Wulan dan Santi melihat Meidina dengan wajah tampak sedih.
"Apa yang di lakukan Mei, karena merasa dia wanita kotor. Tidak pantas, dicintai pria seperti Pak Radit. Orang yang paling mengerti itu hanya Bagas, tapi Bagas bukan jodoh nya Meidina. Mei itu takut pria yang mencintai, akan kecewa. "ucap Mami Rosa.
" Kasihan sama Mei, siapa pria yang benar - benar menerima Mei apa ada nya? " ucap Santi.
*****
"Kamu ada apa? malam - malam telepon Abang? " Tanya ilham.
"Bang, ini yang saya takut kan. Ada seorang pria yang mencintai saya. Abang kan tahu, saya ini wanita bekas banyak pria, mana ada pria yang mau, saat wanita nya adalah mantan wanita malam."
"Apakah, komandan saya? "
"Iya, dia nembak saya. Dan dia kirimkan bunga untuk saya. Saya sudah menolak nya, tapi dia tetap maju. "
"Apa kamu akan jujur? "
"Lebih baik saya diam, saya menghindari nya.Karena saya tidak mau, mendengar kata kecewa. Kata itu yang akan meruntuhkan saya."
"Kamu suka sama dia? "
"Saya berdoa, agar tidak memiliki rasa pada seorang pria."
"Kenapa? bukan nya di cintai itu lebih baik. "
"Saya takut nya, tidak mencintai saya dengan tulus. Saat tahu siapa saya, dia akan pergi. "
*****
"Saya tembak dia, tapi di tolak." ucap Radit, pada Bagas saat bertemu di salah satu cafe.
"Kamu tulus mencinta Meidina? " tanya Bagas sambil meminum jus nya.
"Serius, bahkan kedua orang tua saya setuju."
"Memang nya, Ayah dan ibu kamu, tahu siapa Meidina? "
"Tahu, saat kunjungan ke Polsek. "
"Oh."
"Kamu bisa bantuin saya nggak, buat satukan saya sama dia? "
"Saya nggak bisa janji, kenapa kamu tidak coba sendiri saja dekati dia."
"Di tolak. "
"Kalau memang kamu niat serius, jangan lihat masa lalu Meidina, apapun yang pernah terjadi sama Meidina kamu harus menerima nya. Dan jangan pernah menyesal, dengan apa yang kamu putuskan. Dan satu, jangan sakiti dia atau hanya memberikan sebuah harapan palsu."
"Kamu harus tahu, saya itu baru merasakan jatuh cinta lagi. " ucap Radit
.
.
.
.
__ADS_1