
"Mas." Anisah menyambut suaminya dengan mencium punggung tangan nya.
"Alhamdulillah, akhirnya tertangkap juga. " ucap Bagas pada Anisah.
"Alhamdulillah, akhirnya berakhir juga. "
"Iya, Mei sekarang bisa hidup tenang. "
"Apa akan di hukum seumur hidup atau hukuman mati? "
"Belum tahu, karena proses sidang kan, belum di laksanakan. Semoga, dia di berikan hukum seberat - berat nya. "
"Iya, karena selama ini, Mei tidak pernah mendapatkan keadilan. Dia harus menerima, apa yang dia selama ini tidak pernah di rasakan. Meidina pantas mendapat kan semua nya, pantas bahagia, pantas mendapat hak nya. "
"Iya." ucap Bagas tersenyum.
Bagas masuk ke dalam kamar nya, mengganti pakaian nya. Anisah membantu, mengambil kan pakaian untuk suami nya. Lalu membawa seragam kotor, untuk di taruh di keranjang cucian kotor.
"Mas, mau makan sekarang? "
"Nanti saja, mas masih kenyang. " ucap Bagas keluar dari kamar nya, dan langsung menyalakan televisi.
"Saya buatkan teh manis hangat. " Anisah meletakkan, secangkir teh manis hangat, di atas meja.
"Makasih ya. " ucap Bagas langsung meminum teh buatan istri nya.
"Gimana, kapan wisuda? "
"Bulan depan Mas."
"Alhamdulillah, bulan depan masuk usia 5 bulan, 4 bulan lagi anak kita lahir. " ucap Bagas.
"Iya Mas, nggak kerasa ya. Tahu - tahu mau lahiran saja, seandainya Umi masih hidup, pasti Umi sangat senang menyambut cucu pertama nya. "
"Pasti, tapi masih ada Abi. Orang tua kita satu - satu nya, dan ingat kamu juga masih memiliki saudara. "
"Iya Mas. "
*****
Meidina tengah sibuk, mendapatkan orderan yang banyak. Di bantu Mami Rosa, dan ke 7 sahabat nya. Ponsel Meidina terus berdering, orderan setiap hari masuk.
"Guys, kita padat nih buat satu minggu. " ucap Meidina.
"Alhamdulillah." ucap semua nya.
"Kita fokus yang sudah masuk dulu ya, orderan satu minggu. Baru kita buka lagi, tapi ntar dulu ada chat masuk buat minggu depan nya lagi. "
"Ya Allah, rejeki itu datang nya dari segala arah. " ucap Wulan.
"Benar say, ternyata rejeki halal itu banyak. Alhamdulillah pintu rejeki, selalu terbuka buat kita." ucap Meidina.
****
"Assalamu'alaikum." Meidina mengucapkan salam saat akan masuk ke rumah Abi nya.
"Walaikumsalam." balas yang di dalam, ternyata ada Bagas, Anisah dan Abi Mulia.
"Nak, kamu bawa apa tuh? " tanya Abi nasir.
"Ada sedikit masakan, buat Abi makan. " ucap Meidina.
"Wah, pasti enak. Boleh dong, saya cicipi? " ucap Anisah.
"Boleh, siapa yang larang. "
"Kita bongkar sama - sama yuk. "
__ADS_1
Abi Mulia dan Bagas tersenyum, saat melihat kedua nya akrab. Tawa ringang, terdengar dari arah dapur.
"Abi senang, melihat kedua nya akur. Abi ingin, sampai tua mereka seperti itu. "
"Iya Abi, saya berharap begitu. "
"Seandainya, kedua istri Abi masih hidup. Pasti mereka bahagia, apalagi Sarah.Dia tidak pernah, merasakan Anisah tersenyum, atau sekedar manja sama dia. Hanya tatapan tidak suka, tapi Sarah tidak pernah mengeluh, dia simpan rapat - rapat. "
"Sekarang, semua nya sudah berakhir. Meidina sudah mendapatkan kebahagiaan nya, cinta yang selama itu tidak pernah dia dapat kan. "
**
"Ehm... enak banget Sahara. " ucap Abi Mulia.
"Alhamdulillah,kalau Abi suka. Nanti Mei, akan bawakan ini setiap hari. "
"Ngga usah Mei, kamu jangan repot - repot. Ada asisten rumah tangga, disini jadi kamu nggak usah repot - repot masak buat Abi."
"Nggak masalah kok Abi, Mei kan anak nya Abi. "
"Makasih nak. "
"Sama - sama. "
"Abi, bulan depan Anisah kan wisuda, nanti Abi datang ya sama kamu juga Mei. " Ucap Anisah.
Meidina tersenyum, dan menganggukkan kepala nya, dan mengaduk makanan nya di atas piring.
"Kamu kenapa Mei? " Tanya Anisah.
"Nggak apa - apa, hanya saja kalau saya tidak di keluarkan, mungkin saya juga wisuda." Jawab Meidina tersenyum sendu.
"Sahara, kamu mau kuliah di luar negeri? Abi kuliah kan kamu di Mesir. "
"Nggak usah Abi, Mei cukup kerja saja. Lagian saya sudah tidak ingin, melanjutkan pendidikan yang tinggi. "
****
"Karena kasus Abi. " ucap Bagas.
"Kasus apa? "
"Abi, Mei kan dulu wanita malam. Dia jadi simpanan banyak pria, saat itu pria yang dia kencani itu Ayah dari teman nya. Waktu itu, ketahuan, Mei di aniaya oleh teman nya itu, dan ternyata istri dari pria itu memiliki kekuasaan di kampus dimana Meidina dan Anisah kuliah. Nah dari situ, Mei di keluarkan." ucap Bagas memberikan penjelasan.
"Dan Mei itu, pintar Abi. " ucap Anisah.
"Banyak orang, yang memandang dia sebelah mata, tapi Mei biasa saja. Pihak kampus, mempertahankan dia karena kepintaran nya. Tapi apa boleh buat, orang yang berkuasa malah, meminta untuk Mei tidak kuliah di kampus itu lagi. " ucap Anisah.
"Ya Allah Sahara, Abi tidak menyangka, hidup kamu begitu menderita. "
*****
"Apa kabar? " Bagas bersalaman dengan Kapolsek baru yang akan menggantikan dirinya.
"Alhamdulillah, baik. kita ketemu lagi, nggak menyangka ya saya gantikan kamu. " ucap Radit.
"Sekarang, sudah punya anak berapa? "
"Belum punya, dan belum menikah. "
"Loh bukan nya, kemarin dengar kamu mau nikah? "
"Sama yang itu ya, dia meninggal dunia. Seminggu kita mau menikah dia, kecelakaan."
"Inalilahi wainnailaihi rojiun. "
"Ngomong - ngomong, kamu sudah punya anak berapa? " tanya Radit.
__ADS_1
"Baru saja, masih dalam kandungan. "
"Semoga lancar, sampai persalinan. Amin..!! "
"Amin...!! "
"Jadi bagaimana, untuk acara serah terima jabatan? kapan siap nya? " tanya Bagas.
"Lusa bisa, surat tugas kita kan sudah turun. "
"Ok, saya besok serah terima nya. Jadi minggu ini, sudah resmi kapolsek baru. "
"Iya betul. "
*****
"Mau pesan berapa kotak Bang? " Tanya Meidina.
"200 kotak, bisa nggak? " ucap Bagas kembali bertanya.
"Aduh ini full banget Bang, kalau buat lusa."
"Tolong dong, kasih celah. "
"Nanti saya tanya ke yang lain nya. "
Meidina pergi ke arah dapur menemui para sahabat nya, yang sedang menata makanan di dalam kotak nasi.
"Bisa nggak, buat lusa 200 kotak, untuk polsek? "
"Polsek mana Mei? " tanya Eva.
"Polsek Bang Bagas tugas. " jawab Meidina.
"Aduh gimana ya? "
"Dia maksa."
"Mei, kita bagi saja. Kamu buat pesanan untuk polsek di bantu sama Santi gimana? " ucap Eva memberikan ide.
"Apa nggak keteteran? "
"Bisa - bisa, saya siap kok. "ucap Eva.
" Beneran? "
"Iya bisa. "
"Yaudah saya bilang ke Bang Bagas nya. "
Meidina pun menemui Bagas yang sedang duduk di ruang tamu.
"Gimana Mei? "
"Bisa Bang, ini khusus Abang kalau yang lain sih nggak bisa. "
"Makasih ya Mei, kalau gitu saya bayar lunas."
"Apa nggak nanti saja, kalau sudah jadi."
"Nggak, sekarang saja biar enak."
"Boleh, saya ambil nota nya dulu. "
"Nggak usah lagi, ini pakai uang saya."
.
__ADS_1
.
.