Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Status


__ADS_3

"Mei." Mami Rosa langsung memeluk Meidina yang sedang memegang beberapa alat pengetes kehamilan. Terlihat berserakan, yang terdiri dari beberapa macam alat.


"Mami, memang benar, saya telat ini karena hamil. " Ucap Meidina terisak.


"Iya sayang, kamu memang hamil. "


Hiks... hiks.. hiks...


"Mami... benar - benar masa depan saya rusak Mami, hiks.. hiks... semua nya gara - gara mereka. Hiks.. hiks.. hiks.. kenapa mereka tega sekali Mami, hiks.. hiks.. hiks.. "


"Ada Mami, kamu nggak sendiri. Mami akan rawat anak kamu, seperti anak Mami sendiri."


Bagas dan Ilham menatap Meidina, Bagas langsung pergi dari kamar Meidina. Di susul oleh Ilham, Bagas mengusap wajah nya dengan kasar.


"Kita harus minta pertanggung jawaban siapa? Tedi dan Roy sudah meninggal dunia, satu - satu nya kelima pemuda itu. "Ucap Ilham.


Bagas hanya diam, dan menoleh kembali ke arah Meidina, dan Bagas langsung bangun dari duduk nya, kembali berjalan ke arah kamar Meidina.


" Mei. "


"Abang."


"Kamu jangan sedih ya, ada Abang. Apapun yang terjadi sama kamu, Abang tidak akan meninggalkan kamu. "


Hiks.. hiks.. hiks...


"Saya harus bagaimana Bang, hiks.. hiks.. entah siapa Ayah nya. Saya tidak bisa seperti ini, hanya satu cara nya saya hancurkan kandungan saya, hiks.. hiks.. hiks.. "


"Nggak, jangan. Kamu jangan lakukan ini. Bagaimana juga, dia nggak salah. "


Hiks.. hiks.. hiks..


"Saya nggak kuat Bang, nggak kuat. "


Bagas terus menatap Meidina, tangan nya mengusap air mata yang terus keluar dari kedua mata Meidina.


*****


"Meidina hamil. "


"Apa Mas? Hamil. "


"Iya, dia hamil. "


"Inalilahi, terus bagaimana Bang, keadaan Meidina? " Ucap Anisah.


"Yang jelas, dia sangat sedih. Kehamilan nya, yang tidak pernah di harapkan. "


"Terus, Mas akan melakukan apa? "


Bagas menatap ke arah Anisah, dan seolah tatapan Bagas Anisah mengetahui nya.


"Nggak Mas, jangan bilang kamu akan menikah dengan Meidina. "


Bagas menundukkan kepala nya, sedangkan Anisah terus menatap ke arah suami nya dengan tatapan tidak suka.


"Mas itu cinta, atau karena rasa kemanusiaan? jadi orang jangan terlalu baik, jadi nya rasa cinta itu selalu tumbuh. "


"Maaf untuk masalah hati, Mas akui Mas sayang sama dia. Kamu tahu kan, rasa cinta Mas sama dia, lama - lama semakin besar."

__ADS_1


"Saya tidak mau di madu Mas, saya tidak mau seperti Umi. "


"Mas tahu, tapi Maaf. Mas tidak bisa terus memendam rasa ini. "


"Bagaimana juga saya tidak mau, tidak mau di madu. " Ucap Anisah langsung pergi meninggalkan Bagas.


****


"Usia kandungan nya, masuk empat minggu." Ucap Dokter kandungan yang memeriksa Meidina.


Meidina dan Mami Rosa hanya tersenyum tipis, Meidina mengusap perut nya yang masih rata. Mami Rosa mengusap punggung Meidina.


"Saya tulis kan resep vitamin untuk ibu dan calon bayi nya Ibu. "


Meidina berjalan lesuh dengan di gandeng oleh Mami Rosa, saat hendak keluar dari rumah sakit. Tak sengaja, seorang wanita menabrak tubuh Meidina.


Awwww


Meidina terkena perut nya, dan wanita tersebut langsung mengambil tas nya yang terjatuh.


"Maaf, maaf nggak sengaja. " Ucap wanita berhijab lebar.


"Iya tidak apa - apa. " Ucap Meidina sambil memegang perut nya.


"Apa mba tidak apa - apa? "


"Tidak apa - apa. " Ucap Meidina.


Meidina dan Mami Rosa lalu melanjutkan langkah nya, dan wanita tersebut terus menatap dengan rasa bersalah.


Kedua mata nya tertuju, pada tangan yang memegang pinggang nya, mungkin karena saking keras nya tertabrak oleh dirinya karena terburu - buru.


"Ya Allah, apa dia Sahara. "


Umi Rosa tak tinggal diam, dan langsung masuk kedalam taksi berikut nya yang sedang berada di parkiran rumah sakit, setelah menurunkan seorang penumpang.


"Pak, tolong ikuti taksi di depan. "


"Baik Bu. "


"Ya Allah, kenapa saya tiba - tiba penasaran dengan wanita tadi. Tanda hitam, di punggung tangan nya itu, persis milik Sahara."


Umi Sarah langsung menghubungi suami nya, dan panggilan pun langsung terangkat.


"Assalamu'alaikum Bang, ada berita penting. "


"Walaikumsalam, berita apa Umi? "


"Bang,tadi saya di rumah sakit, menabrak seorang wanita tidak sengaja. Ini saya sedang mengejarnya. "


"Menabrak gimana Umi? " Tanya Abi Mulia panik.


"Wanita itu, seperti Sahara. Umi yakin itu Sahara, dari punggung tangan nya ada tanda hitam." Jawab Umi Sarah.


"Umi, yang memiliki tanda hitam itu tidak Sahara saja, pasti ada Umi. Sekarang Umi, kembali ke rumah sakit. Lanjut untuk chek up kesehatan Umi. "


"Tapi Bang, rasa nya benar - benar yakin. "


"Umi, stop. Sekarang kata Abi kembali, harus kembali. "

__ADS_1


"Iya Bang, Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam."


"Pak, putar balik ke rumah sakit. "


*****


Meidina membuat rujak mangga, dengan cabai kering dan gula pasir. Sambil menonton televisi, Meidina sangat menikmati nya.


"Mei, kamu belum makan loh. " Ucap Mami Rosa.


"Lagi pengen makan rujak Mam. "


Mami Rosa mengusap perut nya, senyum terpancar di wajah Mami Rosa.


"Mami, memang belum pernah melahirkan tapi Mami pernah merasakan hamil. Mami memiliki suami, tapi dia meninggalkan Mami."


"Kenapa dengan kandungan Mami? "


"Mami kecelakaan, hingga membuat Mami kehilangan calon anak Mami, bahkan rahim Mami harus di angkat. "


"Mami." Meidina memeluk Mami Rosa.


"Makan nya, Mami bilang biar Mami yang rawat. Mami akan anggap anak kamu, seperti anak Mami. Begitu juga, saat menemukan kamu. Mami tersentuh, Mami juga seorang ibu. "


"Meidina bingung, bagaimana ke depan nya Mami. Apa yang harus saya katakan suatu saat nanti, saya ingin cukup saya saja, tapi takdir berkata lain. "


"Saya akan menanggung biaya anak kamu."


Meidina dan Mami Rosa menoleh , ke arah sumber suara. Bagas mendekat dan duduk di depan mereka.


"Saya akan menanggung semua nya, anak kamu adalah anak saya. "


"Maksudnya? "


"Abang akan menanggung semua nya, kamu jangan khawatir. "


"Bang, bukan masalah materi. Tapi bagaimana anak saya nanti. Ibu nya wanita malam, anak nya tidak jelas siapa bapak nya. Bukan materi Bang, kalau Materi saya mampu bekerja. Tapi bukan masalah kasih makan dari uang haram atau halal Bang, saya memikirkan status nya. Saya takut dia akan membenci saya, dan takut tanggapan masyarakat bagaimana dengan anak saya nanti. Itu Bang, yang saya sedang pikirkan. "


"Saya akan angkat anak kamu. "


"Nggak Bang, jangan. "


"Abang akan angkat anak kamu nanti. "


****


"Nggak Bang, nggak. Saya nggak mau, saya tidak mau Abang mengangkat anak dari Meidina. "


"Apa karena anak dari hasil rame - rame? atau kamu takut saya lebih menyayangi ke Meidina? "


"Iya, saya hanya ingin Abang putus hubungan dengan Meidina bukan malah melanjutkan nya. Kalau Abang ingin anak, saya juga bisa Bang, tunggu saja. "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2