
Mmmppphhhhh...
Di bawah bantal, Umi Sarah terus berusaha melawan, hingga tenaga nya semakin berkurang. Daus terus menekan, hingga tenaga Umi Sarah tidak bergerak lagi.
Hahahahaha...
"Akhirnya kamu, berhasil saya habisi nyawa kamu. "
Buuugghhhh..
Aaaarrrrggghh..
Umi Sarah memukul kepala Daus, dengan sebuah balok kayu, hingga tersungkur. Darah mengalir dari kepala nya.
Aaaarrrrggghh...
"Kamu jahat Daus...!!! "Ucap Umi Salmah.
" Sarah, bangun Sarah...!! " Umi Salmah mencoba terus membangun kan, Umi Sarah
"Sarah Bangun...!!! " Umi Salmah mencoba membangun kan nya.
Umi Salmah , mengecek nadi Umi Sarah, hang masih terasa namun pelan.
Aaaaaaaa
Buuuuggghhh
"Aaarrrggghhh Daus. "Ucap Umi Salmah tersungkur di samping tubuh Umi Salmah
" Saat Daus, memukul punggung kakak nya dengan sebuah balok kayu, yang di bawa oleh Umi Sarah untuk memukul Daus.
"Da - Daus, kamu tega sama kakak kamu sendiri. "
"Kakak macam apa, adik yang berusaha membela, kakak nya yang di madu. Tapi malah sekarang, membela wanita pelakor itu. Saya seperti ini demi Kakak karena saya pun mencintai Sarah, karena dia, adalah yang membuat kakak sakit hati,begitu juga saya sakit hati,karena Sarah di nikahi oleh Kakak ipar saya sendiri."
"Kamu salah Daus, kakak sudah menerima nya. Jadi selama ini, kamu yang culik Sahara."
"Iya benar, dan sekarang Sahara pasti sudah meninggal, hahahaha.. karena rumah dia, saya bakar. "
"Daus..!!! kamu benar - benar jahat. " ucap Umi Sarah berusaha bangun, namun Daus memukul kepala Umi Sarah.
Buuuggghh....
Buuuuggghhh..
Umi Sarah tak bergerak, darah segar mengalir dari kepala nya, dan Daus pun memukul kepala Umi Sarah hingga darah segar pun keluar banyak.
Hahahahaha..
"Hiks.. hiks.. maafkan saya, maafkan. Hiks.. hiks.. saya tidak mau kakak terus tersiksa, lebih baik kakak pergi untuk selama nya, dari pada terus sakit hati. Dan kamu Sarah, selamat jalan, kamu tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan anak kamu, dan Kak Salmah, kakak sudah tidak merasakan sakit hati lagi, tidak terbagi lagi cinta nya.
Daus, berjalan ke arah jendela kamar Umi Sarah, membuka jendela kamar nya, dengan menoleh ke arah kedua wanita yang Yang Daus habisi.
" Maafkan saya, maafkan ini lebih baik. Dari pada, saya melihat kakak sendiri yang di madu, dan saya tidak kuat melihat wanita yang saya cintai bahagia dengan kakak ipar saya. "
Daus memejamkan matanya, dan dengan membalikkan tubuh nya menghadap ke arah kedua tubuh yang bersimbah darah menjatuh kan diri nya dari ketinggian 15 meter.
__ADS_1
Buuuuggghhh
Daus terjatuh, kepala nya membentur pot besar hingga pecah, dengan mata terbuka dan darah keluar dari telinga, hidung dan mulut.
****
Semua orang terus berusaha memadamkan api, Bagas yang sengaja ingin ke rumah Meidina bersama Anisah, kaget yang luar biasa melihat si jago merah yang sudah menjalar kemana - mana.
"Mami, Kenapa bisa kebakaran? " Tanya Bagas panik.
"Mami tidak tahu. " Jawab Mami Rosa yang masih begitu sangat panik.
"Mei mana? "
"Meidina di dalam Bagas, api nya besar tidak bisa untuk masuk. "
Bagas merebut ember yang di bawa salah satu warga, Bagas menyiram kan tubuh nya, dengan beberapa ember.
"Mas, jangan Mas. Api besar. " Ucap Anisah mencegah.
"Meidina di dalam, dia bisa terpanggang didalam. "
"Tapi Mas. "
Bagas langsung berlari masuk, orang - orang berusaha mencegah nya, tapi Bagas memaksa masuk.
"Uhuk... uhuk.. Meidina. " Panggil Bagas, dengan menghindar dari runtuhan kayu dan api yang menyala besar.
"Meidina...!!! "
Bagas berusaha untuk masuk, kedalam kamar Meidina, namun pintu terhalang kayu besar.
"Mei, bangun Mei. " Ucap Bagas berusaha mengangkat tubuh Meidina.
"Bang, uhuk.. uhuk.. " Ucap Meidina pelan.
"Kita cepat keluar dari sini. " Ucap Bagas, membantu Meidina bangun.
Aaaaaaaaa
"Abang....!!! "
Punggung Bagas, tertimpa balok kayu, yang runtuh. Meidina berusaha menyingkirkan balok kayu tersebut.
Aaaarrrrggghh
"Kamu pergi Mei. "
"Nggak Bang, Kita keluar sama - sama. "
Aaaarrrrggghh
"Kamu cepat pergi, dari sini. "
"Nggak Bang, nggak. Kita keluar sama - sama." Ucap Meidina membantu mengangkat tubuh Bagas.
Sedangkan di luar, Anisah dan Mami Rosa menunggu Bagas dan Meidina keluar, tak lama Meidina memapah Bagas. Dan di bantu orang - orang, Meidina dan Bagas langsung di berikan pertolongan pertama.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mei. " Mami Rosa langsung berlari mendekat.
"Mas...!!! Anisah langsung berlari ke arah Bagas.
****
Abi Mulia hanya bisa menatap kedua wanita yang sudah terbujur kaku, dan Jenazah Daus yang yang sudah terbungkus.
Alif pun datang ke tempat kejadian, dan beberapa kali menghubungi Bagas adik nya. Abi Mulia, tidak berhenti menangis melihat kejadian setragis ini.
" Pak, seperti nya korban kedua wanita ini di habisi dengan sengaja. Terbukti dari balok kayu, yang ada bekas darah nya. Dan pelaku orang terdekat, kami masih menyelidiki motif nya, dan berupa sidik jari sudah kami temukan, pelaku nya adalah korban itu sendiri."Ucap Bayu menjelaskan.
"Maksud nya? diantar ketiga nya? " Ucap Alif.
"Benar, pelakunya nya, adalah Almarhum Pak Daus sendiri, dari sidik jari yang sama dengan bekas sidik jari di balok kayu itu. "
"Ya Allah, ada apa sebenarnya ini. "
****
Anisah, membaca rentetan pesan, dan langsung terduduk lemas, Mami Rosa langsung menanyakan kondisi Anisah.
"Kenapa Anisah? " Tanya Mami Rosa.
Anisah memberikan, ponsel nya, dan membaca sebuah pesan, dan isi pesan tersebut, membuat kaget Mami Rosa dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Umi....!!! " Teriak Anisah.
*****
Bagas, dengan tubuh yang terluka di bagian punggung, memaksa untuk pulang, menghadiri pemakaman kedua mertua nya dan Jenazah Pak Daus yang akan di makam kan.
Anisah terus menangis di pelukan Bagas, sedangkan Meidina hanya diam, menatap wanita yang mengaku ibu nya kini telah terbungkus kain warna putih.
"Nak, ikhlas ya. " Ucap Mami Rosa.
"Wanita yang baru kemarin saya kenal, mengaku ibu saya, bahkan hasil tes DNA pun belum juga keluar. Kalau benar, dia itu umi saya. Berarti, saya hanya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, hanya sebentar. Bahkan, hanya sekali merasakan rasanya di peluk oleh ibu kandung sendiri."
"Kamu yang ikhlas ya, ada Mami yang masih ada untuk kamu. " Ucap Mami Rosa.
Hiks.. hiks...
"Umi.. !!! Hiks.. hiks.. " Anisah terus menangis, hingga pingsan.
Bagas dengan menahan sakit, di paksakan untuk membawa Anisah masuk kedalam kamar nya.
Meidina hanya bisa menatap, pemandangan yang diri nya lihat. Abu Mulia, mendekati Meidina dengan mata berkaca - kaca.
"Meidina." Panggil Ab Mulia.
Meidina menoleh, dan hanya menatap biasa saja ke arah Abi Mulia.
"Sahara..!! " Abi Mulia memanggilnya
"Abi..!! "
.
__ADS_1
.
.