Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Hanya Om - Om Berdasi


__ADS_3

"Hi.. " Sapa Meidina


"Saya ini, dari kemarin ingin sekali di temani kamu, kita bisa chek in hotel sekarang? " Tanya Seorang pria bernama Raju.


"Santai dulu lah, masih sore kita minum dan nikmati rokok. " Jawab Meidina sambil menyalakan rokok nya.


"Kamu kenapa sih? Selalu memilih orang yang ingin bawa kamu, apa kamu nggak level pria seperti saya? "


"Berani berapa kamu? karena kamu beda kelas sama mereka. Bagi saya, yang mau silahkan yang tidak juga nggak apa - apa. "


"Wanita tuna Susila seperti kamu, tidak pantas memilih, kalau kamu sendiri ini barang yang di over sana, over sini. "


"Dari penghasilan, menemani minum saja sudah cukup, karena itu hanya sampingan , makan nya saya pilih - pilih. Kamu berani bayar berapa ke saya? saya akan temani kamu, bila harga sesuai. " Ucap Meidina.


"500 ribu, temani saya minum. "


"Hanya minum, kalau mau lebih saya kasih 5 juta khusus untuk kamu. " Ucap nya lagi.


"Benar ya, kalau saya punya uang 5 juta, saya pakai kamu. "


"Ok deal. " Ucap mereka bersalaman.


Raju merangkul Meidina, kadang mengusap paha mulus nya, bahkan tangan nya tak henti menjelajahi punggung Meidina.


"Kamu sudah mabuk, bahkan kamu s****nge sama saya. " Ucap Meidina.


"Ayolah, saya naikan kamu jadi 1 juta. " Ucap Raju.


"No, saya tidak jual harga segitu. "


Saat itu juga, Meidina meninggal kan Raju yang sudah mabuk berat, dan Meidina meminta untuk kedua anak buah Mami Rosa untuk membawa Raju keluar, dari Club.


Namun saat Meidina sedang bergoyang ikuti irama musik yang di mainkan DJ, mata nya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di salah satu sudut meja.


Meidina berjalan dan langsung menatap ke arah pria tersebut, yang kini menatap nya.


"Pak Polisi. "


Bagas hanya menganggukkan kepala nya, dan mengalihkan padangan nya pada yang lain.


"Bapak ngapain kesini? mau saya temani minum? "


"Saya tidak suka minum yang kamu maksud, haram buat saya minuman itu. "Ucap Bagas, dan di senyumi oleh Meidina.


" Kenapa kamu kemari? " Meidina menghembuskan asap rokok ke wajah Bagas.


"Apa tidak boleh saya kemari?"


"Boleh, siapa saja boleh kemari, tapi kamu sedang tidak menyamar kan? "

__ADS_1


"Tidak, saya ingin main saja. "


"Hahahahahaha... main, kamu tadi bilang. main? Apa seorang Ustadz pantas main ke Club? baru kali ini ada orang suci menginjak kan kaki nya kesini, atau jangan - jangan polisi dan ustadz adalah hanya sebagai topeng. "


"Terserah kamu mau bilang apa, saya hanya ingin bertanya, kenapa kamu pergi saat waktu shalat Maghrib? kenapa kamu pergi begitu saja, seperti orang ketakutan. "


"Saya tidak takut, hanya saja Malu. "


"Malu kenapa? "


"Saya tidak tahu cara nya shalat dan ambil air wudhu. "


Bagas tersenyum dan terus menatap ke lain arah, sedang kan Meidina langsung mematikan puntung rokok nya.


"Tolong, kamu jangan datang kesini lagi, kalau hanya untuk menemui saya, selain pekerjaan. Tidak pantas, orang suci seperti kamu datang ke tempat penuh maksiat ini. "


"Saya hanya ingin, tahu lebih dalam dunia malam kamu. "


"Saya malu, saya orang kotor. " Ucap Meidina langsung berdiri.


****


Meidina berjalan sempoyongan, dan memasukkan kunci motor nya, namun jatuh. Kembali lagi memasukan kuncinya namun tidak masuk - masuk.


Sebuah tangan memasukan kunci motor, dan Meidina menatap pria yang di samping nya, yang telah memasukan kunci motor nya.


"Kamu kenapa masih disini? "


"Saya hanya ingin kasih ini ke kamu. " Ucap Bagas memberikan sebuah paper bag.


"Bukalah saat sudah di rumah. " Ucap Bagas langsung pergi dan naik ke atas motor nya.


"Hati - hati, saya tidak mau mendengar kabar, ada laka lantas meninggal dunia. " Ucap Bagas kembali, dan hanya membuat Meidina tertegun.


******


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


"Umi." Sapa Anisah langsung mencium punggung tangan Umi Aminah.


"Anisah bawakan ini buat disini. " Anisah memberikan rantang pada Umi Aminah.


"Apa ini? "


"Anisah masak buat Abi, Umi sama Mas Bagas. "


"Makasih ya, kebetulan Bagas belum berangkat. "

__ADS_1


Anisah pun duduk di sofa tamu, sedangkan Umi Aminah menggantikan tempat untuk aneka lauk yang di beri dari Anisah.


"Kita sarapan sama - sama. "


"Makasih Umi, saya mau langsung berangkat kuliah. "


"Dek, berangkat sama Mas saja. " Ucap Bagas yang baru keluar dari kamar nya.


"Mas kebetulan bawa mobil. "Ucap Bagas.


" Nggak usah Mas, makasih. "


"Kalian kan searah, benar apa kata Bagas. Berangkat sama - sama saja. "Ucap Umi Aminah.


Anisah menganggukkan kepala nya, dan lalu segera bangun dari duduk nya, sebelum pamit Bagas dan Anisah mencium punggung tangan Umi Aminah.


******


" Mas, nanti kalau kita sudah nikah, tinggal dimana? "


"Adek mau dimana? Mas sih terserah Adek. "


"Anisah apa kata Mas, kan suami yang mengendalikan semua nya, sebagai seorang istri harus nurut sama keputusan suami."


"Mas sih ingin tinggal di rumah sendiri, ada rumah milik Mas, tapi masih dekat sama pesantren, biar Mas dekat, untuk mengajar mengaji anak - anak. "


"Anisah nanti , boleh mengajar mereka mengaji? "


"Jelas boleh lah, siapa yang nggak boleh."


Mobil pun sampai di depan kampus milik Anisah, namun saat sedang memarkirkan mobil, Bagas dan Anisah melihat Meidina.


Terlihat, ada beberapa Mahasiswi yang seperti membicarakan, dengan sengaja menatap sambil berbisik ke arah Meidina. Bahkan ada juga, yang menggoda nya.


Bagas dan Anisah turun, mendengar seperti suara sorakan teman - teman nya yang lewat, namun ada juga yang cuek.


"Namanya Meidina, dia salah satu Mahasiswi spesial, dia pintar, namun dia tidak memiliki teman, dia sengaja menjauh, karena dia wanita malam yang kuliah disini, identitas nya di ketahui, saat ada mahasiswa yang melihat nya bekerja di salah satu Club, bahkan ada yang bilang, dia booking nya para om - om berdasi. Dia jujur, katanya kenapa? saya nggak munafik. "


Bagas hanya diam menatap Meidina, dan langsung mengalihkan pandangan nya, agar tidak terlalu lama menatap nya.


"Saya mencoba mendekati nya, karena saya kasihan melihatnya. Saya ingin, dia bertaubat Mas, saya akan dekati dia pelan - pelan, dia teman saya. "


"Mas pamit, Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam."


.


.

__ADS_1


__ADS_2